Widget Gambar

Dari Empat Tinggal Satu, Mata Air Kaliorang Berkurang, 3.827 Pelanggan Terancam

Dari Empat Tinggal Satu, Mata Air Kaliorang Berkurang, 3.827 Pelanggan Terancam
kopi 14
Memuat tombol bagikan...

Foto: Humas Perumdam TTB Kutai Timur

KALIORANG - Di tengah rimbunnya bentang hutan yang selama puluhan tahun menjadi penyangga kehidupan masyarakat Kecamatan Kaliorang dan Sangkulirang, sebuah kenyataan yang mengusik terungkap dari hasil peninjauan lapangan terpadu pada Selasa, (9/6/2026). Sumber-sumber mata air yang selama ini menghidupi ribuan pelanggan Perumda Air Minum (Perumdam) Tirta Tuah Benua (TTB) Kutai Timur (Kutim) perlahan kehilangan denyutnya. Dari empat titik mata air yang selama ini menjadi tumpuan pasokan air baku di kawasan PT Api-api, kini hanya tersisa satu titik yang masih aktif. Temuan itu menjadi penanda bahwa tekanan terhadap kawasan hutan di daerah tangkapan air (catchment area) Kaliorang telah mencapai titik yang mengkhawatirkan.

Kondisi tersebut terungkap saat Pelaksana Tugas Camat Kaliorang, Pitriani, bersama Kepala Perumdam TTB Cabang Kaliorang-Sangkulirang, Takimbudi Asmuri, memimpin langsung peninjauan ke lokasi sumber air. Kegiatan yang berlangsung sekitar pukul 11.05 WITA itu turut melibatkan unsur Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam), termasuk jajaran Polsek dan Babinsa Kaliorang. Perjalanan menyusuri kawasan resapan air itu tidak hanya menemukan berkurangnya debit mata air. Tim juga mendapati sejumlah bagian hutan yang telah dibuka dan mengalami perambahan.

“Saat kami melakukan survei, ditemukan beberapa titik kawasan hutan yang telah dibuka atau dirambah. Hal inilah yang membuat debit air di bak penampungan menurun drastis karena sumber mata air kita menyusut dari empat titik menjadi sisa satu titik saja,” kata Pitriani.

Dampaknya langsung terasa pada kapasitas produksi air baku. Jika kebutuhan ideal untuk melayani 3.827 pelanggan di Kecamatan Kaliorang dan Sangkulirang berkisar antara 40 hingga 50 liter per detik, saat ini pasokan yang tersedia hanya berada pada kisaran 12 hingga 15 liter per detik. Selisih yang begitu lebar itu menghadirkan ancaman serius terhadap keberlanjutan layanan air bersih bagi masyarakat. Air yang selama ini mengalir ke rumah-rumah warga kini bergantung pada satu sumber yang tersisa.

Bagi pemerintah kecamatan, persoalan tersebut bukan semata perkara berkurangnya debit air. Lebih jauh, kondisi itu menjadi cermin hubungan erat antara kelestarian hutan dan keberlangsungan kebutuhan dasar masyarakat.

Pitriani menilai kerusakan kawasan hutan di sekitar daerah resapan menjadi faktor utama menyusutnya mata air yang selama ini menopang kebutuhan warga di dua kecamatan tersebut. Karena itu, langkah awal yang akan ditempuh adalah melakukan reboisasi atau penghijauan kembali pada kawasan yang mengalami kerusakan.

Upaya tersebut diharapkan mampu mengembalikan fungsi ekologis daerah tangkapan air dalam jangka panjang. Namun, pemerintah kecamatan menyadari bahwa pemulihan hutan membutuhkan waktu yang tidak singkat, sementara kebutuhan masyarakat terhadap air bersih terus berlangsung setiap hari.

Atas dasar itu, Pemerintah Kecamatan Kaliorang mulai mempertimbangkan sumber air baku alternatif dari kawasan Gunung Sekerat. Meski demikian, Pitriani mengingatkan bahwa pencarian sumber baru tidak akan berarti apabila kesadaran menjaga hutan tidak dibangun sejak sekarang.

“Jangan sampai saat kita beralih ke Gunung Sekerat, dampaknya akan serupa seperti hari ini akibat kita tidak menjaga kelestarian hutan. Jika bukan kita yang menjaga, siapa lagi? Apakah kita tega membiarkan generasi mendatang tidak bisa menikmati kekayaan alam kita?” ujarnya.

Pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa persoalan air bersih sesungguhnya berakar dari kondisi lingkungan di hulu. Ketika hutan kehilangan fungsi alaminya sebagai penadah dan penyimpan air, maka masyarakat di hilir menjadi pihak yang pertama merasakan akibatnya.

Di sisi lain, Perumdam TTB juga menyiapkan sejumlah opsi untuk menjaga keberlanjutan layanan. Kepala Perumdam Cabang Kaliorang-Sangkulirang, Takimbudi Asmuri, mengatakan pihaknya tengah mengkaji alternatif pemanfaatan infrastruktur yang berkaitan dengan operasional Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Maloy yang ditargetkan mulai berjalan pada akhir Juli 2026. Menurutnya, berbagai langkah antisipatif perlu disiapkan sejak dini mengingat kebutuhan air bersih masyarakat terus meningkat, sementara kapasitas sumber air baku yang tersedia justru mengalami penyusutan.

Menjelang akhir peninjauan, Pitriani kembali menekankan pentingnya dukungan lintas sektor untuk menyelamatkan sumber-sumber air yang tersisa. Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Pemkab Kutim), perusahaan yang beroperasi di sekitar kawasan hutan, hingga masyarakat luas dinilai memiliki tanggung jawab yang sama dalam menjaga kawasan resapan.

“Kami sangat berharap Pemerintah Kabupaten Kutai Timur bisa memberikan perhatian khusus terhadap kondisi alam di Kecamatan Kaliorang, terkhusus untuk mengamankan suplai air baku Perumdam ini,” katanya.

Bagi Kaliorang dan Sangkulirang, persoalan ini bukan hanya tentang berkurangnya aliran air di bak penampungan. Ini adalah kisah tentang bagaimana kelestarian hutan menentukan keberlangsungan hidup masyarakat. Ketika satu per satu mata air menghilang, yang dipertaruhkan bukan hanya pasokan air hari ini, melainkan juga warisan sumber daya alam bagi generasi yang akan datang. (*/kopi14/kopi3)

Memuat tombol bagikan...