Kepala Diskop UMKM Kutim Marhadyn.Foto: Irfan/Pro Kutim
SANGATTA – Dinas Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (Diskop UKM) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) menetapkan empat komoditas unggulan sebagai prioritas pengembangan untuk meningkatkan daya saing produk lokal. Komoditas tersebut meliputi nanas Himba, pisang grecek, kakao, dan gula aren, yang dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan melalui hilirisasi sehingga mampu memberikan nilai tambah bagi pelaku UMKM dan petani.
Kepala Dinas Koperasi (Diksop) dan UMKM Kutim, Marhadyn, mengatakan pengembangan komoditas unggulan menjadi salah satu strategi pemerintah daerah dalam memperkuat ekonomi berbasis potensi lokal. Menurutnya, komoditas tersebut tidak lagi diarahkan hanya sebagai bahan baku, melainkan diolah menjadi produk bernilai ekonomi lebih tinggi.
"Yang pertama itu adalah nanas Himba yang memiliki produk turunan berupa serat daun nanas, manisan, dan minuman olahan. Kemudian ada pisang grecek, kakao, dan gula aren yang juga menjadi fokus pengembangan kami," ujar Marhadyn belum lama ini.
Untuk komoditas nanas Himba, Diskop UKM terus mendorong pemanfaatan seluruh bagian tanaman. Selain buah yang diolah menjadi manisan dan minuman, serat daun nanas juga dinilai memiliki prospek yang menjanjikan karena dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku industri.
Sementara itu, pada komoditas pisang grecek yang banyak dibudidayakan di Kecamatan Kaubun dan Kaliurang, pemerintah daerah mengembangkan berbagai produk olahan seperti Kalbana dan Fruity Box yang telah berhasil menembus pasar Belgia. Ke depan, pisang grecek juga akan didorong menjadi tepung sebagai salah satu produk hilirisasi yang memiliki peluang ekspor.
"Produk turunannya akan terus kami dukung. Pisang grecek tidak hanya dijual dalam bentuk buah segar, tetapi juga diolah agar memiliki nilai tambah dan mampu bersaing di pasar yang lebih luas," katanya.
Di sektor kakao, pembinaan difokuskan pada pengembangan produk hilir seperti Coklat Mantan dan Borco Chocolate yang diproduksi dari sentra kakao di Kecamatan Karangan, Kaubun, dan Pengadan. Menurut Marhadin, kedua produk tersebut memiliki prospek yang baik apabila didukung peningkatan kualitas produksi serta perluasan akses pasar.
Selain kakao, komoditas gula aren juga menjadi perhatian pemerintah daerah. Melalui proses hilirisasi, gula aren didorong menjadi produk gula semut yang memiliki nilai jual lebih tinggi dibandingkan dipasarkan dalam bentuk bahan baku.
Marhadyn menegaskan keberhasilan pengembangan empat komoditas unggulan tersebut memerlukan sinergi berbagai pihak. Karena itu, Diskop UKM terus membangun koordinasi dengan perangkat daerah (PD) lain agar proses pengembangan, mulai dari produksi, pengolahan hingga pemasaran, berjalan secara terpadu.
"Kami ingin semua bergerak bersama. Jangan ada lagi tumpang tindih program atau saling mengklaim. Masing-masing perangkat daerah harus mengambil perannya sesuai tugas dan kewenangannya agar potensi yang dimiliki Kutai Timur benar-benar bisa berkembang," tegasnya.
Ia berharap melalui pembinaan yang berkelanjutan, produk-produk unggulan Kutim tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan pasar lokal, tetapi juga semakin kompetitif di pasar nasional hingga internasional. Dengan demikian, hilirisasi komoditas lokal diharapkan mampu meningkatkan pendapatan petani sekaligus memperkuat posisi UMKM sebagai penggerak ekonomi daerah.(kopi13/kopi3)








