Suasana jalannya High Level Meeting Tim Pengendalian Inflasi Daerah. Foto: Alvian/Pro Kutim
SANGATTA - Ancaman fenomena El Niño yang diprakirakan memicu musim kemarau berkepanjangan mulai diantisipasi secara sistematis oleh Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Pemkab Kutim). Potensi terganggunya produksi pertanian, kenaikan harga bahan pangan, hingga risiko kerawanan pangan menjadi perhatian dalam High Level Meeting (HLM) Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) yang digelar di Ruang Tempudau, Sekretariat Kabupaten Kutim, Senin (13/7/2026).
Dalam forum tersebut, pemerintah mengungkapkan telah menyiapkan 83.640,98 kilogram beras sebagai Cadangan Pangan Pemerintah Daerah (CPPD). Stok itu disiapkan agar masyarakat tetap memperoleh akses terhadap pangan apabila terjadi gagal panen, bencana alam, wilayah terisolasi, maupun gejolak harga bahan pokok akibat dampak perubahan iklim.
Rapat dipimpin Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman dan dihadiri perwakilan Bank Indonesia Regional Kalimantan Timur. Perangkat Daerah lingkup Pemkab Kutim melibatkan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kutim, Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Dinas Tanaman Pangan, Dinas Hortikultura dan Peternakan (DTPHP), Badan Pusat Statistik (BPS), Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) Bengalon, serta sejumlah organisasi perangkat daerah terkait.
Pelaksana Tugas Kepala Bidang Distribusi dan Cadangan Pangan Dinas Ketahanan Pangan Kutim, Alidi, menjelaskan bahwa pemerintah telah menyiapkan tiga langkah pokok dalam menghadapi kemungkinan dampak El Niño. Strategi tersebut meliputi penguatan cadangan pangan pemerintah, perluasan pelaksanaan Gerakan Pangan Murah (GPM). Serta pengembangan pemanfaatan pekarangan rumah sebagai sumber pangan keluarga. Menurut Alidi, keberadaan cadangan pangan merupakan benteng awal ketika masyarakat menghadapi situasi darurat. Bantuan tersebut dapat segera disalurkan saat terjadi bencana, kebakaran, gagal panen, kawasan terisolasi, maupun lonjakan harga kebutuhan pokok.

"Cadangan pangan pemerintah daerah disiapkan untuk mencegah dan menanggulangi kerawanan pangan. Dengan stok yang tersedia, pemerintah dapat bergerak cepat membantu masyarakat ketika terjadi keadaan darurat maupun gejolak harga pangan," ujar Alidi.
Ia memaparkan, stok CPPD yang saat ini tersimpan di Perum Bulog Samarinda mencapai 83.640,98 kilogram beras. Sebelumnya, sebanyak 2.340 kilogram telah disalurkan kepada 117 kepala keluarga korban kebakaran di Desa Batu Timbau, Kecamatan Batu Ampar. Masing-masing keluarga menerima bantuan sebanyak 20 kilogram beras.
Penyaluran cadangan pangan tersebut, kata Alidi, dilakukan sesuai Peraturan Bupati Kutim Nomor 10 Tahun 2021. Mekanismenya dimulai dari usulan pemerintah desa berdasarkan data penerima (by name by address atau berdasarkan nama dan alamat penerima), dilanjutkan rekomendasi camat, kemudian memperoleh persetujuan Bupati sebelum bantuan disalurkan kepada masyarakat. Selain memperkuat cadangan beras, pemerintah daerah juga mempertahankan stabilitas harga melalui pelaksanaan Gerakan Pangan Murah. Hingga pertengahan 2026, program tersebut telah dua kali dilaksanakan dengan menyediakan beras SPHP dan minyak goreng bagi masyarakat. Untuk semester kedua tahun ini, Dinas Ketahanan Pangan menjadwalkan enam kali pelaksanaan Gerakan Pangan Murah pada periode Agustus hingga Desember sebagai salah satu instrumen menjaga keterjangkauan harga pangan.
"Gerakan Pangan Murah menjadi salah satu instrumen menjaga daya beli masyarakat. Ketika harga pangan bergejolak, masyarakat tetap bisa memperoleh kebutuhan pokok dengan harga yang lebih terjangkau," kata Alidi.
Meski demikian, ia menegaskan ketahanan pangan tidak cukup hanya mengandalkan cadangan beras maupun intervensi pasar. Karena itu, pemerintah juga mengembangkan Program Teras Pangan B2SA (Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman) melalui pembagian benih sayuran, polybag, serta pupuk kompos kepada kelompok Dasa Wisma. Program itu diarahkan agar pekarangan rumah dapat dimanfaatkan sebagai lahan produksi berbagai komoditas hortikultura.

"Kalau masyarakat sudah terbiasa menanam kebutuhan dapurnya sendiri, dampak kenaikan harga maupun terganggunya pasokan pangan akan jauh lebih kecil. Ketahanan pangan yang paling kuat justru dimulai dari rumah tangga," jelasnya.
Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman menilai upaya memperkuat ketahanan pangan akan lebih kokoh apabila melibatkan seluruh lapisan masyarakat. Ia mengajak setiap desa mengembangkan pemanfaatan pekarangan sebagai gerakan bersama dengan mencontoh konsep Kampung Beragam yang telah diterapkan di Desa Sangatta Utara.
"Saya berharap desa-desa di Kutai Timur bisa meniru apa yang sudah dilakukan Desa Sangatta Utara melalui konsep Kampung Beragam. Setiap RT jangan hanya mengandalkan pasokan dari pasar, tetapi mulai menanam berbagai kebutuhan dapur di pekarangan masing-masing. Tanam cabai, tomat, daun bawang, seledri, serai, terong, atau sayur-sayuran lainnya. Kalau setiap rumah memanfaatkan lahannya, kebutuhan pangan keluarga akan lebih terjamin, bahkan kalau hasilnya berlebih bisa dijual untuk menambah penghasilan," ujar Ardiansyah.

Menurut Ardiansyah, gerakan tersebut bukan semata penghijauan, melainkan ikhtiar jangka panjang membangun kemandirian pangan berbasis keluarga. Ketika setiap rumah mampu memenuhi sebagian kebutuhan pangannya sendiri, dampak gejolak pasokan dan fluktuasi harga diyakini dapat ditekan.
"Kita tidak bisa mengendalikan cuaca, tetapi kita bisa mempersiapkan diri. Ketahanan pangan harus dimulai dari rumah, kemudian berkembang menjadi gerakan di tingkat RT, desa, hingga kecamatan. Kalau ini dilakukan bersama-sama, saya yakin dampak El Niño terhadap masyarakat bisa kita tekan," tegasnya.
Melalui penguatan cadangan beras sebanyak 83.640,98 kilogram, perluasan Gerakan Pangan Murah, serta pengembangan pemanfaatan pekarangan rumah, Pemkab Kutim berupaya membangun sistem ketahanan pangan yang bertumpu pada sinergi antara kebijakan pemerintah dan keterlibatan warga. Langkah antisipatif itu diharapkan mampu menjaga ketersediaan pangan, mempertahankan daya beli masyarakat, sekaligus mengendalikan inflasi pangan ketika dampak El Niño mulai dirasakan. (kopi4/kopi3)








