Widget Gambar

Dari Sampah ke Pangan, Kutim Kembangkan Maggot BSF 

Dari Sampah ke Pangan, Kutim Kembangkan Maggot BSF 
Kopi 17
Memuat tombol bagikan...

Jalannya Pelatihan Budi Daya Maggot dan Ayam Kampung BSF. Foto: Dewi/Pro Kutim

SANGATTA – Upaya memperkuat kemandirian pangan sekaligus mendorong pengelolaan sampah menjadi sumber daya produktif terus dikembangkan di Kabupaten Kutai Timur (Kutim). Salah satunya melalui Sosialisasi dan Pelatihan Budi Daya Maggot Black Soldier Fly (BSF) dan Peternakan Ayam Kampung Terpadu, yang digelar di Jalan Santai RT 05 Kecamatan Sangatta Selatan, pada Selasa (22/9/2026).

Kegiatan yang diinisiasi dari Sinergi Generasi Produktif (SIGAP) Kutai Timur bersama Himpunan Mahasiswa Peternakan STIPER tersebut menjadi bagian dari pengembangan konsep swadaya pangan dan integrasi peternakan terpadu, dengan melibatkan komunitas peternak, pemerintah, dunia usaha, akademisi, mahasiswa, serta masyarakat.

Kegiatan dihadiri Plt Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Peternakan Purno Edi yang mewakili Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman, dan tamu undangan, komunitas Peternak Mandiri, Ketua SIGAP beserta perwakilan mitra, unsur perguruan tinggi dan program studi peternakan, PT Pama Persada Nusantara, PT Pertamina, Bankaltimtara, para narasumber, penyuluh pertanian lapangan (PPL), serta peserta pelatihan.

Kegiatan tersebut merupakan tindak lanjut dari talkshow peternakan yang dilaksanakan pada 2 Juni 2026. Jika pada kegiatan sebelumnya pembahasan lebih banyak diarahkan pada pengembangan peternakan, sosialisasi dan pelatihan kali ini memperdalam praktik budidaya maggot, ayam kampung unggul, serta penerapan sistem peternakan terpadu dari hulu hingga hilir.

Panitia kegiatan Rejki yang juga Mahasiswa STIPER Kutim menjelaskan, kolaborasi menjadi salah satu kunci dalam mengembangkan kegiatan tersebut. 

"Sejumlah pihak turut memberikan dukungan, di antaranya PT Pama Persada Nusantara, Pertamina, Bankaltimtara dan mitra lainnya, bersama komunitas serta kelompok peternak," sebutnya.

Perwakilan Komunitas Peternak Mandiri, Ali Mahmudi, dalam sambutannya menekankan pentingnya pengelolaan sampah sebagai bagian dari sistem peternakan terpadu.

"Persoalan sampah bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga dapat menjadi peluang apabila dikelola secara tepat. Sisa makanan yang selama ini berakhir sebagai sampah dapat dimanfaatkan sebagai bahan dalam budidaya maggot atau larva Black Soldier Fly (BSF)," urainya.

Melalui sistem tersebut, sampah organik dapat diolah menjadi sumber pakan maggot. Selanjutnya, maggot dapat dimanfaatkan sebagai bahan pakan untuk ayam, ikan maupun ternak lainnya.

Ia mengajak masyarakat untuk mulai bertanggung jawab terhadap sampah yang dihasilkan dari lingkungan masing-masing. Pengelolaan sampah, menurutnya, tidak harus selalu menunggu pihak lain, tetapi dapat dimulai dari tingkat rumah tangga, komunitas maupun kelompok masyarakat.

“Jangan menyalahkan pihak lain, tetapi mari bertanggung jawab terhadap sampah kita sendiri,” tambahnya.

Pengembangan sistem tersebut juga dilatarbelakangi kondisi peternakan di Kutim yang masih menghadapi ketergantungan terhadap pasokan bahan pakan dari luar daerah. Sebagian kebutuhan pakan ternak masih didatangkan dari Sulawesi dan Jawa.

Ketergantungan tersebut dinilai memiliki risiko terhadap keberlanjutan produksi apabila terjadi gangguan distribusi maupun kondisi cuaca yang menghambat transportasi.

