Bupati Ardiansyah Sulaiman membuka Festival UFAH 2026 di Miau Baru. Foto: Dewi/Pro Kutim
KOMBENG — Bupati Kutai Timur (Kutim) Ardiansyah Sulaiman secara resmi membuka Festival Budaya UFAH 2026 di Taman Desa Miau Baru, Kecamatan Kombeng, Minggu (9/8/2026). Pembukaan yang berlangsung di Lamin Aruq tersebut ditandai dengan pemukulan gong sebanyak tiga kali.
Bupati Ardiansyah didampingi Wakil Bupati Kutim Mahyunadi, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), jajaran perangkat daerah, anggota DPRD Kutim, pemerintah kecamatan dan desa, tokoh adat, tokoh masyarakat, serta perwakilan perusahaan.
Festival UFAH 2026 merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun ke-55 Desa Miau Baru. Kegiatan ini menjadi ruang pertemuan masyarakat untuk merawat adat, seni, tradisi, serta memperkuat hubungan antarmasyarakat di tengah keberagaman Kutim.
Sejumlah pejabat dan tokoh turut hadir, di antaranya Ketua Umum Persatuan Dayak Kayan Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara Tan Irang, tokoh adat Kayan-Kenyah, unsur Majelis Adat Kutai, Camat Kombeng Petrus Ivung, para kepala desa, kepala adat, tokoh agama, tokoh masyarakat, Ketua TP PKK Kabupaten Kutim Siti Robiah Ardiansyah, serta pimpinan perusahaan yang beroperasi di sekitar wilayah tersebut.
Festival UFAH memiliki makna khusus bagi masyarakat Dayak Kayan. Tradisi tersebut merupakan warisan leluhur yang berkaitan dengan proses pembentukan dan pengkaderan calon pemimpin.

Ketua Umum Persatuan Dayak Kayan Kaltim-Kaltara Tan Irang menjelaskan, tradisi UFAH telah dikenal masyarakat Kayan sejak dahulu. Upacara tersebut menjadi bagian dari proses mempersiapkan anak laki-laki yang diharapkan kelak memiliki kemampuan dan karakter kepemimpinan.
"Dalam tradisi tersebut, anak laki-laki yang masih berusia sekitar satu hingga dua tahun menjadi bagian dari prosesi adat. Pelaksanaan UFAH dilakukan pada pagi hari dan memiliki harapan simbolis agar anak yang menjalani prosesi tumbuh menjadi pribadi yang berani, berkarisma, serta mampu menjadi pemimpin," sebutnya.
Kemudian, nilai tersebut kemudian dikaitkan dengan kehidupan masyarakat masa kini. Menurut Tan Irang, tantangan zaman tidak hanya menuntut generasi muda menjaga identitas budaya, tetapi juga memiliki pendidikan yang memadai.
"Pendidikan, menurutnya, merupakan salah satu instrumen penting untuk melahirkan pemimpin masa depan, baik di pemerintahan, politik maupun bidang pembangunan lainnya," tambahnya.

Karena itu, pemerintah daerah diharapkan terus memperkuat akses pendidikan bagi putra-putri Kayan, termasuk kesempatan menempuh pendidikan hingga jenjang diploma dan sarjana.
Sementara itu dalam sambutannya, Kades Miau Baru Luis Langet, juga menguraikan sejarah perjalanan masyarakat Kayan hingga menetap di Desa Miau Baru.
"Perpindahan masyarakat Kayan dari Apokayan, kawasan yang berada di wilayah perbatasan dengan Malaysia, dimulai pada 1964. Setelah melalui perjalanan panjang selama sekitar lima tahun menggunakan perahu dayung dan berjalan kaki, mereka tiba di wilayah Miau Baru pada 1969. Saat tiba, jumlah masyarakat yang tercatat sekitar 852 jiwa," urainya.
Perjalanan tersebut bukan sekadar perpindahan tempat tinggal, melainkan bagian dari sejarah terbentuknya komunitas yang kemudian berkembang menjadi Desa Miau Baru. Dari waktu ke waktu, desa tumbuh menjadi wilayah permukiman yang memiliki pemerintahan definitif serta masyarakat yang terus berkembang.
Untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat, saat ini terdapat upaya pemekaran wilayah menjadi Desa Miau Baru dan Miau Baru Utara. Proses pembentukan Miau Baru Utara masih berjalan dan diharapkan dapat terealisasi sesuai harapan masyarakat.

