Widget Gambar

Festival UFAH Jadi Berkah Bu Long Raup Omzet hingga Rp 5 Juta Sehari

Festival UFAH Jadi Berkah Bu Long Raup Omzet hingga Rp 5 Juta Sehari
kopi 15
Memuat tombol bagikan...

Bu Long ditemui Pro Kutim dalam Festival UFAH. Foto: Dewi/Pro Kutim

KOMBENG – Festival UFAH 2026 tidak hanya menjadi ruang untuk menampilkan kekayaan budaya dan tradisi masyarakat, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi warga yang turut ambil bagian sebagai pelaku usaha. Salah satunya Bu Long, yang memanfaatkan momentum festival dengan menjajakan pakaian adat Dayak dan beragam kerajinan tangan kepada para pengunjung.

Festival yang berlangsung di Taman Desa Miau Baru, Kecamatan Kombeng, Kabupaten Kutai Timur (Kutim) tersebut menjadi kesempatan bagi Bu Long untuk memperkenalkan sekaligus memasarkan berbagai produk yang selama ini dijualnya kepada masyarakat.

Bu Long mengatakan, keikutsertaannya sebagai tenan dalam Festival UFAH 2026 merupakan bagian dari upaya memeriahkan kegiatan sekaligus mencari peluang pendapatan dari meningkatnya aktivitas masyarakat selama festival berlangsung.

Untuk mengikuti kegiatan tersebut, para pedagang dikenakan pungutan dengan nominal yang disebut Bu Long tidak terlalu besar.

“Dipungut juga sedikit,” ujar Bu Long saat ditemui di lokasi Festival UFAH 2026, Minggu (9/8/2026).

Berbagai produk khas Dayak menjadi dagangan yang dibawa Bu Long. Barang-barang tersebut tidak hanya berupa pakaian, tetapi juga sejumlah aksesori dan kerajinan yang memiliki keterkaitan dengan budaya masyarakat Dayak.

Di antara produk yang dijual terdapat baju Dayak Cawas, topi, kalung, parang baru, rumpi-rumpi, anjat, hingga berbagai jenis tas. Sebagian tas tersebut juga berisi pakaian yang turut ditawarkan kepada pengunjung.

Keberagaman barang dagangan itu membuat lapak Bu Long menjadi salah satu bagian dari aktivitas ekonomi yang ikut mewarnai Festival UFAH 2026. Di tengah kemeriahan pertunjukan dan kegiatan budaya, transaksi jual beli berlangsung sebagai bentuk lain dari partisipasi masyarakat dalam menyukseskan festival.

Bu Long mengungkapkan, pendapatan dari hasil penjualan tidak selalu sama setiap harinya. Besarnya omzet bergantung pada jumlah pembeli dan situasi penjualan.

Dalam kondisi tertentu, pendapatannya di rumah dapat mencapai sekitar Rp 1 juta dalam sehari, bahkan bisa lebih. Namun, ketika momentum festival menghadirkan lebih banyak pengunjung, peluang penjualan menjadi semakin terbuka.

Ia menyebut omzet yang diperoleh dalam sehari dapat mencapai Rp 2 juta hingga Rp 3 juta. Bahkan, dalam kondisi penjualan yang ramai, pendapatannya dapat menyentuh Rp 5 juta hanya dalam satu hari.

“Tidak tentu juga. Ada satu juta kalau di rumah, kadang begitu, kadang lebih juga. Ada yang Rp2 juta, Rp 3 juta, ada juga sampai Rp 5 juta kalau ini baru satu hari,” katanya.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kegiatan festival dapat memberikan dampak ekonomi secara langsung bagi masyarakat yang mengambil bagian sebagai pedagang maupun pelaku usaha.

Festival bukan sekadar panggung bagi kebudayaan untuk ditampilkan, tetapi juga menjadi ruang pertemuan antara produk masyarakat dengan calon pembeli. Keramaian pengunjung menjadi peluang yang dapat dimanfaatkan para tenan untuk meningkatkan penjualan.

