Widget Gambar

KPC dan Odah Etam Kompak Bersinergi Atasi Sampah Plastik di Kutim

KPC dan Odah Etam Kompak Bersinergi Atasi Sampah Plastik di Kutim
Kopi 8
Memuat tombol bagikan...

Audiensi Komunitas Odah Etam bersama PT KPC dengan Bupati Kutim. Foto: Miftah/Prokutim

SANGATTA – Permasalahan sampah khususnya plastik, masih menjadi tantangan terbesar dalam pengelolaan lingkungan di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) terutama di wilayah Sangatta. Berbagai pihak pun mulai mendorong kolaborasi untuk mencari solusi berkelanjutan atas persoalan tersebut.

Salah satu upaya konkret ditunjukkan melalui sinergi antara PT Kaltim Prima Coal (KPC) bersama komunitas kepemudaan Odah Etam yang mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Kabupaten Kutim. Kolaborasi ini dibahas dalam audiensi bersama Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman, yang berlangsung di ruang kerja Bupati pada Kamis (26/3/2026).

Dalam pertemuan tersebut, Bupati Ardiansyah Sulaiman menyampaikan apresiasinya terhadap inisiatif yang digagas oleh komunitas Odah Etam dengan dukungan KPC. Ia menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk mendukung program-program inovatif yang mampu menjawab persoalan sampah, sekaligus mendorong keberlanjutan lingkungan.

“Pemerintah daerah mendukung penuh program ini dan berharap dapat berjalan secara berkelanjutan, tidak berhenti di tengah jalan,” ujarnya.

Sementara itu, Superintendent Local Business Development KPC, Faizal, menekankan pentingnya peran generasi muda dalam menciptakan solusi kreatif terhadap persoalan lingkungan. Menurutnya, program yang dijalankan tidak hanya berorientasi pada penyelesaian masalah sampah, tetapi juga memiliki potensi nilai tambah secara ekonomi.

“Kami berharap teman-teman muda ini mampu menghadirkan program yang tidak hanya mengurangi sampah, tetapi juga menghasilkan produk bernilai ekonomi,” ungkapnya.

Keunikan dari komunitas Odah Etam terletak pada kemampuannya mengolah sampah plastik tidak hanya sampai tahap pencacahan, tetapi hingga menjadi produk jadi yang memiliki nilai guna. Hal ini dinilai sebagai langkah inovatif dalam pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular.

Founder Odah Etam, Ibnu Mahaddhir, mengungkapkan bahwa pihaknya berencana melakukan studi banding pada bulan April ke Rumah Plastik di Buleleng, Bali. Kegiatan tersebut bertujuan untuk menambah wawasan, membangun relasi, dan belajar dari praktik pengelolaan sampah yang telah berhasil diterapkan disana.

“Kami ingin belajar langsung dari pengalaman di sana, bukan sekadar meniru, tetapi mengembangkan inovasi yang sesuai dengan kondisi di Kutai Timur,” jelasnya.

Ia juga berharap Odah Etam dapat menjadi wadah yang amanah sekaligus inspiratif bagi generasi muda lainnya dalam menjaga lingkungan.

Sebagai komunitas kepemudaan yang bergerak di bidang lingkungan hidup, pariwisata, dan budaya, Odah Etam pada tahun ini memfokuskan programnya pada isu lingkungan, khususnya pengelolaan sampah plastik di Sangatta.

Diharapkan, kolaborasi lintas sektor ini mampu menjadi solusi nyata sekaligus model pengelolaan sampah yang berkelanjutan di Kutim.(kopi8/kopi13)

Memuat tombol bagikan...