Kades Luis Langet, mengajak masyarakat Kayan di Kutai Timur untuk terus menjaga persatuan, persaudaraan dan rasa kekeluargaan. Masyarakat Kayan juga diharapkan mampu hidup berdampingan secara harmonis dengan berbagai etnis yang ada di Kutim.
“Adat, seni dan budaya warisan leluhur harus dijaga, dipelihara dan dilestarikan,” menjadi pesan penting yang disampaikan dalam kesempatan tersebut.
Pada saat yang sama, masyarakat Kayan didorong untuk terlibat aktif dalam pembangunan daerah dan bersinergi dengan pemerintah dalam menjalankan program-program pembangunan.
Senada, Bupati Ardiansyah Sulaiman dalam sambutannya menegaskan bahwa keberagaman adat dan budaya merupakan salah satu kekuatan utama Kutim.
Menurutnya, hampir seluruh suku, adat dan budaya dapat ditemukan di wilayah Kutim. Keragaman tersebut membuat adat dan budaya memiliki posisi penting dalam kehidupan sosial masyarakat sekaligus pembangunan daerah.

“Budaya adalah tolak ukur dan bangunan pertama dalam kerangka pembangunan Kutai Timur,” tegasnya.
Ardiansyah menilai kegiatan seperti Festival UFAH tidak semata-mata menjadi perayaan budaya. Lebih jauh, kegiatan tersebut menjadi sarana untuk memperkuat identitas masyarakat, mempererat persaudaraan dan memperkenalkan nilai-nilai luhur kepada generasi muda.
"Saya berharap festival budaya yang diselenggarakan di Miau Baru dapat menjadi agenda tahunan dan mendapat dukungan dari perangkat daerah terkait, termasuk sektor pariwisata dan pendidikan," paparnya.
Menurutnya, beberapa wilayah di Kutim juga telah mulai mengembangkan kegiatan adat dan budaya secara rutin. Selain Miau Baru, terdapat kegiatan budaya di Marukangan dan Desa Sekerat, Kecamatan Bengalon.
Tahun ini, Pemerintah Kabupaten Kutim juga berencana menggelar kegiatan yang berkaitan dengan adat Kutai untuk pertama kalinya di tingkat kabupaten.
“Adat dan budaya memiliki kontribusi besar dalam pembangunan Kutai Timur,” ujarnya.

Di hadapan masyarakat Miau Baru, Bupati Ardiansyah juga menyampaikan sejumlah program pemerintah daerah di bidang pendidikan.
Ia menyebut Kutim memiliki perguruan tinggi yang memberikan kesempatan pendidikan gratis bagi masyarakat. Di antaranya Sekolah Tinggi Agama Islam dan Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian (STIPER).
STIPER memiliki sejumlah bidang pendidikan, antara lain teknologi pertanian, perikanan, kehutanan dan pertambangan. Bupati mendorong anak-anak Kutim untuk memanfaatkan kesempatan tersebut karena pendaftaran mahasiswa baru masih terbuka.
Namun, menurutnya, minat anak-anak Kutim terhadap STIPER masih sekitar 30 persen. Kondisi tersebut menjadi perhatian pemerintah karena kesempatan pendidikan yang tersedia perlu diikuti dengan peningkatan minat masyarakat.

Pemerintah Kabupaten Kutim juga menjalankan program wajib belajar 13 tahun, mulai dari pendidikan anak usia dini hingga sekolah menengah atas.
Program peningkatan kualitas tenaga pendidik turut dilakukan. Sekitar 500 guru PAUD yang belum memiliki gelar sarjana sedang diberikan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan. Selain itu, sekitar 350 guru inklusi juga mendapat kesempatan mengikuti pendidikan untuk meningkatkan kompetensi.
Pemerintah daerah juga menjalin kerja sama pendidikan dengan Universitas Negeri Yogyakarta yang diikuti sekitar 300 mahasiswa asal Kutim.
Program-program tersebut, menurut Bupati, merupakan bagian dari investasi jangka panjang untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Kutim.
Dari sisi penyelenggaraan, Festival UFAH 2026 mendapat dukungan dari masyarakat, pemerintah desa, pemerintah kecamatan, perusahaan dan sejumlah pihak lainnya.

