Kades Karangan Ilir Jabir dalam pemaparan ekspor perdana biji kakao ke Bandung. Foto: Nasruddin/Pro Kutim
SANGATTA - Kecamatan Karangan, khususnya Desa Karangan Ilir, dikenal memiliki potensi perkebunan yang sangat menjanjikan. Berdasarkan data desa, wilayah ini memiliki luas lahan produktif kakao mencapai 140 hektare yang dikelola secara aktif oleh masyarakat setempat.
Dari luasan lahan tersebut, Karangan Ilir mampu mencatatkan angka produksi yang cukup fantastis, yakni mencapai 150 ton kakao kering per tahun. Namun, tantangan terbesar selama ini adalah bagaimana mengoptimalkan nilai jual dari ratusan ton hasil panen tersebut agar memberikan dampak kesejahteraan yang nyata bagi petani.
Kepala Desa Karangan Ilir, Jabir, yang hadir langsung dalam acara tersebut menyampaikan bahwa fokus utama pemerintah desa saat ini adalah mengubah pola pikir petani. Pihaknya terus mendorong agar seluruh hasil panen kakao kering di wilayahnya dapat beralih ke proses fermentasi.

"Pekerjaan rumah (PR) besar kita ke depan adalah bagaimana produksi yang mencapai 150 ton per tahun itu, semuanya bisa beranjak menjadi biji kakao fermentasi, seperti yang kita lakukan pengirimannya hari ini," ucapnya usai menghadiri launching ekspor antardaerah di Halaman Lobi Kantor Bupati Kutim, Rabu (17/6/2026) sore.
Jabir menambahkan, perjuangan untuk mengubah kebiasaan petani dari memproduksi kakao asalan menjadi kakao fermentasi bukanlah hal yang mudah. Kendati demikian, dalam kurun waktu dua tahun terakhir, upaya edukasi dan pendampingan yang konsisten mulai menunjukkan hasil yang sangat positif.
"Sampai saat ini, dari awal dua tahun ini, dari yang tidak ada sama sekali (nol persen) yang melakukan biji kakao fermentasi, sekarang sudah meningkat menjadi 30 persen bahkan 40 persen dari petani yang sudah beralih," urai Jabir secara rinci.
Peralihan metode pengolahan ini rupanya dipicu oleh perbedaan nilai ekonomis yang sangat mencolok. Biji kakao yang melalui proses fermentasi memiliki kualitas yang jauh lebih premium, sehingga dihargai jauh lebih tinggi di pasar industri pengolahan cokelat.
"Kenapa mereka beralih? Karena dari sisi peningkatan ekonominya itu luar biasa sekali. Dari biji kakao asalan ke biji kakao fermentasi itu selisih harganya bisa sampai Rp 20.000 per kilo," tambahnya dengan penuh optimisme.
Melalui kerja sama pasokan rutin sebanyak 2 ton per bulan ke PT Rasantara Citra Pangan Bandung, perputaran uang di tingkat petani dipastikan akan melonjak tajam. Sebagai gambaran, volume pengiriman perdana ini saja sudah mampu menyumbang angka pendapatan yang sangat signifikan bagi desa.
"Yang kita lakukan pengiriman hari ini, 2 ton ini kalau kita uangkan itu mencapai Rp 200 juta, hanya se-mobil kecil seperti ini," tutupnya.(kopi14/kopi13/kopi3)