Karena itu, pengembangan sumber pakan lokal menjadi salah satu bagian penting dari sistem peternakan terpadu yang tengah dikembangkan.

Ali Mahmudi menjelaskan, gagasan pengelolaan sampah tersebut mulai berkembang melalui diskusi sejak 2021. Saat itu, persoalan sampah di Kutim menjadi salah satu topik yang dibicarakan bersama sejumlah pihak, termasuk Edi dan Toni Halim.

Pengalaman dalam mengolah sampah menjadi produk yang lebih bermanfaat kemudian menjadi dasar pembentukan komunitas yang kini bergerak pada konsep peternakan terpadu.

Komunitas tersebut telah mengembangkan berbagai kegiatan yang saling berkaitan, mulai dari pengelolaan sampah, budidaya maggot, peternakan ayam, ikan, kambing hingga pemanfaatan sumber daya lainnya.

Dalam perkembangannya, komunitas juga menjalin kerja sama dengan sejumlah SPPG untuk memanfaatkan sisa makanan sebagai bahan baku budidaya maggot.

Konsepnya sederhana, tetapi memiliki mata rantai manfaat yang panjang. Sisa makanan yang sebelumnya menjadi beban sampah diolah menjadi media pakan maggot. Maggot kemudian dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Hasil peternakan selanjutnya dapat dikembangkan menjadi produk pangan yang memiliki nilai ekonomi.

Dengan demikian, sampah tidak berhenti sebagai persoalan, tetapi dapat masuk kembali ke dalam siklus produksi.

Lokasi kegiatan di kawasan RT 05, Kecamatan Sangatta Selatan, dipilih karena telah memiliki berbagai unsur yang mendukung penerapan konsep peternakan terpadu.

Di kawasan tersebut terdapat sejumlah aktivitas produktif, antara lain perikanan, budidaya madu kelulut, kambing, ayam, maggot, pengolahan sampah hingga peternakan sapi. Pengembangan bibit ternak juga menjadi bagian dari aktivitas yang dilakukan di kawasan tersebut.

Kondisi itu menjadikan lokasi bukan sekadar tempat pelatihan secara teori, tetapi juga dapat menjadi ruang pembelajaran lapangan bagi peserta.

Peserta dapat melihat secara langsung bagaimana berbagai sektor usaha peternakan dan pengelolaan lingkungan dapat dihubungkan dalam satu sistem.

Ketua SIGAP Bahtiar Bakri menyampaikan, kegiatan tersebut merupakan kelanjutan dari talkshow peternakan sebelumnya yang turut didukung SIGAP. 

"Saya berharap kegiatan sosial dan pemberdayaan semacam itu dapat terus dikembangkan hingga menjangkau lebih banyak masyarakat," paparnya.

Menurutnya, pengembangan kegiatan tidak hanya bertumpu pada kelompok yang sudah ada, tetapi perlu melibatkan pemuda dan pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) agar mampu mengambil peran dalam pengembangan usaha produktif di daerah.

Sementara itu, Plt Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan Kutim, Purno Edi saat memberikan sambutan sekaligus membuka kegiatan secara resmi, menekankan pentingnya kolaborasi dalam membangun sektor peternakan.

Ia menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat, mulai dari pemerintah, komunitas peternak, mahasiswa, perguruan tinggi, pemerintah desa, dunia usaha hingga mitra pendukung kegiatan.

Purno Edi juga menyampaikan permohonan maaf karena Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman belum dapat hadir secara langsung setelah menjalankan ibadah umrah. Wakil Bupati juga disebut sedang menjalankan tugas di luar daerah.

Menurutnya, kolaborasi menjadi catatan penting dalam menjalankan program pemberdayaan masyarakat. Pemerintah tidak dapat bekerja sendiri, sehingga keterlibatan komunitas, perguruan tinggi, dunia usaha dan masyarakat diperlukan agar program yang dikembangkan dapat berjalan berkelanjutan.

"Sejumlah program pemerintah yang berkaitan dengan pengembangan pertanian dan peternakan tetap dapat diakses masyarakat melalui mekanisme pengajuan proposal dengan pendampingan PPL maupun perangkat dinas terkait," tegasnya.

Purno menambahkan pengembangan peternakan terpadu tidak terlepas dari sejumlah tantangan. Salah satu yang paling dirasakan peternak adalah tingginya biaya pakan.

