Widget Gambar

Ilmu Tinggi, Akhlak Kokoh, Pesan Ramadan untuk Generasi Muda Kutim

Ilmu Tinggi, Akhlak Kokoh, Pesan Ramadan untuk Generasi Muda Kutim
Irfan Aditama
Memuat tombol bagikan...

Ustad Syukron saat memberikan tausiah momen sebelum bukber dengan Wakil Bupati Kutim Mahyunadi dan Lentera Muda. Foto: Irfan/Pro Kutim

SANGATTA SELATAN – Masa depan sebuah daerah tidak lagi hanya bisa digantungkan pada melimpahnya kekayaan sumber daya alam. Di tengah pergeseran zaman, kualitas generasi muda yang memegang tongkat estafet kepemimpinan menjadi determinan utama. Urgensi penguatan kapasitas intelektual dan karakter moral ini mengemuka dalam dialog strategis antara Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) dengan kelompok pemuda di pesisir Teluk Kaba, Desa Sangkima, Minggu (1/3/2026) sore memasuki bulan suci Ramadan ke-10.

Kegiatan yang dibalut dalam suasana hangat buka puasa bersama (bukber) ini mempertemukan Wakil Bupati Kutim Mahyunadi dengan organisasi kepemudaan Lentera Muda Kutim. Di bawah langit senja Sangatta Selatan, diskusi tersebut melampaui sekadar pertemuan formal, melainkan menjadi ruang refleksi bagi pemuda pesisir dalam menatap tantangan global.

Ustaz Syukron, dalam tausiah menjelang berbuka puasa, menekankan pentingnya keseimbangan antara penguasaan ilmu pengetahuan (knowledge) dan perilaku (attitude). Menurut dia, kepintaran tanpa landasan moral hanya akan menciptakan pemimpin yang manipulatif, sementara moral tanpa pengetahuan akan melahirkan kepemimpinan yang tidak efektif.

"Pemuda hari ini adalah pemimpin masa depan. Secara intelektual, pengetahuan mereka harus melampaui batas, namun harus ada fondasi attitude atau akhlak yang kokoh. Pengetahuan memberikan tenaga, tetapi akhlaklah yang memberikan arah," ujar Ustaz Syukron di hadapan para pemuda Lentera Muda.

Wakil Bupati Kutim Mahyunadi mengamini pernyataan tersebut. Dalam pandangannya, investasi terbesar Pemerintah Kabupaten Kutim saat ini adalah pada kualitas manusia. Ia menekankan bahwa pendidikan formal yang direpresentasikan melalui ijazah tetap menjadi syarat administratif yang penting, namun kemampuan berpikir kritis adalah esensi sebenarnya dari pendidikan.

Mahyunadi mengingatkan bahwa pemuda di wilayah pesisir seperti Teluk Kaba tidak boleh merasa inferior. Sebaliknya, mereka harus menjadi subjek pembangunan yang aktif.

"Pendidikan adalah ruang untuk mengasah cara berpikir, mencari solusi, dan menciptakan inovasi. Namun, semua itu akan sia-sia jika tidak dibarengi dengan integritas untuk membangun daerah sendiri," tuturnya.

Dialog ini juga menangkap kegelisahan pemuda mengenai aksesibilitas. Sebagai wilayah yang berada di pinggiran, pemuda Lentera Muda menyuarakan pentingnya dukungan pemerintah dalam penyediaan infrastruktur pendukung kreativitas dan akses informasi yang setara dengan wilayah perkotaan.

Menanggapi hal itu, Mahyunadi menegaskan bahwa pemerintah daerah berkomitmen untuk terus membuka ruang kolaborasi. Menurut dia, sinergi antara pemerintah dan organisasi kepemudaan seperti Lentera Muda adalah kunci untuk memastikan program pembangunan tepat sasaran. Ia berharap para pemuda mampu menjadi "jembatan" yang menghubungkan aspirasi masyarakat desa dengan kebijakan pemerintah kabupaten.

Pertemuan di pelataran Musala Miftahul Huda tersebut diakhiri dengan komitmen bersama untuk menjaga harmoni di lingkungan Sangatta Selatan. Di tengah keterbatasan yang ada, semangat untuk membentuk generasi yang cerdas secara intelektual dan luhur secara budi pekerti diharapkan dapat menjadi modal utama bagi Kutim untuk bersaing di tingkat nasional maupun internasional.(kopi13/kopi3)

Memuat tombol bagikan...