Ketua Panitia Arang Jau, melaporkan dana yang dihimpun untuk pelaksanaan kegiatan berasal dari sumbangan masyarakat, perusahaan, koperasi dan pihak lainnya. Jumlah dana sementara yang dilaporkan mencapai sekitar Rp 250 juta.
Dukungan tersebut menjadi salah satu gambaran kuatnya partisipasi masyarakat dalam menjaga keberlangsungan kegiatan adat dan budaya.
Persiapan festival juga berlangsung di tengah suasana duka yang dialami masyarakat desa. Panitia menyampaikan permohonan maaf atas sejumlah keterlambatan dalam persiapan dan penyambutan tamu karena masyarakat sedang berduka.
Meski demikian, kondisi tersebut tidak menyurutkan semangat masyarakat untuk tetap melaksanakan kegiatan.
Ia menyampaikan apresiasi kepada panitia, masyarakat, lembaga adat, pemerintah, perusahaan dan seluruh pihak yang telah membantu.
Karena keterbatasan anggaran, rumah panjang atau lamin Aruq dimanfaatkan sebagai bagian penting dari fasilitas kegiatan. Dukungan terhadap pemanfaatan rumah panjang tersebut juga menunjukkan bahwa ruang adat tidak hanya menjadi simbol sejarah, tetapi dapat menjadi bagian dari aktivitas kebudayaan masyarakat.
Festival Budaya UFAH dijadwalkan berlangsung hingga 12 Agustus 2026. Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan peringatan Hari Ulang Tahun Desa Miau Baru ke-55 hingga 17 Agustus 2026 dan dirangkaikan dengan perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.
Dalam rangkaian pembukaan, masyarakat juga menampilkan berbagai kesenian tradisional. Salah satunya Tarian Pubang yang dibawakan ibu-ibu perwakilan dari sejumlah RT di Desa Miau Baru.
Rangkaian tarian tersebut menjadi bagian dari upaya memperkenalkan seni tradisional kepada masyarakat sekaligus menjaga keberlanjutan budaya antargenerasi.
Camat Kombeng Petrus Ivung, menyampaikan apresiasi kepada masyarakat Miau Baru dan seluruh pihak yang terlibat dalam persiapan festival. Ia berharap dukungan dari pemerintah, DPRD, masyarakat dan perusahaan dapat terus diperkuat agar kegiatan UFAH dapat berkembang pada tahun-tahun berikutnya.
Ia juga menyampaikan ucapan selamat atas Hari Ulang Tahun ke-55 Desa Miau Baru yang diperingati pada 9 Agustus 2026.
Setelah rangkaian sambutan, Bupati Ardiansyah secara resmi membuka Festival Budaya UFAH 2026 dengan pemukulan gong sebanyak tiga kali. Prosesi tersebut didampingi Wakil Bupati Mahyunadi, unsur Forkopimda dan jajaran perangkat daerah.
Pembukaan itu menjadi penanda dimulainya rangkaian festival yang tidak hanya menghadirkan pertunjukan budaya, tetapi juga membawa pesan tentang identitas, persatuan, pendidikan dan pembangunan.
Festival UFAH menempatkan tradisi sebagai jembatan antara masa lalu dan masa depan. Nilai yang diwariskan leluhur tidak berhenti sebagai bagian dari seremoni, tetapi diharapkan menjadi pedoman bagi generasi muda untuk mengenali jati dirinya sekaligus mengambil peran dalam pembangunan.
Bagi masyarakat Miau Baru, perayaan tersebut juga menjadi momentum memperingati 55 tahun perjalanan desa, mengenang sejarah panjang masyarakat Kayan, serta meneguhkan komitmen untuk menjaga adat dan budaya di tengah perkembangan zaman.
Dengan semangat kebersamaan masyarakat, dukungan pemerintah, lembaga adat dan dunia usaha, Festival UFAH 2026 diharapkan tidak hanya menjadi agenda tahunan, tetapi berkembang sebagai salah satu ruang penting pelestarian budaya dan penguatan identitas masyarakat Kutim.(kopi15/kopi13/kopi3)