Kondisi tersebut tidak hanya memengaruhi usaha ayam, tetapi juga peternakan kambing, sapi dan perikanan. Tingginya biaya produksi pada akhirnya dapat memengaruhi harga jual serta daya saing produk peternak lokal.

Selain pakan, pemasaran juga menjadi bagian yang perlu diperkuat. Produksi dari tingkat peternak harus memiliki pasar yang jelas agar usaha dapat berjalan secara berkelanjutan.

Pemerintah daerah mendorong agar setelah aspek produksi di tingkat hulu semakin kuat, pendampingan pemasaran dapat dilakukan melalui perangkat daerah terkait, termasuk sektor koperasi, UMKM dan perdagangan.

Hal tersebut penting agar peternak tidak hanya mampu menghasilkan produk, tetapi juga memiliki akses pasar dan kemampuan mengembangkan usahanya.

Purno Edi juga menyinggung masih adanya kebutuhan pangan yang dipasok dari luar daerah, termasuk telur. Kondisi tersebut menunjukkan masih terbukanya peluang bagi masyarakat Kutai Timur untuk meningkatkan produksi peternakan lokal.

Kegiatan tersebut juga melibatkan mahasiswa dan unsur akademisi sebagai bagian dari proses pembelajaran sekaligus pengabdian kepada masyarakat.

Kolaborasi antara mahasiswa, dosen, komunitas peternak dan pemerintah diharapkan dapat menjadi jembatan antara pengetahuan akademik dengan praktik di lapangan.

Generasi muda didorong tidak hanya menjadi peserta, tetapi juga dapat mengambil peran dalam pengembangan usaha peternakan, pengolahan hasil, pemasaran dan inovasi teknologi.

Pemerintah menilai keberlanjutan program sangat ditentukan oleh kemampuan menghadirkan generasi penerus yang mampu melanjutkan pengalaman para pelaku peternakan yang telah lebih dahulu bergerak.

Pengembangan peternakan terpadu juga dinilai memiliki keterkaitan erat dengan penguatan ekonomi desa. Potensi lahan produktif yang tersedia di sekitar permukiman dapat dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian maupun peternakan tanpa harus selalu bergantung pada kawasan usaha berskala besar.

Konsep tersebut juga dapat dikembangkan melalui kelembagaan ekonomi desa, termasuk Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), sehingga aktivitas produksi, pengolahan dan pemasaran dapat terhubung dalam satu ekosistem ekonomi masyarakat.

Dalam kegiatan tersebut turut disampaikan adanya peluang pengembangan ayam petelur melalui dukungan pengajuan bantuan dari pemerintah pusat. Informasi tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan kelompok masyarakat yang memiliki kesiapan lahan, sumber daya manusia dan kelembagaan.

Kegiatan ini tidak berhenti pada sosialisasi. Peserta juga mendapatkan materi dan pelatihan mengenai budidaya maggot BSF, ayam kampung unggul serta penerapan sistem peternakan terpadu.

Narasumber yang dihadirkan berasal dari kalangan praktisi dan pelaku peternakan. Toni Halim memberikan materi terkait budidaya maggot, sementara Edi Sofyan membahas peternakan ayam kampung terpadu. Perwakilan Komunitas Peternak Mandiri juga menyampaikan pengalaman serta hasil pengembangan peternakan yang telah dilakukan.

Harapan utama kegiatan tersebut adalah munculnya pelaku-pelaku baru yang mampu menerapkan pengetahuan yang diperoleh di wilayah masing-masing.

Dari jumlah peserta yang mengikuti kegiatan, diharapkan lahir kelompok-kelompok baru yang mampu mengembangkan usaha secara mandiri dan berkelanjutan.

Konsep yang dibangun pun memiliki mata rantai yang jelas: sampah organik dikelola menjadi media budidaya maggot, maggot dimanfaatkan sebagai pakan, ternak menghasilkan produk pangan, dan produk tersebut dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sekaligus membuka peluang ekonomi.

Dengan pola tersebut, pengelolaan sampah, peternakan dan ketahanan pangan tidak berdiri sendiri. Ketiganya dapat dirangkai menjadi satu sistem yang saling menguatkan.(kopi15/kopi13/kopi3) 

Memuat tombol bagikan...