HUT Ke-80 Bhayangkara. Foto: Alvian/Pro Kutim
SANGATTA - Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Bhayangkara di Gedung Serbaguna Bukit Pelangi, Sangatta, Rabu (1/7/2026), menghadirkan sebuah potret yang merekam perjalanan panjang sekaligus masa depan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri). Di tengah suasana perayaan, perhatian tertuju kepada dua anggota Polres Kutai Timur (Kutim) yang berdiri pada dua ujung masa pengabdian. Seorang telah mengabdikan diri selama 36 tahun, sementara seorang lainnya baru memulai perjalanan sebagai anggota Polri dua bulan lalu.
Pertemuan keduanya bukan hanya menghadirkan kontras usia dinas, melainkan juga melukiskan kesinambungan nilai-nilai pengabdian yang terus diwariskan di lingkungan kepolisian. Di satu sisi berdiri Kompol Suparman, personel paling senior di Polres Kutim. Di sisi lain hadir Bripda Dea Noviyanti, anggota termuda yang kini bertugas di Seksi Kedokteran dan Kesehatan (Sidokkes) Polres Kutim.
Bagi Kompol Suparman, HUT Bhayangkara tahun ini menjadi kesempatan untuk menoleh kembali ke jejak pengabdian yang telah ditempuh selama lebih dari tiga dasawarsa. Selama 36 tahun mengenakan seragam Bhayangkara, ia menyaksikan berbagai perubahan zaman, dinamika tugas, hingga transformasi Polri yang terus berikhtiar menjadi institusi yang profesional, presisi, dan humanis.
Di balik pengabdiannya sebagai anggota kepolisian, Suparman juga menjalani peran sebagai kepala keluarga. Sang istri, yang berprofesi sebagai guru taman kanak-kanak di Swarga Bara, Sangatta Utara, setia mendampingi setiap fase perjalanan dinasnya. Meski tidak satu pun anaknya memilih mengikuti jejak sebagai polisi, ia menghargai keputusan tersebut. Menurutnya, setiap orang memiliki jalan masing-masing untuk menghadirkan kemaslahatan (manfaat bagi sesama) dalam kehidupan.

"Alhamdulillah, selama 36 tahun saya diberi kesempatan mengabdi di Polri. Banyak suka dan duka yang saya lalui, tetapi satu hal yang selalu saya pegang, jadilah polisi yang bekerja dengan hati. Pangkat akan berhenti, jabatan akan berganti, tetapi kebaikan kepada masyarakat akan selalu dikenang," tutur Kompol Suparman.
Kalimat itu lahir dari pengalaman yang ditempa waktu dan menjadi pesan bagi generasi penerus Bhayangkara. Ia berharap anggota-anggota muda tidak hanya berorientasi pada capaian karier, tetapi juga menjaga kepercayaan masyarakat sebagai landasan utama keberadaan institusi kepolisian.
"Kepada adik-adik anggota yang masih muda, jangan pernah lelah belajar dan jangan cepat merasa puas. Jaga nama baik institusi dengan bekerja secara jujur, disiplin, dan rendah hati. Masyarakat tidak hanya membutuhkan polisi yang tegas, tetapi juga polisi yang mau mendengar, peduli, dan hadir saat mereka membutuhkan," pesannya.
Tidak jauh dari Suparman, Bripda Dea Noviyanti berdiri dengan semangat seorang Bhayangkara muda yang baru mengawali pengabdian. Dua bulan sejak resmi berdinas, ia dipercaya bertugas di Sidokkes Polres Kutim. Bagi Dea, pelayanan kepolisian tidak hanya diwujudkan melalui penegakan hukum, tetapi juga melalui pelayanan kesehatan yang cepat, tepat, dan dilandasi empati. Seragam yang dikenakannya dipandang sebagai amanah yang menuntut kesungguhan untuk terus belajar dari para senior yang lebih dahulu mengabdikan diri kepada masyarakat.
"Menjadi anggota Polri adalah kebanggaan sekaligus amanah besar bagi saya. Walaupun baru dua bulan berdinas, saya ingin terus belajar dari para senior yang telah mengabdikan hidupnya untuk masyarakat. Saya percaya, pengabdian yang besar selalu dimulai dari langkah-langkah kecil yang dilakukan dengan sungguh-sungguh," ujar Dea.

Menurutnya, semangat generasi muda dapat berpadu dengan pengalaman para senior untuk memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap Polri. Perpaduan itu menjadi bekal penting dalam menghadirkan pelayanan yang semakin baik.
"Semoga saya dan teman-teman angkatan muda bisa menjaga semangat, integritas, dan kepercayaan masyarakat. Kami ingin membuktikan bahwa generasi muda Polri siap melanjutkan pengabdian dengan sikap yang humanis, profesional, dan selalu mengutamakan pelayanan kepada masyarakat," katanya.
Momentum peringatan HUT ke-80 Bhayangkara mempertemukan dua generasi dalam satu ruang pengabdian. Kompol Suparman menghadirkan teladan, kebijaksanaan, serta pengalaman yang ditempa puluhan tahun menjalankan tugas. Sementara Bripda Dea Noviyanti membawa optimisme, daya juang, dan tekad untuk melanjutkan estafet pelayanan kepada masyarakat.
Di usia ke-80, Bhayangkara tidak hanya menandai perjalanan panjang sebuah institusi, tetapi juga merefleksikan bahwa kekuatan Polri bertumpu pada dedikasi para anggotanya di setiap generasi. Mereka yang telah mengabdi selama puluhan tahun maupun yang baru memulai langkah memiliki tujuan yang sama, yakni menjadi pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat dengan ketulusan, menjunjung integritas, serta memelihara kepercayaan publik yang menjadi fondasi utama pengabdian. (kopi4/kopi3)








