Widget Gambar

Demi Regenerasi, Usia Atlet Kutim Maksimal 30 Tahun

Demi Regenerasi, Usia Atlet Kutim Maksimal 30 Tahun
kopi 14
Memuat tombol bagikan...

Wakil Bupati Kutim saat diwawancarai usai membuka Pelatihan Pembuatan Aplikasi dan Website serta Pelatihan Digitalisasi Atlet Kutim di Kantor KONI Kutim, Senin (21/9/2026). Foto : Bahtiar dan Maulana/Pro Kutim.

SANGATTA — Batas usia maksimal atlet yang bertanding pada Porprov Kaltim 2026 di Paser menjadi tantangan baru bagi Kutai Timur (Kutim). Sejumlah atlet yang sebelumnya dipersiapkan tidak dapat diturunkan karena terbentur ketentuan usia maksimal 30 tahun. Kondisi itu mendorong Kutim mempercepat regenerasi dan memperluas penjaringan talenta olahraga hingga ke tingkat kecamatan.Hal tersebut disampaikan Wakil Bupati Kutim Mahyunadi usai membuka Pelatihan Pembuatan Aplikasi dan Website serta Pelatihan Digitalisasi Atlet Kutim di Kantor KONI Kutim, Senin (21/9/2026).

Mahyunadi mengatakan, perubahan regulasi menunjukkan pentingnya menyiapkan atlet sejak usia dini. Dengan siklus usia yang semakin ketat, daerah tidak bisa hanya mengandalkan atlet yang sudah lama berprestasi, tetapi harus memiliki stok pemain muda yang siap melanjutkan estafet prestasi.

"Sebab atlet yang lebih banyak kita siapkan, banyak yang tidak bisa main karena batasan usia," ujar Mahyunadi.

Menurutnya, persoalan tersebut juga dirasakan daerah lain. Namun, sejumlah kabupaten dan kota dinilai lebih siap karena telah membangun sistem pencarian dan pengembangan bakat sejak jauh hari.

"Tapi turbulensi yang kita alami sama dengan yang dialami oleh kabupaten-kabupaten lain. Cuman masalahnya adalah mereka sudah prepare. Balikpapan misalnya, dia persiapan dari jauh-jauh hari punya sekolah-sekolah atlet, sekolah bola, sekolah cabang olahraga yang mendidik anak-anak di usia dini," ungkapnya.

Selain usia, Mahyunadi menyoroti ketentuan mengenai asal-usul atlet. Regulasi tersebut membuat daerah perlu lebih serius mengembangkan talenta yang tumbuh dari masyarakat sendiri, termasuk dengan mencari bibit potensial di seluruh kecamatan.

Kondisi geografis Kutim yang memiliki wilayah luas, menurutnya, justru dapat menjadi modal untuk menemukan lebih banyak talenta olahraga. Karena itu, penjaringan tidak boleh hanya terpusat di Sangatta, tetapi harus menjangkau kecamatan hingga pelosok daerah.

Dukungan anggaran juga telah disiapkan untuk menopang target prestasi olahraga. Mahyunadi berharap anggaran tersebut digunakan secara tepat untuk memperkuat proses latihan, pengembangan atlet muda, pemenuhan kebutuhan cabor, hingga persiapan menghadapi ajang olahraga.

"Target kita kan mau jadi dua besar atau tiga besar, nah itu kan butuh dukungan anggaran. Anggaran kita ready, alhamdulillah. Justru itu salah satu keunggulan utama kita bahwa anggaran kita ready," tuturnya.

Ia juga meminta proses seleksi dilakukan secara objektif. Kemampuan dan potensi harus menjadi pertimbangan utama dalam menentukan atlet yang masuk dalam program pembinaan, bukan kepentingan lain.

"Dan harus mengenyampingkan ego politik dalam rekrutmen atlet ini. Yang penting utamakan potensi atlet itu sendiri. Jadi ke depan harus mengedepankan kemampuan dan talent-talent masyarakat penggiat olahraga di Kutim," pungkasnya.

Salah satu peserta pelatihan, Gilang, pelatih cabang olahraga cricket Kutim, mengatakan proses pengembangan atlet muda sudah dilakukan di sejumlah kecamatan. Menurutnya, pola tersebut penting untuk memastikan talenta lokal memiliki jalur yang jelas hingga ke tingkat prestasi.

"Atlet cricket Kutim yang dipersiapkan untuk mengikuti Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Kalimantan Timur 2026 di Kabupaten Paser merupakan atlet hasil pembinaan di tingkat kecamatan," jelasnya.

Ia menilai pengalaman tersebut menunjukkan bahwa penjaringan dari tingkat kecamatan dapat menjadi fondasi bagi prestasi olahraga Kutim. Pengembangan serupa diharapkan diperluas ke lebih banyak wilayah dan cabang olahraga.

Dengan memperkuat pencarian bakat sejak usia dini, memperluas jangkauan hingga kecamatan, serta memastikan dukungan anggaran berjalan efektif, Kutim dapat membangun regenerasi yang tidak bergantung pada satu generasi atlet. Langkah tersebut sekaligus menjadi investasi jangka panjang agar daerah memiliki talenta lokal yang siap mengisi setiap jenjang pertandingan.(kopi14/kopi4/kopi3) 

Memuat tombol bagikan...