Widget Gambar

Dokter Jantung RSUD Kudungga Berpulang, Pemkab Kutim Berduka

Dokter Jantung RSUD Kudungga Berpulang, Pemkab Kutim Berduka
hms3
Memuat tombol bagikan...

alm. dr Fathcul Ulum, Sp.JP. Foto: Istimewa 

SANGATTA - Kabar duka menyelimuti Kabupaten Kutai Timur (Kutim). Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah RSUD Kudungga, dr Fathcul Ulum, Sp.JP binti Mohammad Muqim, wafat pada Selasa, 23 Juni 2026, pukul 10.48 WIB di RS Dharmais, Jakarta. Almarhumah juga dikenal sebagai Istri dari Wahyu, salah seorang Kabid Dinas Lingkungan Hidup Kutim.

Kepergian Aparatur Sipil Negara (ASN) yang mengabdikan diri di RSUD Kudungga itu meninggalkan kehilangan mendalam. Tidak hanya bagi keluarga dan rekan sejawat, tetapi juga bagi masyarakat Kutim yang tengah menantikan kiprahnya setelah berhasil menuntaskan pendidikan spesialis jantung dan pembuluh darah.

Awal Juni 2026 lalu, kabar menggembirakan sempat datang dari Jakarta, karena dr Fathcul Ulum berhasil menuntaskan pendidikan Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah pada Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia yang bekerja sama dengan Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita. Pencapaian tersebut menjadi harapan baru bagi peningkatan layanan kesehatan di Kutim. 

Di tengah kebutuhan tenaga dokter spesialis yang terus meningkat, keberhasilan almarhumah menyelesaikan pendidikan menjadi kabar yang disambut hangat oleh pemerintah daerah, kalangan tenaga kesehatan, dan masyarakat.

Namun takdir berkata lain. Di saat pengabdian yang lebih luas telah menanti di depan mata, almarhumah berpulang untuk selama-lamanya.

Rencana pemakaman akan dilaksanakan di kampung halaman almarhumah di Sangatta.

Atas wafatnya dr Fathcul Ulum, Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman menyampaikan belasungkawa mendalam atas nama pribadi, keluarga, dan Pemerintah Kabupaten Kutim.

“Innalillahi wa inna ilaihi raji'un. Kami atas nama pribadi, keluarga, dan Pemerintah Kabupaten Kutai Timur turut berduka cita yang sedalam-dalamnya atas berpulangnya dr. Fathcul Ulum, Sp.JP. Beliau adalah sosok yang telah memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan pelayanan kesehatan di Kutai Timur. Kami menyampaikan terima kasih atas pengabdian dan dedikasi almarhumah selama ini. Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadahnya, mengampuni segala khilaf dan dosanya, serta menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya,” ujar Ardiansyah.

Bupati juga mendoakan agar keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dalam menghadapi musibah tersebut.

“Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan keikhlasan, kekuatan hati, dan kesabaran dalam menghadapi cobaan ini. Kehilangan ini bukan hanya dirasakan keluarga besar almarhumah, tetapi juga masyarakat Kutai Timur,” katanya.

Ucapan duka serupa disampaikan Wakil Bupati Kutim, Mahyunadi. Ia mengenang almarhumah sebagai tenaga kesehatan yang memiliki semangat pengabdian dan terus berupaya meningkatkan kapasitas keilmuannya demi pelayanan kepada masyarakat.

“Kami sangat kehilangan. Almarhumah merupakan putra daerah yang telah menunjukkan dedikasi luar biasa dalam dunia kesehatan. Keberhasilannya menyelesaikan pendidikan dokter spesialis jantung dan pembuluh darah menjadi kebanggaan bagi Kutai Timur. Kami berterima kasih atas seluruh kontribusi yang telah diberikan bagi pelayanan kesehatan masyarakat,” ujar Mahyunadi.

Ia berharap keluarga yang ditinggalkan diberikan keteguhan hati dan ketenangan menghadapi masa duka.

“Semoga Allah SWT memberikan tempat terbaik bagi almarhumah, menerima seluruh amal ibadahnya, serta memberikan ketabahan kepada keluarga yang ditinggalkan. Kami mendoakan yang terbaik bagi almarhumah dan seluruh keluarga,” tambahnya.

Kepergian dr Fathcul Ulum menghadirkan ironi yang mengharukan. Setelah menempuh perjalanan panjang menuntut ilmu pada bidang kardiovaskular yang dikenal memiliki tingkat kesulitan tinggi, ia belum sempat mengabdikan seluruh kompetensi barunya kepada masyarakat yang menantikan kehadirannya. Meski demikian, jejak pengabdian yang telah ditorehkan almarhumah tetap menjadi warisan berharga bagi dunia kesehatan di Kutim. Di balik duka yang menyelimuti, tersimpan teladan tentang ketekunan, ikhtiar, dan pengabdian seorang dokter yang mendedikasikan hidupnya untuk kemaslahatan sesama.

"Allahummaghfirlaha warhamha wa ‘afiha wa’fu anha. Semoga almarhumah husnul khatimah, diterima seluruh amal ibadahnya, diampuni segala dosanya, dan keluarga yang ditinggalkan diberikan keikhlasan serta kesabaran. Aamiin ya Rabbal ‘alamin," demikian doa yang banyak berseliweran di pesan Whatsapp dan sosial media yang ditujukan kepada almarhumah. (kopi3)

Memuat tombol bagikan...