Widget Gambar

Narkoba di Kutim Sasar Pekerja Tambang, IRT Hamil hingga Pelajar

Narkoba di Kutim Sasar Pekerja Tambang, IRT Hamil hingga Pelajar
Kopi 5
Memuat tombol bagikan...

Wakapolres Kutim Ahmad Abdullah sampaikan presscon pemusnahan BB Narkoba. Foto. Bagus/Pro Kutim

SANGATTA — Peredaran gelap narkotika di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) kini tak lagi sekadar isu kejahatan jalanan biasa, melainkan telah menjadi ancaman nyata yang menggerogoti berbagai lapisan sosial masyarakat. Mulai dari pekerja sektor industri vital, lingkaran keluarga, hingga anak-anak usia sekolah kini rentan masuk dalam pusaran barang haram tersebut.

Potret buram pergeseran demografi pelaku dan korban narkoba ini diungkapkan dalam konferensi pers pengungkapan hasil Operasi Antik Mahakam 2026 di Aula Pelangi Mapolres Kutim, Jumat (31/7/2026) siang.

Dari hasil pengungkapan 27 kasus selama Operasi Antik Mahakam 2026, Satresnarkoba Polres Kutim menetapkan 35 tersangka yang terdiri dari 33 pria dan 2 wanita.

Kasat Resnarkoba Polres Kutim, Iptu Erwin Susanto, membeberkan bahwa profil para tersangka sangat kontras dan mencakup berbagai latar belakang profesi.

"Dari pemetaan demografi para tersangka yang kami amankan, sebagian besar merupakan pekerja produktif seperti karyawan perusahaan kelapa sawit dan pekerja pertambangan. Yang sangat memprihatinkan, ada pula tersangka ibu rumah tangga (IRT) yang saat ini tengah hamil 2 bulan," beber Iptu Erwin Susanto.

Sisi humanis yang paling menyorot perhatian adalah ditemukannya fakta bahwa anak usia sekolah atau pelajar mulai dimanfaatkan oleh jaringan pengedar. Para sindikat sengaja mengeksploitasi kepolosan dan kondisi ekonomi anak-anak untuk dijadikan perantara transaksi di lapangan.

Wakapolres Kutim, Kompol Ahmad Abdullah, menegaskan bahwa fenomena ini menjadi sinyal bahaya bagi ketahanan keluarga dan lingkungan pendidikan di Kutim.

"Ini adalah keprihatinan kita bersama. Para pelaku memanfaatkan ketidakpahaman anak-anak dengan membujuk rayu serta iming-iming imbalan uang saku tambahan. Anak-anak yang seharusnya belajar justru diperdaya untuk masuk ke dalam jaringan kejahatan," tegas Kompol Ahmad Abdullah.

Menanggapi fenomena sosial ini, Polres Kutim mengimbau para orang tua untuk lebih peka terhadap perubahan kebiasaan anak-anak mereka. Selain itu, manajemen perusahaan tambang dan kelapa sawit di Kutim juga diminta untuk konsisten memperketat pengawasan internal serta rutin menggelar tes urine mandiri bagi para pekerja.(kopi5/kopi13/kopi3)

Memuat tombol bagikan...