Bupati Kutai Timur, Ardiansyah Sulaiman, saat melaksanakan pelantikan/peresmian dan pengucapan sumpah/janji anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD) serta Pergantian Antar Waktu (PAW) di Kecamatan Sangkulirang. Foto: Alvian Pro Kutim
SANGKULIRANG - Gelombang panas yang melanda sejumlah negara di Eropa hingga memicu kebakaran hutan dan menelan korban jiwa menjadi cermin bahwa perubahan iklim bukan lagi persoalan yang berada di ufuk (cakrawala) masa depan. Fenomena tersebut telah hadir sebagai kenyataan yang menuntut kesiapsiagaan berbagai negara, termasuk Indonesia yang diperkirakan akan memasuki musim kemarau dengan pengaruh fenomena El Nino.
Berangkat dari kenyataan itu, Bupati Kutai Timur (Kutim), Ardiansyah Sulaiman, mengajak seluruh pemerintah desa, pemerintah kecamatan, dunia usaha, aparat keamanan, hingga masyarakat memperkuat langkah mitigasi agar dampak musim kemarau dapat ditekan sedini mungkin. Ajakan tersebut disampaikan saat menghadiri pengukuhan anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD) dan anggota BPD Pengganti Antar Waktu (PAW) dari Kecamatan Kaubun, Karangan, Sangkulirang, dan Sandaran di Gedung Serbaguna Kecamatan Sangkulirang, Kamis (3/7/2026).
Momentum pengukuhan para wakil masyarakat desa itu dimanfaatkan Ardiansyah untuk mengingatkan pentingnya kewaspadaan menghadapi perubahan cuaca. Menurutnya, kondisi cuaca di Kutim yang hingga kini masih didominasi hujan diselingi panas tidak boleh membuat semua pihak terlena. Berdasarkan perkiraan, musim kemarau mulai berlangsung pada Juli sehingga berbagai langkah antisipatif harus dipersiapkan sejak sekarang.
"Kita jangan menunggu sampai bencana datang baru bergerak. Mulai sekarang setiap kecamatan dan desa harus menyiapkan langkah mitigasi, berkoordinasi dengan perusahaan, TNI, Polri, BPBD, dan semua pihak yang ada di wilayah masing-masing. Kalau kita siap dari awal, dampaknya bisa kita kurangi," tegasnya.
Ardiansyah menilai pengalaman Kutim menghadapi musim kemarau panjang pada 2015-2016 merupakan pelajaran berharga yang tidak boleh diabaikan. Fenomena El Nino berpotensi memicu kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, menurunkan hasil pertanian, hingga mengganggu stabilitas harga pangan apabila tidak diantisipasi secara terencana. Di tengah potensi tersebut, ia menyampaikan bahwa kondisi inflasi Kutim masih berada pada kisaran 0,83 persen. Menurutnya, capaian tersebut harus terus dipertahankan melalui penguatan ketahanan pangan berbasis rumah tangga sehingga masyarakat memiliki kemampuan memenuhi sebagian kebutuhan pangan secara mandiri.

"Kalau punya pekarangan, manfaatkan untuk menanam cabai, kangkung, atau tanaman pangan lainnya. Tidak harus luas. Yang penting bisa membantu memenuhi kebutuhan keluarga. Ketahanan pangan dimulai dari rumah sendiri," ujarnya.
Bupati berharap anggota BPD yang baru dikukuhkan tidak hanya menjalankan fungsi legislasi dan pengawasan di tingkat desa. Lebih jauh, mereka diharapkan menjadi pelopor yang menumbuhkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kesiapsiagaan menghadapi perubahan iklim serta membangun budaya mitigasi bencana di lingkungan masing-masing.
Arahan tersebut langsung mendapat respons dari Camat Sangkulirang, Cipto Buntoro. Ia menegaskan pemerintah kecamatan siap menindaklanjuti instruksi Bupati melalui penguatan koordinasi lintas sektor. Langkah itu dinilai penting mengingat wilayah Sangkulirang memiliki bentang kawasan hutan yang luas sekaligus menjadi bagian dari Geopark Sangkulirang-Mangkalihat.
"Kami tidak ingin menunggu sampai terjadi kebakaran atau kekeringan baru bergerak. Arahan Bapak Bupati menjadi pengingat bagi kami untuk memperkuat koordinasi dengan pemerintah desa, perusahaan, relawan, dan seluruh masyarakat. Pencegahan jauh lebih baik daripada penanganan setelah bencana terjadi," kata Cipto.
Ia juga mengimbau masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar, menggunakan air secara bijaksana selama musim kemarau, serta segera melaporkan apabila menemukan potensi kebakaran di lingkungan sekitar sehingga penanganan dapat dilakukan sedini mungkin.

Kesiapsiagaan serupa juga ditegaskan Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kutim, Sulastin. Menurutnya, BPBD telah menyiapkan berbagai langkah antisipatif menghadapi kemungkinan dampak El Niño melalui pemantauan perkembangan cuaca, koordinasi dengan BMKG, serta memastikan kesiapan personel beserta peralatan apabila sewaktu-waktu dibutuhkan.
"Kami terus meningkatkan kesiapsiagaan bersama pemerintah kecamatan, pemerintah desa, TNI, Polri, Manggala Agni, perusahaan, dan para relawan. Penanganan bencana tidak bisa dilakukan sendiri. Kuncinya adalah kolaborasi dan kesiapsiagaan sejak dini," ujar Sulastin.
Ia kembali mengingatkan masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar, menjaga keberlangsungan sumber-sumber air, serta segera melaporkan apabila menemukan titik api sehingga kebakaran dapat dikendalikan sebelum meluas. Menurut Sulastin, keberhasilan menghadapi dampak El Nino tidak hanya bertumpu pada peran pemerintah. Ikhtiar tersebut memerlukan keterlibatan seluruh unsur masyarakat dalam menjaga kelestarian lingkungan, memperkuat ketahanan pangan, serta membangun kesadaran kolektif mengenai pentingnya mitigasi bencana sejak dini. (kopi4/kopi3)








