Konsolidasi Persekutuan Wanita Gereja Toraja (PWGT) Klasis Kutai Timur (KKT). Foto: Istimewa
SANGATTA - Suasana Jemaat Elim Sangatta tak hanya dipenuhi nuansa perayaan, tetapi juga ikhtiar pengetahuan dan kesadaran kolektif. Konsolidasi Persekutuan Wanita Gereja Toraja (PWGT) Klasis Kutai Timur (KKT) yang dirangkai dengan perayaan hari ulang tahun ke-9 menghadirkan dua pokok penting sekaligus, belum lama ini. Yakni kesehatan dan kelestarian lingkungan.
Sekitar 240 peserta dari tujuh kecamatan hadir dalam kegiatan tersebut. Mereka tidak hanya mengikuti ibadah, tetapi juga mendapatkan penyuluhan mengenai kanker usus atau kolorektal. Materi ini disampaikan oleh dr Bartolomeus Tan, dengan moderator dr Celly Palebangan, yang juga merupakan pengurus PWGT KKT bidang II.
Dalam pemaparannya, dr Bartolomeus menjelaskan bahwa kanker kolorektal merupakan keganasan yang berkembang di usus besar atau rektum. Penyakit ini kerap hadir tanpa gejala pada fase awal, sehingga kerap luput dari perhatian. Ia menekankan pentingnya kewaspadaan terhadap perubahan pola buang air besar, perdarahan, hingga nyeri perut yang kerap dianggap remeh.

Penyuluhan ini menjadi semacam pencerahan, bukan hanya dalam arti medis, tetapi juga sebagai pengingat akan pentingnya deteksi dini. Para peserta diajak memahami bahwa kesehatan bukan perkara insidental, melainkan hasil dari kesadaran yang dipupuk secara berkelanjutan.
Di sela pembahasan kesehatan, perhatian peserta juga diarahkan pada isu lingkungan. Edukasi mengenai pembentukan bank sampah gereja disampaikan oleh Yuliana Kalalembang dari bidang III PWGT KKT. Ia menekankan bahwa pengelolaan sampah bukan sekadar aktivitas teknis, melainkan bagian dari gaya hidup ugahari, sebuah laku hidup sederhana, tertib, dan bertanggung jawab terhadap ciptaan.
“Di harapkan di tahun 2026 ini pembentukan kelompok bank sampah gereja dapat terlaksana, jika belum bisa seluruhnya mimimal di bbrp jemaat,” ujarnya.

Gagasan bank sampah ini bukan hanya bertujuan menjaga kebersihan lingkungan gereja, tetapi juga menghadirkan nilai guna ekonomi bagi jemaat. Sampah dipilah, ditimbang, dicatat, lalu dikelola menjadi tabungan yang bernilai. Sebuah pendekatan yang memadukan ekologi dan ekonomi secara bersahaja namun berdampak.
Materi edukasi tersebut juga telah dibagikan melalui grup PWGT Klasis Kutim sebagai panduan praktis bagi jemaat di berbagai wilayah. Langkah ini diharapkan menjadi benih yang bertumbuh. Menjadi gerakan bersama yang merawat lingkungan dari lingkup terkecil.
Kegiatan ini mencerminkan satu hal yang kian terasa relevan. Yaitu kesehatan manusia dan kesehatan lingkungan adalah dua sisi dari satu tarikan napas yang sama. Dalam ruang ibadah yang sederhana, kesadaran itu ditanamkan. Perlahan, namun pasti. Sebuah ikhtiar sunyi, tenang dan bersahaja, yang berpotensi menjelma gerakan besar di masa mendatang. (kopi3)







