Widget Gambar

Kembali Bangkit, Warga Sepaso Dibantu Pemkab Kutim dan Baznas

Kembali Bangkit, Warga Sepaso Dibantu Pemkab Kutim dan Baznas
Vian Pro kutim
Memuat tombol bagikan...

Foto: ist

BENGALON - Asap memang telah lama sirna dari langit Desa Sepaso, Kecamatan Bengalon. Namun bagi puluhan warga yang menjadi korban kebakaran pada Sabtu, (18/4/2026), jejak musibah itu masih membekas dalam ingatan dan kehidupan sehari-hari. Tiga rumah di Jalan M Yusuf RT 004 luluh lantak dilalap si jago merah, menyisakan puing, arang, dan kegamangan bagi para penghuninya.


Peristiwa itu bermula sekitar pukul 14.15 WITA. Dugaan sementara mengarah pada korsleting listrik yang terjadi di lantai dua salah satu rumah warga. Dalam waktu singkat, kobaran api menjelma menjadi amukan yang sulit dibendung. Material bangunan yang sebagian besar berbahan kayu membuat api menjalar dengan cepat dari satu sudut ke sudut lainnya.


Warga setempat berikhtiar melakukan pemadaman secara mandiri sembari menunggu bantuan tiba. Empat unit mobil pemadam kebakaran dari Kecamatan Bengalon bersama dua unit tambahan dari perusahaan di sekitar lokasi diterjunkan untuk mengendalikan keadaan.

Setelah hampir dua jam berjibaku melawan kobaran, api akhirnya berhasil dipadamkan sekitar pukul 16.00 WITA. Tiga rumah yang hangus terbakar diketahui milik Muhayyang (59), Mukransyah (55), dan Fitriani (33). Tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut, tetapi kerugian material diperkirakan mencapai sekitar Rp200 juta.

Di tengah suasana yang masih dipenuhi duka, secercah harapan datang beberapa hari kemudian. Pada Selasa, (21/4/2026), Pemkab Kutim) bersama Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) menyalurkan bantuan kepada para korban. Penyerahan bantuan dilakukan langsung oleh Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman, di Desa Sepaso. Kehadiran pemerintah daerah bukan semata membawa bantuan material, melainkan juga pesan penguatan bagi warga yang sedang berusaha menata kembali kehidupannya.

“Musibah ini tentu menjadi duka bersama. Kami hadir bukan hanya untuk menyerahkan bantuan, tetapi juga untuk memastikan warga yang terdampak tidak merasa sendiri. Pemerintah akan terus berupaya memberikan perhatian dan dukungan agar masyarakat bisa segera bangkit, membangun kembali rumahnya, dan kembali menjalani kehidupan dengan lebih baik,” ujarnya.

Menurut Ardiansyah, bencana semacam ini juga menjadi pengingat akan pentingnya kewaspadaan dalam kehidupan sehari-hari. Ia menekankan perlunya perhatian terhadap instalasi listrik dan penggunaan peralatan rumah tangga yang berpotensi memicu kebakaran.

“Saya mengimbau seluruh masyarakat untuk lebih berhati-hati, terutama dalam memeriksa instalasi listrik di rumah masing-masing. Jangan menyepelekan hal-hal kecil seperti kabel yang sudah rusak, colokan listrik yang berlebihan, maupun peralatan elektronik yang masih menyala saat ditinggalkan. Kewaspadaan adalah langkah awal untuk mencegah musibah seperti ini terulang kembali,” tegasnya.

Bantuan yang disalurkan menjadi tumpuan awal bagi para korban untuk memulai kembali kehidupan yang porak-poranda. Ketua Baznas Kutim, Masnif Sofwan, menjelaskan total bantuan yang diberikan mencapai Rp135 juta dan menyasar 52 warga terdampak.
Sebanyak empat kepala keluarga pemilik rumah menerima bantuan masing-masing Rp10 juta. Sementara itu, 19 kepala keluarga yang berstatus mengontrak atau menyewa rumah memperoleh bantuan masing-masing Rp5 juta.

“Bantuan ini merupakan bentuk kepedulian Baznas bersama pemerintah daerah untuk membantu meringankan beban para korban kebakaran, agar mereka bisa segera bangkit kembali,” ujar Masnif.

Dukungan tidak berhenti pada bantuan tunai. Dinas Sosial Kutai Timur turut menyalurkan berbagai kebutuhan pokok guna memastikan warga terdampak tetap dapat menjalani aktivitas sehari-hari. Bantuan yang diberikan meliputi mi instan, sembako, perlengkapan sekolah, sarung, selimut, hingga kebutuhan khusus bagi warga lanjut usia.

Kepala Dinas Sosial Kutim, Ernata Hadi Sujito, mengatakan perhatian diberikan terutama kepada kelompok rentan yang paling merasakan dampak pascabencana.

“Dinas Sosial hadir untuk memastikan kebutuhan dasar para korban tetap terpenuhi, terutama bagi anak-anak sekolah dan warga lanjut usia yang membutuhkan perhatian khusus,” kata Ernata.

Bagi para korban, bantuan tersebut bukan sekadar santunan. Di tengah kehilangan yang begitu besar, uluran tangan itu menjadi penanda bahwa mereka tidak sedang menghadapi cobaan seorang diri.

Muhayyang, salah satu pemilik rumah yang hangus terbakar, mengaku masih berusaha menerima kenyataan bahwa seluruh harta benda yang selama ini dikumpulkan lenyap dalam hitungan jam.

“Semua barang habis terbakar, pakaian, peralatan rumah, bahkan perlengkapan sekolah anak juga tidak tersisa. Kami benar-benar bingung harus mulai dari mana. Bantuan ini sangat membantu kami untuk bertahan dan perlahan memulai kembali. Terima kasih karena pemerintah sudah datang dan peduli dengan keadaan kami,” tuturnya.

Perasaan serupa disampaikan Fitriani. Baginya, musibah tersebut memang memaksa keluarganya memulai segalanya dari awal. Namun perhatian yang mengalir dari berbagai pihak menjadi suluh (penerang) yang menumbuhkan kembali semangat untuk bangkit.

“Kami sedih karena rumah habis dan harus memulai semuanya dari nol. Tapi kami merasa tidak sendiri karena banyak yang datang membantu, termasuk dari pemerintah dan tetangga sekitar. Itu membuat kami lebih kuat dan lebih semangat untuk bangkit lagi,” katanya.

Di penghujung kegiatan penyaluran bantuan, Ardiansyah turut mengajak masyarakat, terutama aparatur sipil negara, untuk terus menyalurkan zakat melalui Baznas. Menurutnya, dana zakat yang terhimpun dapat menjadi penyangga kemanusiaan ketika warga menghadapi musibah yang datang tanpa aba-aba.

Di Desa Sepaso, bara yang pernah melalap rumah-rumah warga memang telah padam. Namun dari puing-puing yang tersisa, tumbuh ikhtiar baru untuk menata kehidupan. Bantuan yang datang mungkin tidak dapat mengembalikan seluruh yang hilang, tetapi menjadi pijakan awal agar para korban kembali menapak hari esok dengan harapan yang menyala. (kopi4/kopi3)

Memuat tombol bagikan...