Pembukaan Teluk Pandan Cup III. Foto: Lintang/Pro Kutim
SANGATTA — Ketika ruang bagi anak muda semakin dibutuhkan, lapangan olahraga dapat menjadi tempat sederhana untuk membangun kebiasaan yang positif. Di Teluk Pandan, ruang itu kembali hidup melalui Turnamen Teluk Pandan Cup III di Lapangan Futsal Taman Bersemi, Desa Teluk Pandan, Minggu (13/9/2026) malam.
Turnamen tersebut tidak hanya menjadi arena perebutan gelar juara. Kehadirannya juga diharapkan menjadi wadah bagi anak muda untuk beraktivitas, mengasah kemampuan, membangun disiplin, sekaligus menjauhkan mereka dari berbagai kegiatan yang berisiko merusak masa depan.
Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Kutai Timur Basuki Isnawan mengatakan, kegiatan olahraga perlu terus diperbanyak karena memberi anak muda ruang untuk menyalurkan energi dan mengembangkan potensi.

“Anak-anak muda diberikan ruang untuk berkegiatan sehingga harapan kita enggak ada lagi narkoba, enggak ada lagi judi online, enggak ada lagi balap liar,” kata Basuki.
Menurut Basuki, pembinaan pemuda tidak dapat hanya mengandalkan program pemerintah. Dukungan masyarakat dan dunia usaha diperlukan agar ruang-ruang olahraga di tingkat kecamatan dapat terus hidup dan dimanfaatkan secara berkelanjutan.
Hal itu terlihat dalam pelaksanaan Teluk Pandan Cup III. PT Indominco Mandiri menjadi sponsor utama turnamen yang kembali digelar setelah pada 2025 sempat terhenti akibat keterbatasan anggaran desa.
Ketua panitia, Mail, mengatakan penghentian turnamen pada tahun sebelumnya menjadi tantangan tersendiri bagi panitia. Karena itu, dukungan dari perusahaan dan pemerintah daerah kemudian dihimpun agar kompetisi dapat kembali berlangsung.
“Semua perusahaan yang ada di Kecamatan Teluk Pandan dan Pemerintah Kabupaten Kutai Timur, alhamdulillah mendukung acara ini,” ujarnya.
Kepala Desa Teluk Pandan Andi Herman Fadli menambahkan, dukungan PT Indominco Mandiri mencakup hampir seluruh kebutuhan pelaksanaan turnamen, termasuk uang pembinaan bagi peserta.
Wakil Bupati Kutim Mahyunadi melihat turnamen tersebut sebagai peluang untuk membangun pembinaan olahraga yang lebih panjang. Ia mendorong agar kompetisi serupa tidak berhenti pada kelompok pemain dewasa, tetapi mulai membuka ruang lebih luas bagi kelompok usia muda.

Menurut Mahyunadi, pembinaan atlet sejak dini penting dilakukan. Sebab, sebagian pemain yang kini tampil dalam kompetisi sudah melewati batas usia untuk mengikuti sejumlah ajang olahraga.
Ia juga mengingatkan bahwa membangun budaya olahraga tidak hanya soal bertanding dan mengejar prestasi. Fasilitas yang tersedia harus dijaga, sementara para pengguna lapangan perlu membiasakan pola hidup sehat.
“Mari kita jaga fasilitas bersama, jangan sudah diberi tapi tidak dirawat dengan baik,” tegasnya.
Jika dikelola secara konsisten, Teluk Pandan Cup dapat berkembang lebih dari sekadar kompetisi tahunan. Lapangan futsal bisa menjadi titik awal pembinaan atlet muda, tempat anak-anak muda membangun disiplin dan sportivitas, sekaligus ruang bagi masyarakat untuk menumbuhkan budaya olahraga dari tingkat desa.(kopi17/kopi4)








