Teks: Kegiatan positif IBI Kutim peringati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-75 Ikatan Bidan Indonesia (IBI) dan Hari Bidan Internasional (International Day of the Midwife/IDM) Tahun 2026
SANGATTA - Derap langkah pengabdian para bidan di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) kian terasa menjelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-75 Ikatan Bidan Indonesia (IBI) dan Hari Bidan Internasional (International Day of the Midwife/IDM) Tahun 2026. Melalui serangkaian kegiatan yang dimulai sejak Maret hingga puncaknya pada 24 Juni 2026, organisasi profesi ini meneguhkan perannya sebagai garda terdepan pelayanan kesehatan ibu dan anak, bahkan dalam situasi genting sekalipun.
Pengurus Cabang IBI Kutim, melalui surat edaran tertanggal 6 Maret 2026, menginstruksikan seluruh ranting untuk melaksanakan kegiatan secara adaptif sesuai kondisi wilayah masing-masing.
Ketua PC IBI Kutim, Bidan Yuliana Kala’ Lembang, menegaskan bahwa peringatan ini bukan sekadar seremoni, melainkan momentum konsolidasi sekaligus penguatan kiprah bidan dalam sistem kesehatan yang terus bergerak dinamis.
“Sehubungan dengan hal tersebut, diminta kepada seluruh Ketua IBI Ranting untuk melaksanakan kegiatan yang dimaksud sesuai dengan situasi dan kondisi masing-masing,” demikian bunyi imbauan dalam surat edaran tersebut.

IBI yang berdiri pada 24 Juni 1951 di Jakarta, kini telah menjelma menjadi organisasi besar dengan ratusan ribu anggota yang tersebar di seluruh Indonesia. Data Konsil Kebidanan per Januari 2025 mencatat jumlah bidan mencapai 556.762 orang, dengan lebih dari 399 ribu anggota IBI yang telah terverifikasi. Jejaring luas ini menjadi fondasi kokoh dalam menopang pelayanan kesehatan perempuan, ibu, bayi, dan remaja.
Tahun ini, peringatan IDM mengusung tema global “One Million More Midwives”, yang menegaskan kebutuhan dunia akan tambahan tenaga bidan. Sejalan dengan itu, tema nasional menitikberatkan pada penguatan kepemimpinan bidan dalam pelayanan kebidanan berbasis hak, berpusat pada perempuan dan anak, serta kesiapan mengawal Generasi Emas 2045.
Dalam kerangka tersebut, rangkaian kegiatan di Kutim dirancang tidak hanya bersifat seremonial, melainkan menyentuh langsung denyut kebutuhan masyarakat. Salah satu program utama adalah Bhakti Sosial pelayanan KIA-KB yang dilaksanakan bekerja sama dengan fasilitas kesehatan seperti puskesmas, klinik pratama, dan tempat praktik mandiri bidan.
Tak hanya itu, kehadiran Posko OPOR “Bu Bidan” menjadi ikhtiar nyata dalam menyambut arus mudik dan balik Lebaran. Posko ini dijadwalkan beroperasi pada 16-17 Maret 2026 untuk arus mudik, serta 24-25 Maret 2026 untuk arus balik, tersebar di terminal dan titik strategis di tiap kecamatan. Di posko tersebut, bidan memberikan layanan pemeriksaan tanda vital, deteksi dini tanda bahaya pada ibu hamil, edukasi kebutuhan cairan bagi ibu dan anak, hingga penyuluhan kesehatan reproduksi dan keluarga berencana.
“Jenis kegiatan OPOR Bu Bidan meliputi pemeriksaan tanda tanda vital (TTV), pemeriksaan tanda bahaya pada ibu hamil, edukasi kebutuhan air minum pada ibu dan anak serta penyediaan air minum dalam kemasan di setiap posko,” kata Yuliana sebagaimana tercantum dalam kerangka acuan kegiatan.

Dalam sunyi yang sering luput dari sorotan, bidan menjalankan peran krusial, memastikan kelahiran yang aman, mendampingi masa kehamilan dan pascakelahiran, hingga mengedukasi masyarakat agar tetap tangguh menghadapi krisis. Bahkan, dalam kondisi terbatas, mereka mampu menyediakan sebagian besar layanan kesehatan esensial bagi perempuan dan anak.
“Dengan sumber daya minimal, bidan dapat menyediakan kelahiran yang aman, antenatal, dan perawatan pascanatal,” tambahnya.
Rangkaian kegiatan lainnya meliputi kunjungan kepada para sesepuh IBI, tabur bunga di makam pendahulu, serta pelayanan imunisasi dalam rangka Pekan Imunisasi Dunia. Semua itu menjadi refleksi penghormatan terhadap jejak sejarah sekaligus penegasan arah masa depan profesi kebidanan.
Di tengah kompleksitas tantangan global, mulai dari perubahan iklim hingga krisis kemanusiaan, peran bidan kian tak tergantikan. Mereka bukan hanya tenaga kesehatan, melainkan penjaga kehidupan, penyulam asa, dan penopang keberlanjutan generasi.
Melalui peringatan 75 tahun ini, IBI Kutim seakan menulis ulang makna pengabdian, sunyi namun berdampak, sederhana namun sarat arti, dan senantiasa hadir di setiap denyut kehidupan. (kopi3)








