Widget Gambar

Kutim Susun Tiga Buku untuk Merawat Jejak Sejarah 

Kutim Susun Tiga Buku untuk Merawat Jejak Sejarah 
Kopi 17
Memuat tombol bagikan...

Seminar Laporan Pendahuluan Kajian Penulisan Sejarah. Foto: Lintang/Maulana/Pro Kutim

SANGATTA — Sejarah bukan sekadar catatan tentang masa lalu. Di dalamnya tersimpan identitas masyarakat, jejak kebudayaan, perubahan kehidupan, serta cerita tentang bagaimana sebuah daerah tumbuh. Ketika didokumentasikan dengan baik, jejak tersebut tidak hanya menjadi sumber pengetahuan bagi generasi mendatang, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi bagian dari daya tarik wisata sejarah dan budaya.

Hal inilah yang menjadi alasan Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) mulai menyusun tiga buku sejarah yang mengangkat budaya dan kehidupan masyarakat, perkembangan Islam, serta sejarah masyarakat adat Dayak Kenyah Lepoq Jalan.Penyusunan buku tersebut dibahas melalui Seminar Laporan Pendahuluan Kajian Penulisan Sejarah di Ruang Damar, Gedung Serba Guna Bukit Pelangi, Selasa (22/9/2026).

Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman yang diwakili Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutim, Mulyono, saat membuka seminar menekankan pentingnya menjadikan sejarah sebagai dokumentasi yang dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.

“Saya sangat berharap semua kegiatan yang khususnya terkait dengan sejarah ataupun kegiatan yang bersifat event-event itu dibukukan menjadi sebuah buku. Bukan hanya sekadar poster atau sekadar catatan biasa,” kata Mulyono saat menyampaikan sambutan Bupati.

Ia menilai dokumentasi tersebut juga dapat memperkuat keberadaan museum Kutim yang pembangunannya mulai dilaksanakan tahun ini. Buku-buku sejarah nantinya diharapkan menjadi bagian dari koleksi yang melengkapi berbagai bukti dan artefak sejarah di dalam museum.

“Yang terpenting lagi adalah harapan saya nantinya buku-buku ini akan menjadi koleksi museum,” ujarnya.

Menurut Mulyono, sejarah yang terdokumentasi dengan baik juga dapat memberikan gambaran yang lebih utuh mengenai identitas Kutim. Karena itu, proses penulisannya perlu melibatkan berbagai pihak yang mengetahui langsung sejarah, budaya dan perkembangan masyarakat daerah.

“Harapan kita buku ini betul-betul terstandar dan betul-betul bisa menceritakan bagaimana kondisi yang sesungguhnya, bagaimana kondisi riil yang ada di Kutai Timur,” jelasnya.

Ia meminta tim penulis membuka ruang seluas-luasnya bagi masyarakat, tokoh adat, kalangan pendidikan, organisasi keagamaan maupun pihak lain yang memiliki pengetahuan dan sumber sejarah untuk memberikan koreksi serta informasi tambahan.

Dari sisi kebudayaan, Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Kutim, Ilham, mengatakan kajian tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah daerah menggali, mendokumentasikan, melestarikan sekaligus memperkenalkan sejarah dan kebudayaan Kutim.

“Ketiga karya tersebut diharapkan dapat menjadi bagian dari dokumentasi sejarah daerah sekaligus sumber informasi dan referensi bagi pemerintah daerah, masyarakat, dunia pendidikan dan generasi mendatang,” ujarnya dalam laporan panitia.

Tiga buku yang disiapkan masing-masing berjudul Kisah-Kisah dari Kutai Timur: Budaya, Tradisi, dan Kehidupan, Menelusuri Jejak Islam di Bumi Kutai Timur, serta Sejarah dan Perkembangan Masyarakat Adat Dayak Kenyah Lepoq Jalan.

Ketiga tema tersebut sekaligus memperlihatkan keragaman cerita yang membentuk Kutim. Sejarah kebudayaan, perkembangan kehidupan keagamaan dan perjalanan masyarakat adat menjadi bagian dari identitas yang dapat diperkenalkan lebih luas.

Bagi sektor pariwisata, dokumentasi semacam ini dapat menjadi bahan untuk membangun narasi destinasi. Situs, tradisi, komunitas adat, tokoh, maupun peristiwa sejarah memiliki nilai lebih ketika masyarakat dan wisatawan mengetahui cerita yang melatarbelakanginya.

Karena itu, seminar tersebut tidak hanya menjadi ruang untuk memeriksa substansi awal buku, tetapi juga untuk memperkaya sumber sejarah. Peserta diberikan kesempatan menyampaikan tanggapan, koreksi, informasi tambahan dan masukan sebelum penulisan memasuki tahapan berikutnya.

Kajian dilaksanakan melalui mekanisme swakelola tipe II dengan melibatkan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) Universitas Mulawarman sebagai pihak yang memiliki kompetensi dalam penelitian dan penulisan sejarah.

Seminar diikuti sekitar 50 peserta dari berbagai unsur, mulai dari pemerintah daerah, DPRD, perguruan tinggi, organisasi keagamaan, satuan pendidikan, organisasi kebudayaan, masyarakat adat, komunitas hingga media.

Pembahasan kemudian dibagi dalam dua sesi. Sesi pertama membahas penulisan sejarah Islam serta sejarah dan perkembangan masyarakat adat Dayak Kenyah Lepoq Jalan. Sementara sesi kedua membahas penulisan sejarah budaya Kutim.

Melalui proses tersebut, sejarah Kutim diharapkan tidak berhenti sebagai cerita masa lalu. Dokumentasi yang kuat dapat menjadi sumber pembelajaran, memperkuat identitas daerah, melengkapi koleksi museum, sekaligus membuka ruang bagi pengembangan wisata yang bertumpu pada cerita dan kekayaan budaya Kutai Timur. (kopi17/kopi4/kopi3)

Memuat tombol bagikan...