Widget Gambar

BPBD Kutim Catat 81 Kejadian Karhutla, Luas Terdampak Capai 143 Hektare

BPBD Kutim Catat 81 Kejadian Karhutla, Luas Terdampak Capai 143 Hektare
kopi 14
Memuat tombol bagikan...

Kepala BPBD Kutim Sulastin saat diwawancarai usai mengikuti Rapat Koordinasi (Rakor) Penanganan Puncak Karhutla tingkat nasional. Foto: Nasruddin/Pro Kutim

SANGATTA - Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim), memperkuat kesiapsiagaan menghadapi puncak musim kemarau dan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Upaya tersebut dilakukan setelah Pemerintah Kabupaten Kutim mengikuti Rapat Koordinasi (Rakor) Penanganan Puncak Karhutla tingkat nasional secara virtual dari Ruang Kerja Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika, Statistik dan Persandian (Diskominfo Staper) Kutim, Senin (7/9/2026).

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kutim Sulastin mengatakan, berdasarkan pendataan hingga Senin, tercatat sekitar 81 kejadian karhutla di wilayah Kutim.

"Kalau Kutim sampai dengan hari ini itu ada kurang lebih 81 kejadian. Sekitar 143 hektare kurang lebih total semuanya," ujar Sulastin ditemui usai rakor.

Menurut dia, meski jumlah kejadian dan luasan lahan terdampak cukup besar, kondisi karhutla di Kutim dalam beberapa hari terakhir relatif terkendali. Dari 18 kecamatan di Kutim, sebagian besar wilayah dilaporkan berada dalam kondisi aman. Aktivitas kebakaran yang masih ditemukan terutama terjadi di Kecamatan Sangatta Selatan.

Sulastin juga menyebut pemantauan titik panas atau hotspot menunjukkan kondisi yang masih terkendali. Berdasarkan pemantauan, terdapat 51 titik hotspot dengan kategori sedang.

"Titik hotspot kemarin cuma 51 dengan kategori sedang," ujar Sulastin.

Selain pemantauan hotspot, kondisi cuaca turut membantu upaya penanganan karhutla. Hujan mulai turun di sejumlah wilayah Kutim, antara lain Rantau Pulung dan Muara Ancalong. Menurut Sulastin, setiap kejadian hujan tetap dipantau dan dicatat, termasuk durasi serta intensitasnya. Data tersebut kemudian digunakan sebagai bagian dari pemantauan kondisi wilayah rawan karhutla.

Sulastin berharap hujan terus mengguyur wilayah Kutim sehingga vegetasi dan lahan yang mengering kembali basah. Kondisi tersebut dinilai dapat membantu mengurangi risiko munculnya titik api baru.

"Semoga cepat turun hujan sehingga yang kering-kering tidak terbakar lagi," katanya.

Ia menegaskan, penanganan karhutla tidak dapat hanya mengandalkan BPBD. Dibutuhkan kolaborasi pemerintah, aparat, dunia usaha, serta masyarakat untuk mencegah kebakaran dan menangani titik api sejak dini.

"Harapannya kita tetap kolaborasi dan bersinergi. Bencana ini bukan hanya tanggungjawab BPBD, tetapi menjadi tanggungjawab kita semua termasuk masyarakat," ujar Sulastin.

Sulastin juga mengingatkan masyarakat agar tidak sembarangan melakukan pembakaran lahan, terutama saat kondisi cuaca masih kering.

"Masyarakat dapat segera melaporkan apabila menemukan titik api atau indikasi karhutla. Kami memastikan layanan pemantauan dan penanganan bencana tetap berjalan selama 24 jam," ucapnya.

Pemerintah berharap kesadaran masyarakat semakin meningkat dan sinergi seluruh pihak terus diperkuat sehingga potensi karhutla dapat ditekan. Dengan dukungan curah hujan yang memadai serta respons cepat terhadap setiap titik api, diharapkan seluruh wilayah Kutim tetap aman dari kebakaran hutan dan lahan serta tidak terjadi peningkatan kejadian selama puncak musim kemarau.(kopi14/kopi13)

Memuat tombol bagikan...