SANGATTA - Di banyak sudut wilayah Kabupaten Kutai Timur (Kutim), kebutuhan paling mendasar masih menjadi harapan yang terus diperjuangkan warga. Jalan yang layak dilalui, ketersediaan air bersih, hingga layanan pendidikan dan kesehatan yang memadai, masih menjadi percakapan sehari-hari di tengah masyarakat. Realitas inilah yang kemudian menjadi pangkal pembahasan dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Kabupaten Kutim Tahun 2027.
Forum perencanaan pembangunan tersebut digelar di Ruang Meranti, Kantor Bupati Kutim, Selasa (7/4/2026).
Sejumlah unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), Sekretaris Daerah Kabupaten (Sesdakab) Rizali Hadi, para kepala perangkat daerah, hingga berbagai pemangku kepentingan daerah hadir dalam pertemuan yang menjadi simpul penentuan arah pembangunan daerah tersebut.

Beragam usulan yang dihimpun dari desa hingga kecamatan memperlihatkan gambaran yang relatif serupa. Infrastruktur jalan di sejumlah kawasan masih memerlukan perhatian serius. Distribusi air bersih belum sepenuhnya menjangkau seluruh wilayah. Sementara itu, sektor pelayanan dasar seperti kesehatan dan pendidikan juga masih membutuhkan penguatan agar mampu menjawab kebutuhan masyarakat secara lebih merata.
Musrenbang kali ini tidak hanya menjadi forum administratif yang memaparkan daftar program tahunan. Pemerintah daerah berupaya menjadikannya ruang perumusan prioritas pembangunan yang benar-benar berpijak pada kebutuhan riil masyarakat.
Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman, menegaskan bahwa arah pembangunan daerah harus berangkat dari kebutuhan mendasar warga.
“Kita ingin pembangunan ini betul-betul menyentuh kebutuhan dasar masyarakat. Jalan harus terbuka, air bersih tersedia, layanan pendidikan dan kesehatan semakin baik. Itu yang jadi prioritas kita,” ujarnya.
Menurut Ardiansyah, perencanaan pembangunan juga harus dilandasi ketelitian dalam menentukan prioritas. Hal itu menjadi penting mengingat keterbatasan kemampuan fiskal daerah yang tidak memungkinkan seluruh program dijalankan secara bersamaan.

“Kita tidak bisa kerjakan semua sekaligus. Maka yang kita dahulukan adalah yang paling dibutuhkan masyarakat. Infrastruktur dasar dan pelayanan publik harus jadi fokus utama,” tegasnya.
Tema pembangunan yang diusung dalam Musrenbang tahun ini menitikberatkan pada transformasi ekonomi berkelanjutan melalui penguatan infrastruktur serta peningkatan kualitas sumber daya manusia yang berdaya saing. Karena itu, pembangunan tidak hanya diarahkan pada proyek fisik semata, tetapi juga pada upaya memperkuat kapasitas manusia sebagai penggerak utama pertumbuhan daerah.
Pendidikan yang lebih berkualitas, pelatihan keterampilan yang relevan, serta layanan kesehatan yang semakin baik dipandang sebagai fondasi penting bagi masyarakat Kutim untuk beradaptasi dengan perubahan zaman dan dinamika ekonomi.

Musrenbang sekaligus menjadi ruang perjumpaan berbagai kepentingan. Di forum inilah pemerintah daerah, perangkat birokrasi, dan unsur masyarakat menimbang berbagai usulan yang muncul dari tingkat bawah. Setiap gagasan ditelaah, dipilah, dan ditentukan urgensinya agar program yang diprioritaskan benar-benar memiliki dampak luas bagi masyarakat.
Dalam suasana diskusi yang sarat pertimbangan itu, pemerintah daerah berupaya memastikan bahwa perencanaan pembangunan tidak berhenti sebagai dokumen perencanaan semata. Harapannya, setiap keputusan yang lahir dari forum tersebut mampu menjembatani jarak antara rancangan dan pelaksanaan di lapangan.
Dengan demikian, pembangunan yang dijalankan tidak hanya menjadi catatan administratif dalam lembar-lembar perencanaan daerah, melainkan menjelma menjadi perubahan nyata yang dapat dirasakan masyarakat, dari perbaikan akses jalan, tersedianya air bersih, hingga peningkatan mutu layanan pendidikan dan kesehatan. Dari forum inilah, arah pembangunan Kutim kembali dirajut. Dimulai dari kebutuhan paling sederhana, namun bermuara pada tujuan yang lebih jauh, mewujudkan masyarakat yang lebih sejahtera di masa mendatang. (kopi4/kopi3)







