Wakil Bupati Kutim Mahyunadi menghadiri perayaan pesta adat Lom Plai 2026. Foto: Irfan
MUARA WAHAU – Terik panas matahari tepat berada di atas kepala saat tabuhan gendang dan petikan sampek mulai menggema di tepian sungai Desa Nehas Liah Bing Kecamatan Muara Wahau, Rabu (22/4/2026). Di tengah kerumunan masyarakat yang antusias, hadir Wakil Bupati Kutai Timur (Kutim) Mahyunadi mewakili Bupati Ardiansyah Sulaiman bersama Asisten Deputi Event Daerah Kemenpar RI Reza Pahlevi, serta Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Kaltim Ririn Sari Dewi, Plt Kepala Dispar Kutim Akmad Rifanie dan Staf Ahli Bupati Bidang Pemhukpol Yuriansyah menyaksikan sekelompok pemuda-pemudi Dayak Wehea yang menari dengan gemulai namun bertenaga di atas perahu yang bergoyang mengikuti arus sungai.
Itulah puncak perayaan Lom Plai, sebuah ritual adat sakral pasca-panen yang telah dijaga selama berabad-abad. Kehadiran Mahyunadi hari itu bukan sekadar urusan protokoler, melainkan bentuk penghormatan negara terhadap keteguhan masyarakat Wehea dalam menjaga identitas mereka.

Sebelum kemeriahan di sungai dimulai, langkah Mahyunadi disambut dengan suasana khidmat di Lapangan Sepak Bola Desa Nehas Liah Bing. Di sana, para tetua dan tokoh adat Dayak Wehea telah menanti. Dalam balutan pakaian adat yang sarat makna, para pemuka adat memimpin doa syukur kepada para leluhur.
Ritual ini merupakan inti dari Embob Jengea, sebuah ungkapan terima kasih atas melimpahnya panen padi dan permohonan perlindungan untuk musim tanam berikutnya. Mahyunadi tampak mengikuti prosesi dengan takzim, merasakan getaran spiritual yang menyatu dengan alam sekitarnya.
"Menghadiri Lom Plai selalu memberikan rasa damai. Ada koneksi yang dalam antara manusia, alam, dan Sang Pencipta yang dipraktikkan dengan begitu indah oleh saudara-saudara kita di Wehea," ujar Mahyunadi di sela-sela acara.

Sorak-sorai penonton pecah saat prosesi Sekseang dimulai. Ini adalah momen yang paling dinantikan. Puluhan perahu kayu yang dihias janur kuning hijau membelah sungai. Para pemuda desa menunjukkan ketangkasan luar biasa mereka berdiri tegak di atas perahu yang melaju cepat, memeragakan gerakan perang-perangan tradisional dengan penuh semangat.

Tak jauh dari situ, kelompok pemudi desa memberikan kontras yang manis. Di atas perahu yang berbeda, mereka membawakan tari penyambutan. Gerakan tangan yang luwes dan senyum yang merekah di balik hiasan kepala manik-manik menciptakan pemandangan yang estetik di atas riak air Sungai Wahau. Mahyunadi tak jarang memberikan tepuk tangan meriah, terkesima dengan keberanian dan keterampilan generasi muda Nehas Liah Bing.

Bagi Mahyunadi, keberlanjutan Lom Plai adalah harga mati. Ia menegaskan bahwa pemerintah daerah akan terus mendukung penuh agar tradisi ini tidak hanya dikenal di tingkat lokal, tetapi juga menjadi magnet pariwisata internasional.

"Apa yang kita lihat hari ini adalah kekayaan intelektual dan budaya yang tak ternilai. Pemuda-pemudi yang menari di atas perahu tadi adalah penjaga gawang kebudayaan kita. Tugas pemerintah adalah memastikan panggung mereka tetap ada dan semakin luas," tegasnya.
Perayaan pun perlahan berakhir. Namun, bagi masyarakat Nehas Liah Bing, kunjungan sang Wakil Bupati dan suksesnya acara hari itu menjadi pengingat bahwa selama padi masih tumbuh dan sungai masih mengalir, semangat Lom Plai akan tetap abadi di tanah Wehea.(kopi13/kopi3)











