Widget Gambar

4 Sekolah Lansia di Kutim Fokus Peningkatan Kualitas Hidup

4 Sekolah Lansia di Kutim Fokus Peningkatan Kualitas Hidup
Kopi 8
Memuat tombol bagikan...

Kepala Bidang Ketahanan dan Kesejahteraan Keluarga DPPKB Kutim Ani Saidah. Foto: Habibah/Miftah Pro Kutim

SANGATTA — Antusiasme masyarakat terhadap program Sekolah Lansia di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) ternyata melampaui ekspektasi. Di tengah tingginya minat para lanjut usia untuk mengikuti kegiatan tersebut, Pemerintah Kabupaten Kutim melalui Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) masih harus menyesuaikan jumlah peserta dengan kemampuan anggaran dan sarana yang tersedia.

Program Sekolah Lansia yang diluncurkan bertepatan dengan peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-33 Tahun 2026 di Ruang Meranti Kantor Bupati Kutim, Senin (29/6/2026), saat ini baru menjangkau 200 peserta yang tersebar di empat sekolah lansia percontohan di Kecamatan Sangatta Utara.

Keempat sekolah tersebut meliputi Sekolah Lansia Sekar Kedaton di Sangatta Utara, Sekolah Lansia Mawar di Kelurahan Teluk Lingga, Sekolah Lansia Sekar Melati di Desa Swarga Bara, dan Sekolah Lansia Bina Sehat di Desa Singa Gembara dengan masing-masing kuota sebanyak 50 peserta.

Kepala Bidang Ketahanan dan Kesejahteraan Keluarga DPPKB Kutim Ani Saidah, menjelaskan bahwa pelaksanaan program masih berada pada tahap awal sebagai proyek percontohan sebelum diperluas ke wilayah lain di Kutim.

"Saat ini masih pilot project di Sangatta Utara. Setelah itu kami menargetkan Sangatta Selatan, kemudian secara bertahap ke kecamatan lainnya agar seluruh lansia di Kutai Timur dapat tercover pendidikannya," ujarnya usai kegiatan.

Menurut Ani, sekolah lansia tidak hanya menjadi wadah berkumpul bagi para peserta, tetapi juga sarana pembelajaran sepanjang hayat yang dirancang untuk meningkatkan kualitas hidup lansia agar tetap sehat, aktif, dan produktif.

Dalam pelaksanaannya, para peserta akan mengikuti 12 kali pertemuan yang mencakup berbagai materi pengembangan diri sebelum nantinya mengikuti prosesi wisuda sebagai tanda kelulusan dari program tersebut.

Namun, keterbatasan anggaran dan sarana membuat pemerintah daerah belum dapat mengakomodasi seluruh lansia yang berminat mengikuti program tersebut.

"Kami sebenarnya ingin lebih banyak, bahkan sempat merencanakan 100 peserta per desa. Namun kondisi anggaran saat ini membuat kami harus menyesuaikan dengan kemampuan yang ada," katanya.

Tingginya minat masyarakat juga diakui oleh para peserta sekolah lansia. Salah satunya disampaikan Dekrita Lina Rupang, peserta Sekolah Lansia Bina Sehat Desa Singa Gembara.

Menurutnya, masih banyak lansia di desanya yang ingin bergabung, namun belum mendapatkan kesempatan karena keterbatasan kuota.

"Tadi waktu kami bertemu dengan beberapa ibu-ibu, ada yang bertanya kenapa mereka tidak diundang ikut sekolah lansia. Kemungkinan karena kuotanya sudah penuh, karena hanya 50 orang per desa," ungkapnya.

Ia berharap pemerintah daerah dapat menambah jumlah peserta pada pelaksanaan berikutnya agar semakin banyak lansia yang dapat merasakan manfaat program tersebut.

Meski saat ini masih dibatasi oleh kemampuan anggaran dan sarana, DPPKB Kutim menargetkan Sekolah Lansia dapat berkembang secara bertahap ke Sangatta Selatan hingga menjangkau seluruh kecamatan di Kutai Timur. Dengan pendekatan berbasis desa, program ini diharapkan tidak hanya membuka akses pendidikan bagi para lanjut usia, tetapi juga menghadirkan ruang baru bagi mereka untuk tetap sehat, aktif, produktif, dan terus berkontribusi di tengah masyarakat.(kopi8/kopi13/kopi3)

Memuat tombol bagikan...