Teks foto: Tim terpadu melakukan pemeriksaan di salah satu ritel bahan kue di Sangatta
SANGATTA - Ramai pasar Ramadan selalu membawa suasana khas, deretan kudapan manis, aroma gorengan yang mengepul, serta hiruk-pikuk warga yang menanti waktu berbuka. Namun di balik semarak itu, pemerintah daerah berupaya memastikan bahwa setiap makanan dan minuman yang beredar benar-benar aman dikonsumsi masyarakat.
Komitmen tersebut ditegaskan Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kutai Timur (Kutim), dr Yuwana Sri Kurniawati, saat membuka pengarahan dan koordinasi pemeriksaan ritel serta takjil Ramadan, Senin (2/3/2026), di Aula Dinkes Kutim, Sangatta Utara. Kegiatan ini dilaksanakan bersama Balai Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Samarinda, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag), Dinas Koperasi dan UMKM, serta didukung Dinas Komunikasi Informatika, Persandian dan Statistik, Polres Kutim dan Satuan Polisi Pamong Praja.

Bagi Yuwana, pengawasan pangan bukan semata prosedur administratif, melainkan ikhtiar nyata melindungi masyarakat. Selama Ramadan, intensitas peredaran makanan dan minuman meningkat tajam, terutama di kawasan pasar tradisional, lapak takjil, hingga gerai ritel modern. Kondisi tersebut menuntut pengawasan yang terukur, terpadu, dan berkesinambungan.
“Kita ingin masyarakat menjalankan ibadah dengan tenang. Takjil yang dibeli harus aman, sehat, dan memiliki izin edar yang jelas,” ujarnya.
Dalam kegiatan pengawasan kali ini, tim gabungan menargetkan pengujian 50 sampel makanan dan minuman. Sampel tersebut diambil dari berbagai titik penjualan untuk diperiksa kandungannya. Pemeriksaan difokuskan pada kemungkinan adanya zat berbahaya seperti formalin, boraks, maupun pewarna tekstil yang kerap disalahgunakan dalam produksi pangan.

Menurut Yuwana, pengawasan ini juga dimaksudkan untuk mengantisipasi beredarnya bahan pangan yang tidak memiliki izin edar atau tidak memenuhi standar keamanan.
“Target kita zero insiden selama Ramadan. Tidak ada kasus keracunan pangan dan tidak ada produk berbahaya yang lolos dari pengawasan,” tegasnya.

Teks foto: Kepala Dinas Kesehatan dr Yuwana Sri Kurniawati memimpin rapat pengawasan san pemeriksaan ritel dan takjil
Foto Vian Pro Kutim
Dari pihak BPOM Samarinda, kegiatan ini diwakili oleh Heppi Pratama. Ia menilai langkah Pemkab Kutim membangun kerja sama lintas sektor merupakan pendekatan yang efektif dalam menjaga keamanan pangan.
“Pengawasan terpadu seperti ini sangat efektif. Selain melakukan uji sampel cepat, kami juga memberikan edukasi kepada pedagang tentang pentingnya izin edar, label yang sesuai, dan cara produksi yang higienis. Tujuannya agar masyarakat terlindungi dan pelaku usaha juga semakin berkembang,” ungkapnya.
Heppi menambahkan, pengawasan juga mencakup antisipasi terhadap peredaran bahan makanan tanpa izin edar. Jika dalam pemeriksaan ditemukan pelanggaran atau sampel yang tidak memenuhi syarat, tim akan langsung menyusun Berita Acara Pemeriksaan (BAP) sebagai dasar tindak lanjut.
“Jika ada temuan, tentu akan ada Berita Acara Pemeriksaan. Selanjutnya dilakukan pembinaan kepada pelaku usaha. Untuk bahan makanan atau sampel yang terbukti tidak memenuhi syarat, akan dilakukan pemusnahan sesuai ketentuan yang berlaku,” jelasnya.
Pengawasan tidak berhenti pada makanan dan minuman takjil. Dinkes Kutim juga menyiapkan langkah lanjutan berupa monitoring dan pembinaan terhadap depo air minum isi ulang. Pemeriksaan kualitas air dilakukan secara berkala untuk memastikan standar higiene dan sanitasi tetap terpenuhi.
Keterlibatan aparat penegak aturan turut memperkuat pelaksanaan kegiatan ini. Polres Kutim dan Satpol PP mendukung pengawasan di lapangan, sementara Diskominfo, Persandian dan Statistik berperan menyebarluaskan informasi serta edukasi kepada masyarakat.


Upaya tersebut mendapat tanggapan positif dari warga. Rina mengaku merasa lebih tenang dengan adanya pengujian sampel makanan.
“Kalau ada pengecekan seperti ini, kami jadi lebih yakin. Apalagi buat anak-anak di rumah, kami ingin makanan yang aman,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Muawiyah, warga yang berdomisili di Jalan Dayung. Ia menilai pemeriksaan tersebut menjadi pengingat bagi pedagang agar lebih berhati-hati dalam memilih bahan.
“Bagus sekali ada pemeriksaan. Jadi pedagang tidak sembarangan pakai bahan. Kami merasa diperhatikan,” katanya.
Dari kalangan pelaku usaha, Retno, pedagang bahan kue, menyebut kegiatan tersebut membantu pedagang memahami ketentuan keamanan pangan.
“Menurut saya ini bagus. Jadi kami tahu bahan apa yang aman. Kalau jualan aman, pembeli juga percaya,” tuturnya.
Melalui kolaborasi lintas sektor ini, Pemkab Kutim berharap Ramadan menjadi momentum memperkuat kesadaran bersama mengenai pentingnya keamanan pangan dan kualitas air minum. Dengan langkah preventif, pengawasan, serta pembinaan yang berkelanjutan, masyarakat diharapkan dapat menikmati hidangan berbuka dengan rasa tenteram, sehat, dan penuh keberkahan. (kopi4/kopi3)








