Penyaluran bantuan PMT untuk penderita TBC. Foto: Dewi/Pro Kutim
SANGATTA - Komitmen dalam mempercepat penanggulangan penyakit Tuberkulosis (TBC) di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) terus diperkuat. Langkah nyata ini ditunjukkan melalui penyaluran bantuan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) kepada 143 pasien TBC yang berada di bawah wilayah kerja Puskesmas Sangatta Utara, Puskesmas Sangatta Selatan, dan Puskesmas Teluk Lingga. Penyerahan bantuan dipusatkan di Puskesmas Sangatta Utara pada Jumat (12/6/2026).
Aksi sosial ini merupakan wujud kolaborasi strategis antara PT Kaltim Prima Coal (KPC) dengan para pemangku kepentingan kesehatan daerah. Agenda ini dihadiri langsung oleh Ketua Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PPTI) Kutim sekaligus Ketua TP PKK Kutim, Siti Robiah Ardiansyah, bersama jajaran tenaga kesehatan, kader pendamping, serta warga penerima manfaat.

Dalam sambutannya, Siti Robiah memberikan apresiasi tinggi kepada KPC atas kontribusi nyata dalam penanganan kesehatan masyarakat. Ia menekankan bahwa kesembuhan pasien TBC tidak hanya bertumpu pada obat-obatan, melainkan juga harus ditunjang oleh asupan nutrisi yang berkualitas.
“Penanganan TBC membutuhkan kerja sama semua pihak. Selain pengobatan yang rutin, pasien juga memerlukan dukungan gizi yang cukup. Bantuan ini diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan nutrisi pasien selama masa pengobatan agar daya tahan tubuh meningkat dan pemulihan berjalan optimal,” ujar Siti Robiah.

Siti Robiah juga menyelipkan pesan sosial kepada publik agar menghentikan stigma negatif terhadap penderita TBC. Sebaliknya, pihak keluarga dan lingkungan sekitar harus menjadi garda terdepan dalam memberikan dukungan moral serta material selama masa penyembuhan.
Pihak penyelenggara menjelaskan bahwa 143 paket PMT ini disalurkan secara terukur kepada pasien yang terdata aktif berobat di tiga puskesmas penopang area Sangatta. Intervensi gizi ini diharapkan mampu menaikkan status kesehatan pasien dan mendongkrak tingkat keberhasilan terapi yang sedang berjalan.

Di lokasi yang sama, para tenaga kesehatan yang mengawal acara kembali mengingatkan para pasien akan pentingnya disiplin mengonsumsi obat secara tuntas. Kepatuhan penuh selama berbulan-bulan menjadi kunci mutlak untuk mencegah terjadinya resistensi obat (kebal obat) yang jauh lebih berbahaya.
Rona bahagia tidak dapat disembunyikan dari wajah para penerima bantuan, salah satunya Ibu Nurlina. Ibu rumah tangga yang baru memasuki bulan ketiga dalam masa pengobatan TBC ini mengaku sangat terbantu dengan adanya paket sembako dan nutrisi tambahan tersebut.
“Alhamdulillah senang sekali, bahagia. Bantuan ini sangat membantu sekali karena memang keadaan kami termasuk golongan yang kurang mampu. Selama berobat, kebutuhan nutrisi memang sangat penting untuk pemulihan,” tutur Nurlina lirih. Ia pun menaruh harapan agar program stimulan seperti ini bisa terus berlanjut secara berkesinambungan.


Melalui sinergi lintas sektor antara dunia usaha, pemerintah daerah, kader pendamping, dan tenaga medis ini, Kutim optimistis dapat menekan laju penularan sekaligus menyukseskan target nasional eliminasi TBC di wilayah hilir. (kopi15/kopi13/kopi3)








