Widget Gambar

Dinkes Survei Kaki Gajah, Jaga Kutim Tetap Bebas Filariasis

Dinkes Survei Kaki Gajah, Jaga Kutim Tetap Bebas Filariasis
hms3
Memuat tombol bagikan...

Petugas kesehatan melaksanakan pengambilan spesimen darah dalam Brugia Impact Survey (BIS) ke-2 Tahun 2026 di wilayah sasaran Kutai Timur.

SANGATTA - Upaya menjaga Kutai Timur (Kutim) tetap bebas dari penularan penyakit kaki gajah memasuki tahap evaluasi. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kutim selaku leading sector bidang kesehatan melaksanakan Brugia Impact Survey (BIS) ke-2 Tahun 2026 untuk memastikan tidak ada lagi penularan filariasis Brugia di masyarakat, setelah program pemberian obat massal dijalankan.

Survei berlangsung pada 21–30 September 2026. Pemeriksaan menyasar masyarakat di wilayah yang telah ditentukan sesuai protokol Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Bagi masyarakat, survei ini bukan hanya kegiatan pengambilan sampel darah, melainkan bagian dari upaya memastikan status eliminasi penyakit yang dapat menimbulkan kecacatan tersebut tetap terpelihara.

Filariasis merupakan penyakit tropis terabaikan yang disebabkan oleh cacing Brugia malayi. Penularannya terjadi melalui gigitan nyamuk. Penyakit ini banyak ditemukan di wilayah Kalimantan dan menjadi salah satu persoalan kesehatan yang memerlukan pengamatan berkelanjutan meskipun program pengendalian telah dilaksanakan.

"Karena itu, keberhasilan eliminasi tidak berhenti pada pemberian obat massal. Penularan harus terus dipantau untuk memastikan rantai penyebaran benar-benar telah terputus," jelas Kadinkes Kutim dr Yuwana Sri Kurniawati, Rabu (23/9/2026).

Dinkes Kutim sebelumnya telah melaksanakan BIS pertama pada 2024. Dua tahun kemudian, survei kedua digelar sebagai evaluasi lanjutan untuk memperoleh data yang lebih mutakhir mengenai kemungkinan masih berlangsungnya penularan Brugia di tengah masyarakat. Survei kali ini mencakup 19 wilayah kerja puskesmas yang tersebar di 16 kecamatan. Sebanyak 25 desa terpilih menjadi lokasi pemeriksaan dengan 30 klaster sebagai wilayah sasaran. Masyarakat yang berada di desa dan klaster terpilih menjadi sasaran sesuai ketentuan dan protokol yang ditetapkan Kementerian Kesehatan.

Pemeriksaan dilakukan melalui pengambilan spesimen darah sesuai standar. Dari pemeriksaan tersebut, petugas akan memperoleh gambaran mengenai status penularan filariasis Brugia di wilayah yang disurvei. Data itu menjadi bagian penting dalam menentukan langkah kesehatan masyarakat berikutnya. Apabila hasil survei menunjukkan penularan telah berhenti, data tersebut akan memperkuat evaluasi terhadap keberlanjutan status eliminasi filariasis di Kutim. Sebaliknya, apabila masih ditemukan indikasi penularan, hasilnya dapat menjadi dasar untuk menentukan tindak lanjut intervensi sesuai ketentuan program.

Dengan demikian, survei berfungsi sebagai semacam cermin epidemiologis (gambaran kondisi penularan penyakit berdasarkan data kesehatan masyarakat). Melalui data tersebut, pemerintah dapat melihat kondisi lapangan secara lebih saksama, bukan hanya mengandalkan capaian program sebelumnya. Pelaksanaan BIS juga memperlihatkan bahwa pengendalian filariasis membutuhkan kerja bersama.

Dinkes Kutim melibatkan 19 puskesmas dalam pelaksanaan survei, dengan dukungan Tim Kerja NTDs (neglected tropical diseases atau penyakit tropis terabaikan) Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Balai Besar Laboratorium Kesehatan Masyarakat Banjarbaru, serta Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Timur. Pemerintah kecamatan dan desa serta kader kesehatan turut mendukung pelaksanaan kegiatan di lapangan. Peran mereka penting untuk membantu menjangkau masyarakat di lokasi sasaran dan memastikan kegiatan pemeriksaan berjalan sesuai ketentuan.

Di tingkat masyarakat, keterlibatan warga menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari proses tersebut. Pemeriksaan dan pengambilan spesimen darah diperlukan untuk menghasilkan data yang dapat dipertanggungjawabkan. Semakin baik pelaksanaan survei, semakin kuat pula dasar informasi yang dimiliki pemerintah untuk menentukan kebijakan pengendalian penyakit.

"Tujuan utama BIS ke-2 tidak berhenti pada mengetahui ada atau tidaknya penularan filariasis Brugia. Survei juga diarahkan untuk menghasilkan data epidemiologis (data mengenai pola, sebaran, dan kejadian penyakit dalam suatu populasi), mengevaluasi program eliminasi, serta memperkuat sistem surveilans kesehatan," tambah Yuwana yang pernah memimpin RSUD Kudungga Sangatta.

Kegiatan tersebut sekaligus menjadi bagian dari penguatan kapasitas tenaga kesehatan dalam melakukan pemantauan penyakit menular. Surveilans yang berjalan secara berkesinambungan diperlukan agar perubahan situasi kesehatan masyarakat dapat diketahui sedini mungkin. Bagi Kutim, hasil BIS ke-2 nantinya akan menjadi salah satu pijakan dalam menentukan kebijakan. Data survei akan membantu menjawab pertanyaan penting, apakah eliminasi filariasis Brugia masih dapat dipertahankan atau diperlukan langkah intervensi lanjutan.

Kepastian tersebut penting karena filariasis bukan penyakit yang dampaknya hanya dirasakan ketika seseorang terinfeksi. Dalam jangka panjang, penyakit kaki gajah dapat menimbulkan pembengkakan dan gangguan fisik yang berpengaruh terhadap kehidupan penderitanya. Karena itu, menjaga agar penularan tidak kembali terjadi menjadi bagian penting dari perlindungan kesehatan masyarakat.

Survei yang dilaksanakan hingga 30 September 2026 ini sekaligus menandai kesinambungan pemantauan setelah BIS pertama pada 2024. Hasilnya akan memberikan gambaran lebih lanjut mengenai kondisi penularan Brugia di wilayah sasaran Kutim. Pembiayaan kegiatan BIS ke-2 Tahun 2026 bersumber dari Dana Alokasi Umum (DAU) Bidang Kesehatan Tahun Anggaran 2026.

Pada akhirnya, keberhasilan mempertahankan eliminasi filariasis tidak hanya bergantung pada hasil pemeriksaan laboratorium. Ia juga bertaut dengan ketekunan pemantauan, keterlibatan tenaga kesehatan, dukungan pemerintah hingga tingkat desa, serta partisipasi masyarakat yang menjadi sumber data utama di lapangan. Survei tersebut menjadi ikhtiar untuk memastikan bahwa capaian pengendalian filariasis yang telah ditempuh Kutim tidak berhenti sebagai catatan program, melainkan benar-benar memberi perlindungan kesehatan yang berkelanjutan bagi masyarakat. (kopi3)

Memuat tombol bagikan...