Widget Gambar

Mahyunadi Bacakan Pesan Bupati di Salat Idulfitri, Bijak Ber-medsos di Era Digitalisasi

Mahyunadi Bacakan Pesan Bupati di Salat Idulfitri, Bijak Ber-medsos di Era Digitalisasi
Vian Pro kutim
Memuat tombol bagikan...

Teks foto: Kebersamaan Wakil Bupati Mahyuandi bersama warga di Salat Idulfitri 1447 H di Masjid At Taubah, Sangatta Selatan (Vian Pro Kutim)

SANGATTA - Pagi yang bening belum lama merekah ketika halaman Masjid At Taubah dipenuhi langkah-langkah yang datang dari beragam penjuru. Di bawah cahaya lembut Idulfitri 1447 Hijriah, pelaksanaan Salat Idulfitri menjelma menjadi ruang temu yang hangat, bukan hanya perjumpaan ragawi, melainkan juga pertautan batin antarsesama warga.

Di antara hadirin, tampak Wakil Bupati Kutai Timur (Wabup Kutim), Mahyunadi. Kehadirannya menghadirkan kesan tersendiri. Sebuah isyarat harmoni yang mengalir tenang di tengah dinamika kehidupan publik. Momentum ini menjadi penanda bahwa ikhtiar membangun daerah bertumpu pada keselarasan dan semangat kebersamaan.

Teks foto: Suasana Salat Idulfitri 1447 H di Masjid At Taubah, Sangatta Selatan. (Vian Pro Kutim)


Rangkaian kegiatan berlangsung dalam suasana yang bersahaja namun sarat makna. Lantunan doa dan percakapan ringan berkelindan, mencipta atmosfer yang akrab. Warga yang hadir tampak larut dalam nuansa silaturahmi-sebuah tradisi yang tak lekang oleh zaman, sekaligus menjadi inti dari perayaan hari kemenangan.

Dalam kesempatan itu, sebelum pelaksanaan Salat Id, Mahyunadi membacakan sambutan tertulis Bupati Kutim. Suaranya mengalun tenang, menegaskan pesan yang tak hanya menyentuh ranah spiritual, tetapi juga sosial.

“Idulfitri bukan sekadar kemenangan spiritual, tetapi juga harus menjadi kemenangan sosial. Mari kita perkuat persaudaraan, menumbuhkan empati, serta bersama-sama mewujudkan Kutai Timur yang tangguh, mandiri, dan berdaya saing," ungkap Mahyunadi.

Pesan tersebut mengalir seperti petuah lama yang dipungut kembali dari khazanah nilai kebajikan. Ia tidak berhenti pada dimensi religius semata, melainkan merambah pada tanggung jawab kolektif dalam merawat tatanan sosial.

Mahyunadi kemudian melanjutkan, mengutip sambutan Bupati, bahwa Ramadan adalah wahana pengendalian diri. Sebuah laku batin yang menuntun manusia agar tidak terjerembap dalam arus zaman yang kerap tak terkendali.

“Kemajuan teknologi tidak boleh diiringi dengan kemunduran moral,” ujarnya.

Dalam lanskap masyarakat yang kian terdigitalisasi, tantangan baru pun bermunculan. Arus informasi yang deras acap kali tak diimbangi dengan kebijaksanaan dalam memilah. Hoaks, polarisasi, hingga kecenderungan saling menyalahkan menjadi gejala yang tak terelakkan, terutama di ruang-ruang media sosial (medsos) yang kian riuh.

Melalui sambutan itu pula ditegaskan, Idulfitri harus menjadi titik balik untuk menghentikan perpecahan dan disinformasi, dengan mengedepankan tabayun, menjaga etika bermedia, serta tidak mudah terprovokasi.

Seruan tersebut menggema sebagai pengingat, bahwa kebebasan berekspresi mesti diiringi dengan tanggung jawab moral. Di tengah gegap gempita teknologi, manusia tetap dituntut untuk memelihara akal sehat dan kejernihan nurani.

Pelaksanaan Salat Idulfitri di Masjid At-Taubah pada akhirnya tidak berhenti sebagai ritual tahunan. Ia menjelma menjadi simpul yang merajut kembali benang-benang persaudaraan yang mungkin sempat merenggang. Dalam keheningan pagi Idulfitri, tersirat harapan agar masyarakat Kutim senantiasa merawat harmoni, memperteguh solidaritas, dan melangkah bersama menuju masa depan yang lebih berkeadaban. (kopi4/kopi3)

Memuat tombol bagikan...