Pengawas Farmasi dan Makanan Ahli Madya Balai Besar POM Samarinda, Pranandari Kenyowulan saat mengisi materi keamanan pangan. Foto: Alvian/Pro Kutim
SANGATTA - Secangkir kopi manis di sela pekerjaan, kudapan ringan yang menemani rapat daring, makanan cepat saji saat malam menjelang, hingga kebiasaan terjaga hingga larut merupakan fragmen keseharian yang kian lazim dalam lanskap kehidupan modern. Di tengah ritme yang serbacepat itu, ada satu perkara yang kerap terpinggirkan dari kesadaran publik, apa itu? Keamanan pangan.
Bagi sebagian orang, keamanan pangan masih dipahami sebatas bebas dari bahan berbahaya atau zat kimia terlarang. Padahal, ruang lingkupnya jauh lebih luas. Ia mencakup pola konsumsi, cara pengolahan, hingga kebiasaan makan yang berlangsung secara berulang dalam jangka panjang.
Pengawas Farmasi dan Makanan Ahli Madya Balai Besar POM di Samarinda, Pranandari Kenyowulan, menilai perubahan gaya hidup masyarakat turut membawa konsekuensi terhadap kesehatan apabila tidak diimbangi dengan pola konsumsi yang bijaksana.
"Yang perlu menjadi perhatian adalah kebiasaan ini dilakukan hampir setiap hari. Makanan dan minuman tinggi gula, karbohidrat, dan lemak jika dikonsumsi terus-menerus dapat menjadi bumerang bagi kesehatan, terlebih jika disertai kebiasaan begadang dan kurang istirahat," ujarnya pada acara sosialisasi keamanan pangan yang berlangsung di Ruang Akasia, Gedung Serba Guna Bukit Pelangi, pada Rabu (24/6/2026)
Menurut Pranandari, tubuh manusia memerlukan waktu istirahat yang memadai untuk menjalankan proses pemulihan serta regenerasi sel. Ketika kebutuhan tersebut terabaikan, sementara asupan pangan tinggi gula dan lemak terus mengalir, maka peluang munculnya berbagai penyakit tidak menular menjadi semakin besar.

Fenomena ini memperlihatkan bahwa ancaman terhadap kesehatan tidak selalu datang secara tiba-tiba. Ia dapat tumbuh perlahan melalui kebiasaan yang tampak lumrah dan berlangsung setiap hari. Dalam khazanah kesehatan masyarakat, kondisi semacam itu sering kali menjadi ancaman laten, hadir tanpa disadari, namun menyimpan dampak yang tidak kecil pada masa mendatang.
Selain pola konsumsi, cara mengolah makanan juga memegang peranan penting dalam menjaga keamanan pangan. Pranandari menjelaskan bahwa teknik memasak dengan suhu terlalu tinggi dapat memunculkan senyawa yang berpotensi membahayakan kesehatan.
"Sekarang banyak makanan yang dibakar atau digoreng sampai gosong karena dianggap lebih enak. Padahal kondisi itu justru dapat menghasilkan senyawa berbahaya yang bersifat karsinogenik atau memicu kanker," katanya di hadapan peserta sosialisasi.
Ia menerangkan, pada pangan berprotein seperti ikan, ayam, dan daging yang dibakar langsung di atas bara api atau dimasak hingga hangus, dapat terbentuk senyawa benzopiren. Senyawa tersebut dikenal sebagai salah satu zat karsinogenik yang berpotensi meningkatkan risiko kanker. Tidak hanya itu, pemanasan tinggi pada pangan yang mengandung nitrat dan nitrit dapat menghasilkan nitrosamin yang memiliki karakteristik serupa. Adapun pada bahan pangan kaya karbohidrat seperti kentang, tepung, biji-bijian, dan kopi, pemanasan berlebih berpotensi membentuk akrilamida yang dalam paparan jangka panjang dapat berdampak buruk bagi kesehatan. Pranandari menegaskan bahwa paparan berulang terhadap senyawa karsinogenik dapat memicu perubahan pada materi genetik tubuh.
"Jika paparan senyawa karsinogenik terlalu tinggi dan berlangsung dalam waktu lama, dapat terjadi mutasi DNA yang menyebabkan pertumbuhan sel tidak terkendali dan meningkatkan risiko kanker," jelasnya.
Dalam perspektif keamanan pangan, ancaman tidak hanya bersumber dari bahaya kimia. Terdapat pula bahaya biologis berupa cemaran bakteri, virus, maupun jamur yang dapat menyebabkan keracunan pangan. Di sisi lain, bahaya fisik dapat muncul melalui masuknya benda asing seperti serpihan logam, kaca, plastik, atau material lain ke dalam makanan yang dikonsumsi.

Kewaspadaan terhadap persoalan ini juga dirasakan para orang tua. Salah seorang ibu rumah tangga, Ana Indriawaty, mengaku memiliki kekhawatiran tersendiri terhadap makanan dan minuman yang dikonsumsi anaknya ketika berada di lingkungan sekolah.
"Sebagai orang tua, saya sering khawatir karena tidak bisa memantau langsung apa yang dibeli dan dimakan anak saat di sekolah. Kita tidak tahu jajanan yang mereka beli di kantin atau di sekitar sekolah itu seperti apa proses pembuatannya dan apakah benar-benar aman untuk dikonsumsi," ujarnya.
Menurut Ana, pemahaman mengenai keamanan pangan perlu menjangkau lebih banyak pihak, tidak hanya orang tua, tetapi juga pengelola kantin sekolah dan pelaku usaha pangan di sekitar lingkungan pendidikan. Dengan demikian, anak-anak dapat memperoleh jajanan yang aman, sehat, dan bergizi.
Pesan yang mengemuka dari persoalan ini sesungguhnya sederhana: keamanan pangan bukan hanya soal apa yang dimakan, melainkan juga bagaimana makanan itu diolah dan seberapa sering dikonsumsi. Pola makan berimbang, pembatasan konsumsi gula, garam, dan lemak secara berlebihan, menghindari makanan yang terlalu gosong, serta menerapkan teknik pengolahan yang tepat merupakan ikhtiar mendasar untuk menjaga kesehatan.
Di tengah arus modernitas yang terus bergerak, kesadaran terhadap keamanan pangan menjadi semakin penting. Tanggung jawab tersebut tidak semata berada di pundak produsen atau pengawas, melainkan juga pada setiap individu yang menentukan apa yang masuk ke dalam tubuhnya setiap hari. Sebab, pangan yang aman pada akhirnya bukan hanya persoalan bahan baku, melainkan hasil dari keseluruhan proses. Mulai dari pengolahan hingga kebiasaan konsumsi yang dijalani secara berkelanjutan. (kopi4/kopi3)








