Ribuan jemaah Sangatta memadati kajian Ustaz Hanan Attaki di Gedung Buana Mekar. Foto: Dewi/Pro Kutim
SANGATTA – Di bawah temaram lampu Gedung Buana Mekar, Sangatta Utara, Sabtu (25/4/2026) malam, riuh rendah suara gawai yang biasanya mendominasi pertemuan anak muda mendadak senyap. Lebih dari 1.500 orang, yang mayoritas merupakan generasi milenial dan Gen Z, memilih larut dalam untaian kalimat yang disampaikan pendakwah Hanan Attaki.
Malam itu, Sangatta tidak hanya sedang membicarakan soal angka pertumbuhan ekonomi atau komoditas, melainkan sedang membedah isi kepala dan batin generasinya. Hanan hadir membawa narasi yang relevan dengan kegelisahan kontemporer: krisis eksistensi di tengah kepungan media sosial.
Wakil Bupati Kutai Timur (Kutim) Mahyunadi, yang hadir mewakili Bupati Ardiansyah Sulaiman, duduk bersama Ketua TP PKK Kutim Siti Robiah Ardiansyah dan jajaran Forkopimda. Mereka menjadi saksi bagaimana tema-tema kesehatan mental dan spiritualitas menjadi magnet kuat bagi warga Kutim.
Dalam tausiahnya, Hanan Attaki menyoroti fenomena "krisis diri" yang jamak dialami penduduk usia 20 hingga 40 tahun. Menurut dia, kebahagiaan manusia modern sering kali terdistorsi oleh jumlah pengikut di media sosial atau perbandingan semu di platform digital.
"Media sosial sering hanya menampilkan hasil, bukan proses. Setiap orang punya garis waktu (timeline) masing-masing, jadi tidak perlu membandingkan perjalanan hidup," ujar Hanan.

Ia mengingatkan bahwa ketenangan hidup justru lahir dari kualitas hubungan nyata dengan keluarga, guru, dan sahabat, serta keberanian untuk menjauhi lingkungan yang tidak sehat (toxic). Hanan mengajak jemaah untuk berani mengurangi waktu layar (screen time) dan kembali pada tradisi muhasabah atau introspeksi diri.
Salah satu poin menarik yang ditekankan adalah konsep small wins atau kemenangan kecil. Hanan menilai, depresi dan rasa tidak berdaya sering muncul karena orang terlalu terpaku pada target besar jangka panjang yang melelahkan.
"Kemenangan kecil seperti bangun subuh tepat waktu atau membantu orang lain adalah hal luar biasa jika dilakukan konsisten. Dari situlah terbentuk kehidupan yang bermakna," tuturnya.
Makna hidup, lanjut Hanan, tidak melulu soal capaian materi atau nilai akademik, melainkan sejauh mana seseorang mampu menjadi solusi bagi sekitarnya. Kontribusi tidak harus selalu berupa uang, menjadi pendengar yang baik bagi sesama adalah bentuk sedekah batin yang sangat tinggi nilainya di mata Tuhan.
Di penghujung kajian, Hanan memberikan penekanan pada aspek takdir. Ia mengajak anak muda Sangatta untuk tidak terjebak dalam penyesalan masa lalu dengan kata "seandainya".
Ia menegaskan bahwa meski Allah memegang kuasa absolut, doa dan ikhtiar tetap menjadi ruang bagi manusia untuk mengubah keadaan hidupnya.
Kajian yang berlangsung hingga larut malam ini ditutup dengan suasana khidmat. Antusiasme yang meluap di Gedung Buana Mekar memberikan sinyal kuat bahwa di tengah pesatnya modernisasi di Kutim, kebutuhan akan asupan spiritual yang relevan dan menyentuh sisi kemanusiaan tetap menjadi prioritas utama bagi generasi mudanya.(kopi15/kopi13)








