Widget Gambar

Empat Tahun Beruntun, KPC dan Puskesmas Sangatta Utara Support Paket PMT TBC

Empat Tahun Beruntun, KPC dan Puskesmas Sangatta Utara Support Paket PMT TBC
kopi 15
Memuat tombol bagikan...

Penyaluran bantuan PMT TBC. Foto: Dewi/Pro Kutim

SANGATTA - Mendongkrak angka kesembuhan dan memperbaiki status gizi para penderita Tuberkulosis (TBC), program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) kembali digulirkan di Kabupaten Kutai Timur (Kutim). Memasuki tahun keempat pelaksanaannya, program berbasis kolaborasi antara sektor kesehatan dan dunia usaha ini disokong penuh oleh PT Kaltim Prima Coal (KPC).

Penyaluran stimulan nutrisi ini menyasar para pasien yang tengah berjuang memulihkan fisik di masa pengobatan intensif. Pemegang Program TBC Puskesmas Sangatta Utara, Marisa Septiana, mengungkapkan bahwa penurunan berat badan drastis menjadi salah satu gejala umum yang paling sering menggerogoti fisik penderita TBC.

"Pasien TBC biasanya mengalami penurunan berat badan. Dengan adanya bantuan makanan tambahan ini diharapkan dapat membantu meningkatkan berat badan sekaligus mendukung keberhasilan pengobatan mereka," ujar Marisa saat ditemui di sela-sela kegiatan penyaluran bantuan, Jumat (12/6/2026).

Pada komitmen tahun ini, total bantuan yang disiapkan mencapai 143 paket nutrisi. Sinergi distribusi ini dibagi secara proporsional ke dalam tiga wilayah kerja fasilitas kesehatan penopang di ibu kota kabupaten yakni di wilayah Sangatta Utara 50 paket bantuan, Sangatta Selatan 50 paket bantuan dan Teluk Lingga 43 paket bantuan.

Menariknya, paket bantuan pangan ini tidak dipukul rata. Pihak puskesmas menerapkan formulasi khusus yang disesuaikan dengan rekam medis dan kondisi kesehatan masing-masing penerima manfaat agar dampaknya lebih optimal.

Bagi pasien TBC yang memiliki penyakit penyerta (komorbid) seperti Diabetes Melitus (DM), paket yang diberikan berupa telur, susu UHT, serta susu kaleng khusus. Sementara itu, bagi pasien tanpa keluhan penyakit penyerta, mereka menerima paket makanan tambahan dengan komposisi gizi yang jauh lebih lengkap.

Marisa membeberkan, saat ini jumlah penderita TBC yang berada di bawah pendampingan aktif Puskesmas Sangatta Utara berkisar di angka 30-an orang. Data tersebut bersifat dinamis karena selain bersumber dari temuan langsung di lapangan, sebagian pasien merupakan rujukan dari fasilitas kesehatan tingkat lanjut.

"Pasien berasal dari puskesmas maupun rujukan beberapa rumah sakit besar di Kutai Timur, seperti RSUD Kudungga, Rumah Sakit SOHC, dan Rumah Sakit Meloy," paparnya.

Mengingat bantuan ini bersumber dari pengajuan proposal tahunan ke PT KPC, pihak puskesmas juga menerapkan manajemen distribusi yang ketat terkait masa kedaluwarsa produk. Komoditas segar seperti telur menjadi prioritas utama yang diimbau untuk segera dikonsumsi oleh pasien karena sifatnya yang cepat rusak.

Sebaliknya, untuk bahan pangan kering yang memiliki masa simpan lebih panjang, pihak puskesmas akan mengelolanya secara fleksibel. Stok tersebut dapat dimanfaatkan kembali sebagai cadangan darurat apabila dalam waktu dekat ditemukan pasien TBC baru yang membutuhkan intervensi gizi serupa.

Melalui keberlanjutan program penguatan nutrisi ini, diharapkan rantai pemulihan pasien TBC di Kutim dapat berjalan tuntas. Langkah taktis perbaikan gizi ini menjadi instrumen penting mendampingi terapi obat, sekaligus memperkuat fondasi program pemerintah dalam menekan angka kasus TBC di daerah secara menyeluruh. (kopi15/kopi13/kopi3)

Memuat tombol bagikan...