Kadisperidag Kutim Nora Ramadani. Foto: Bagus/Pro Kutim
SANGATTA – Kondisi ekonomi yang melambat pasca-pandemi Covid-19 memberikan dampak signifikan bagi para pedagang di Pasar Induk Sangatta (PiS). Memasuki tahun 2026, denyut nadi perdagangan di pasar tradisional ini belum sepenuhnya pulih. Menanggapi situasi tersebut, Pemerintah Daerah melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kutai Timur (Kutim) mulai merancang sejumlah langkah strategis untuk menjaga eksistensi pedagang.
Berdasarkan pantauan di lapangan pada Kamis (9/4/2026), para pedagang mengeluhkan penurunan omzet yang drastis. Eka Damayanti, seorang pedagang perhiasan dan tas yang telah berjualan sejak 2016, mengaku bahwa kondisi pasar mulai terasa sepi sejak tiga tahun lalu, tepatnya setelah pandemi mereda di tahun 2023.
"Kalau tidak jualan online, ya begini saja (sepi). Keadaan pasar tidak tentu, kadang ramai kadang sepi. Sekarang banyak sistem penjualan di luar yang lebih murah secara online," ujar Eka.

Ia terpaksa menyiasati keadaan dengan merambah ke platform digital agar tetap bisa bertahan.
Senada dengan Eka, Atik Andriani pedagang yang sudah 12 tahun berjualan di Pasar Induk, menyebutkan bahwa keramaian kini hanya terjadi pada hari Sabtu, Minggu, atau tanggal merah. Ati juga menyoroti kebijakan retribusi dan biaya sewa kios yang tetap harus dibayar meski pemasukan tidak menentu.
"Kalau mengandalkan jualan saja, untuk makan dan bayar kios tidak menutup. Kami terpaksa mengandalkan suntikan dana dari suami atau pinjaman bank. Harapan kami, suatu saat status kios ini bisa menjadi hak milik melalui sistem cicilan agar lebih jelas masa depannya," ungkap Ati.

Menanggapi kondisi tersebut, Kepala Disperindag Kutim Nora Ramadani, dalam wawancara pada Rabu (15/4/2026), mengakui adanya perlambatan ekonomi akibat imbas efisiensi anggaran. Namun, ia menekankan bahwa prioritas utama pemerintah saat ini adalah menjaga semangat para pedagang agar tidak meninggalkan pasar.
"Sesuai pesan Pak Bupati, kita harus bertahan. Kami terus mencari kiat agar Pasar Induk tetap ramai. Salah satu langkah konkretnya adalah menertibkan pedagang di luar atau 'pasar tumpah' untuk masuk ke dalam area pasar," jelas Nora.

Langkah penertiban ini diambil untuk menghapus kecemburuan sosial. Selama ini, pedagang di dalam pasar merasa dirugikan karena mereka taat membayar retribusi, sementara pedagang di luar pasar (pasar tumpah) berjualan bebas tanpa beban biaya serupa namun lebih mudah dijangkau pembeli.
Pemerintah berharap seiring berjalannya waktu, kebijakan efisiensi anggaran dapat melonggar sehingga daya beli masyarakat kembali meningkat.
"Intinya kita bertahan dulu. Kami ingin memastikan tidak ada pedagang yang kehilangan semangat berjualan. Dengan masuknya semua pedagang ke dalam area pasar, diharapkan perputaran ekonomi menjadi terpusat dan kembali bergeliat," tutup Nora.
Meskipun tantangan dari sektor e-commerce dan perubahan pola belanja masyarakat terus membayangi, sinergi antara adaptasi digital oleh pedagang dan regulasi penertiban dari pemerintah diharapkan mampu mengembalikan kejayaan Pasar Induk Sangatta seperti sedia kala.(kopi5/kopi13/kopi5)








