Penampilan Tarian Otentik Kayan Umaq Lekan. Foto: Dewi/Pro Kutim
KOMBENG – Kekayaan budaya masyarakat Dayak Kayan kembali mendapat ruang utama dalam Festival Budaya UFAH 2026 yang digelar di Taman Desa Miau Baru, Kecamatan Kongbeng, Minggu (9/8/2026). Salah satu rangkaian yang menjadi perhatian adalah penampilan sembilan jenis tarian otentik Kayan Umaq Lekan, yang tidak hanya menyuguhkan keindahan gerak dan busana tradisional, tetapi juga menyampaikan nilai sejarah, kehidupan sosial, rasa syukur, serta hubungan masyarakat dengan alam dan leluhur.
Festival Budaya UFAH memang kembali digelar di Desa Miau Baru pada Minggu, (9/8/2026) dengan menampilkan tradisi dan kesenian masyarakat Dayak Kayan.
Penampilan sembilan tarian tersebut menjadi bagian penting dalam upaya memperkenalkan sekaligus menjaga keberlanjutan warisan budaya leluhur. Berdasarkan sinopsis pertunjukan, setiap tarian memiliki makna yang saling berkaitan dan menggambarkan perjalanan kehidupan masyarakat, mulai dari ungkapan syukur, kegembiraan atas keberhasilan, kehidupan berladang, hingga harapan akan kemakmuran, perdamaian, dan persatuan.


Rangkaian tarian itu terdiri atas Tarian Hudog Aruq atau Bateang Bu-eang, Tarian/Hifan Sau, Tarian/Hifan Seang, Tarian Jat Alat, Tarian Hudog Kitaq, Tarian Hudog Kuhau, Tarian Hudog Kap/Kusap Nga-eang, Tarian Tingeang Urip (Enggang), serta Tarian Manuk Inuq.
Penampilan dibuka dengan Tarian Hudog Aruq, yang juga disebut Bateang Bu-eang. Tarian ini merupakan bentuk ungkapan rasa syukur yang dipersembahkan kepada roh leluhur atas limpahan berkat yang diterima masyarakat selama satu musim.
Makna tersebut memperlihatkan bagaimana kehidupan masyarakat Kayan sejak dahulu tidak terlepas dari siklus alam, hasil kehidupan, serta penghormatan kepada leluhur. Syukur tidak hanya diwujudkan melalui kata-kata, tetapi juga melalui gerak, musik, dan tari yang diwariskan dari generasi ke generasi.


Selanjutnya, Tarian/Hifan Sau dibawakan oleh kaum pria sebagai ungkapan kegembiraan dalam merayakan kemenangan di medan perang. Dalam konteks kehidupan masyarakat masa kini, makna kemenangan tersebut dimaknai lebih luas sebagai keberhasilan dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan.
Dengan demikian, tarian tidak berhenti pada penggambaran masa lalu. Nilai yang terkandung di dalamnya terus diberikan makna sesuai dengan kehidupan masyarakat saat ini.
Berpasangan dengan Hifan Sau, tampil Tarian/Hifan Seang yang dibawakan oleh kaum wanita. Tarian ini juga menjadi bagian dari ungkapan kegembiraan atas kemenangan dan biasanya ditampilkan dalam rangkaian upacara adat seperti Mamat/Lakin Ayau.
Kehadiran kedua tarian tersebut memperlihatkan adanya keterkaitan antara peran laki-laki dan perempuan dalam tradisi masyarakat Kayan. Keduanya menjadi satu kesatuan dalam menggambarkan kegembiraan, kebersamaan, dan penghormatan terhadap tradisi.


Tarian berikutnya adalah Tarian Jat Alat, yang berkaitan erat dengan siklus kehidupan masyarakat setelah masa panen.
Tarian tersebut ditampilkan dalam acara syukuran pesta pascapanen yang dikenal sebagai Ka-uh Tupuh Duman Lebau. Momentum tersebut menandai berakhirnya masa berkabung atau lumuh dan menjadi pertanda masyarakat memasuki kembali kehidupan normal dengan suasana penuh sukacita.
Pesan yang terkandung di dalamnya menunjukkan bahwa tradisi masyarakat Kayan memiliki rangkaian nilai yang saling berhubungan. Setelah melewati masa tertentu, masyarakat kembali membangun kehidupan bersama, merayakan keberhasilan, serta mempersiapkan diri menghadapi tahapan kehidupan berikutnya.