Menurut Bu Long, antusiasme masyarakat untuk berbelanja cukup terasa selama festival berlangsung. Kondisi tersebut berbeda dengan aktivitas penjualan pada hari-hari biasa ketika pembeli tidak selalu datang dalam jumlah banyak.

“Kalau waktu yang begini ada yang beli, ramai. Kalau di rumah kadang-kadang begitu, ada tidak,” tuturnya.

Keramaian festival membuat peluang transaksi menjadi lebih besar. Pengunjung yang datang tidak hanya menikmati rangkaian kegiatan, tetapi juga memiliki kesempatan untuk melihat dan membeli berbagai produk yang ditawarkan para tenan.

Bagi Bu Long, kondisi tersebut menjadi keuntungan tersendiri. Produk pakaian dan kerajinan khas Dayak yang dibawanya dapat langsung diperkenalkan kepada masyarakat yang hadir.

Selain memberikan manfaat ekonomi, keberadaan pedagang yang menawarkan produk budaya juga turut memperkuat suasana festival. Barang-barang yang dijual menjadi bagian dari upaya mengenalkan kekayaan budaya lokal dalam bentuk yang dapat digunakan maupun dibawa pulang oleh pengunjung.

Bu Long memastikan akan mengikuti Festival UFAH 2026 hingga seluruh rangkaian kegiatan selesai. Festival yang dimulainya pada Minggu (9/8/2026) tersebut berlangsung selama tiga hari.

Ia mengatakan, setelah hari pertama, lokasi berjualan para tenan akan berpindah ke area bawah kolong Lamin Aruq sesuai dengan pengaturan kegiatan.

“Ya, sampai selesai. Dari hari ini, tiga hari ke depan. Kami nanti pindah di bawah kolong,” ujarnya.

Keputusan untuk mengikuti festival hingga selesai menunjukkan besarnya harapan pelaku usaha terhadap peluang yang tersedia selama kegiatan berlangsung. Bagi pedagang, setiap hari festival merupakan kesempatan untuk bertemu lebih banyak calon pembeli dan memperluas pemasaran produk.

Kehadiran Bu Long bersama para tenan lainnya sekaligus memperlihatkan bahwa pelaksanaan Festival UFAH 2026 memiliki dimensi yang lebih luas. Di satu sisi, festival menjadi ruang pelestarian dan perayaan budaya. Di sisi lain, kegiatan tersebut menjadi etalase bagi produk masyarakat serta membuka perputaran ekonomi di tingkat lokal.

Produk seperti pakaian Dayak, anjat, aksesori, dan kerajinan lainnya tidak hanya memiliki nilai jual, tetapi juga membawa identitas budaya yang melekat di dalamnya. Ketika produk tersebut diperjualbelikan di tengah festival, tradisi dan ekonomi bertemu dalam satu ruang yang sama.

Bagi Bu Long, kesempatan berdagang selama Festival UFAH 2026 menjadi pengalaman sekaligus peluang yang patut dimanfaatkan. Tingginya antusiasme masyarakat selama festival memberikan gambaran bahwa kegiatan budaya dapat menciptakan ruang ekonomi bagi warga yang ikut berpartisipasi.

Dengan berlangsungnya festival selama tiga hari, para tenan masih memiliki kesempatan untuk menjangkau lebih banyak pengunjung. Harapannya, geliat transaksi tersebut tidak berhenti ketika festival berakhir, tetapi dapat membuka jalan bagi produk-produk lokal untuk dikenal lebih luas.

Festival UFAH 2026 pada akhirnya tidak hanya menghidupkan kembali semangat kebudayaan, tetapi juga menggerakkan roda ekonomi masyarakat. Di antara riuh kegiatan dan beragam atraksi budaya, lapak-lapak warga menjadi bagian penting yang menghadirkan denyut perdagangan sekaligus memperlihatkan bahwa pelestarian budaya dapat berjalan beriringan dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat.(kopi15/kopi13/kopi3)

Memuat tombol bagikan...