Sementara itu, Tarian Hudog Kitaq merepresentasikan kehadiran sang dewi padi yang dipercaya berperan dalam menumbuhkan dan menyuburkan padi di ladang masyarakat.
Tarian ini menjadi gambaran kuat mengenai hubungan masyarakat dengan pertanian. Padi tidak semata-mata dipandang sebagai hasil produksi, tetapi juga memiliki kedudukan penting dalam kehidupan dan kebudayaan masyarakat yang menggantungkan sebagian kehidupannya pada hasil ladang.
Berikutnya terdapat Tarian Hudog Kuhau yang biasanya dibawakan setelah musim menugal atau ketika tanaman padi memasuki masa pertumbuhan dan perawatan.
Dalam sinopsis pertunjukan, Hudog Kuhau memiliki tujuan untuk menghalau berbagai jenis hama dan penyakit tanaman. Makna tersebut menggambarkan pengetahuan tradisional masyarakat dalam menjaga tanaman serta harapan agar ladang dapat tumbuh dengan baik dan memberikan hasil bagi kehidupan bersama.
Tradisi seperti ini menunjukkan bahwa kesenian masyarakat adat tidak berdiri sendiri. Gerak tari, upacara, pertanian, lingkungan, serta kehidupan sosial terhubung dalam satu rangkaian pengetahuan yang diwariskan secara turun-temurun.
Hal itu pula yang membuat penampilan sembilan tarian dalam Festival Budaya UFAH 2026 tidak sekadar menjadi hiburan bagi masyarakat dan pengunjung. Di balik setiap gerakan terdapat cerita tentang cara masyarakat memahami kehidupan, alam, dan hubungan antarmanusia.
Tarian Hudog Kap atau Kusap Nga-eang juga memiliki makna tersendiri. Tarian ini menggunakan aksesori berupa topeng yang dibuat dari kulit kayu trap untuk menutupi wajah penari sebagai tanda berkabung.
Dalam pertunjukannya, jumlah penari minimal 10 orang wanita. Tarian tersebut ditampilkan pada momentum tertentu, antara lain ketika seorang pahlawan gugur atau ketika terdapat warga yang meninggal dunia.
Kehadiran tarian ini memperlihatkan bagaimana masyarakat Kayan menempatkan penghormatan kepada orang yang telah meninggal sebagai bagian penting dari kehidupan adat. Kesedihan dan penghormatan tidak hanya disampaikan melalui prosesi, tetapi juga melalui seni pertunjukan yang memiliki aturan dan simbol tersendiri.
Nilai tersebut menjadi bagian dari identitas budaya yang terus dipelihara di tengah perkembangan zaman.
Rangkaian kemudian dilanjutkan dengan Tarian Tingeang Urip atau Enggang. Tarian ini melambangkan kebesaran, kemuliaan, perdamaian, dan persatuan. Burung enggang sendiri memiliki posisi penting dalam berbagai representasi budaya masyarakat Dayak dan kerap hadir sebagai simbol yang berkaitan dengan nilai-nilai luhur.
Melalui tarian tersebut, pesan tentang persatuan menjadi semakin relevan dalam kehidupan masyarakat saat ini. Festival budaya bukan hanya menjadi tempat untuk mengenang masa lalu, tetapi juga menjadi ruang untuk memperkuat kebersamaan masyarakat.
Di tengah keberagaman dan perubahan zaman, nilai persatuan menjadi salah satu warisan yang tetap penting untuk diteruskan.
Sebagai bagian terakhir dari sembilan tarian, Tarian Manuk Inuq menggambarkan kehidupan yang makmur dan berlimpahan.
Makna tersebut sekaligus menjadi penutup yang memperlihatkan hubungan antara seluruh rangkaian tarian. Dimulai dari ungkapan syukur, kemenangan, kehidupan setelah masa berkabung, pertanian, perlindungan tanaman, penghormatan terhadap leluhur, perdamaian dan persatuan, hingga harapan akan kehidupan yang makmur.
Kesembilan tarian itu pada akhirnya membentuk sebuah cerita budaya yang utuh tentang kehidupan masyarakat Kayan.
Penampilan sembilan tarian otentik Kayan Umaq Lekan di Taman Desa Miau Baru menjadi salah satu gambaran nyata bahwa kebudayaan tidak hanya disimpan sebagai peninggalan masa lalu, tetapi harus terus dihidupkan melalui praktik dan pewarisan kepada generasi muda.
Desa Miau Baru sendiri dikenal sebagai salah satu kawasan di Kutim yang masih mempertahankan berbagai tradisi budaya Dayak, termasuk bangunan tradisional, kerajinan, tarian, serta sejumlah aturan dan upacara adat.
Festival Budaya UFAH pun telah menjadi bagian dari ruang pelestarian budaya di wilayah tersebut. Pada penyelenggaraan sebelumnya, penampilan sembilan tari otentik Kayan Umaq Lekan juga menjadi salah satu bagian utama festival di Miau Baru.
Karena itu, pertunjukan pada Festival Budaya UFAH 2026 memiliki arti lebih dari sekadar panggung kesenian. Setiap tarian menjadi media untuk menyampaikan pesan leluhur kepada generasi sekarang bahwa identitas budaya harus dijaga meskipun kehidupan terus bergerak mengikuti perkembangan zaman.
Sembilan tarian tersebut menjadi satu rangkaian yang menggambarkan perjalanan kehidupan masyarakat Kayan tentang syukur, keberanian, kebersamaan, alam, duka, persatuan, dan kemakmuran. Dari gerak para penari, warisan leluhur kembali menemukan ruang untuk hidup dan dikenali oleh generasi penerus.
Melalui Festival Budaya UFAH 2026, Taman Desa Miau Baru bukan hanya menjadi tempat pertunjukan, tetapi juga menjadi ruang pertemuan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan kebudayaan Kayan. Warisan yang dahulu tumbuh dari kehidupan masyarakat kini ditampilkan kembali agar tidak lekang oleh waktu dan tetap menjadi bagian dari identitas masyarakat Miau Baru serta kekayaan budaya Kabupaten Kutim.(kopi15/kopi13/kopi3)











