Kepala Disdikbud Kutim Mulyono. Foto: Dewi/Pro Kutim
SANGATTA – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) memperkuat komitmennya dalam meningkatkan mutu pendidikan melalui program peningkatan kualifikasi guru. Melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, pemerintah daerah memberikan beasiswa bagi guru yang belum berkualifikasi sarjana (S1) serta membuka kesempatan studi magister (S2) bidang pendidikan inklusi guna mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia di sektor pendidikan.
Program tersebut menyasar guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) yang belum memiliki ijazah S1. Selain itu, pemerintah juga menyiapkan beasiswa S2 pendidikan inklusi agar setiap sekolah di Kutim memiliki tenaga pendidik yang mampu menangani pembelajaran bagi seluruh peserta didik, termasuk anak berkebutuhan khusus.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutim Mulyono menjelaskan bahwa peningkatan kompetensi guru merupakan salah satu prioritas pemerintah daerah dalam membangun kualitas pendidikan yang berkelanjutan.
Ia menegaskan, pemerintah menargetkan tidak ada lagi guru di Kutim yang belum berkualifikasi sarjana. Melalui skema Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL), guru yang telah memiliki pengalaman mengajar dapat menyelesaikan pendidikan S1 hanya dalam waktu sekitar dua tahun.

Program tersebut diperuntukkan bagi guru PAUD dan PGSD, baik yang berstatus Aparatur Sipil Negara (ASN), Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK), maupun guru honorer yang mengabdi di Kabupaten Kutim.
Menurut Mulyono, pelaksanaan program telah berlangsung secara bertahap sejak beberapa tahun terakhir dengan menggandeng sejumlah perguruan tinggi negeri terkemuka di Indonesia.
Pada 2024, sebanyak 251 guru mengikuti pendidikan S1 melalui Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. Perkuliahan dilaksanakan menggunakan sistem blended learning dengan komposisi sekitar 80 persen pembelajaran daring dan 20 persen tatap muka.
Program kemudian berlanjut pada 2025 dengan mengirimkan 151 guru untuk menempuh pendidikan di Universitas Negeri Malang (UM). Sementara pada tahun ini, sekitar 70 guru kembali memperoleh kesempatan mengikuti program peningkatan kualifikasi tersebut.
Selain mendorong seluruh guru meraih gelar sarjana, Pemerintah Kabupaten Kutim juga memperkuat layanan pendidikan inklusi melalui pemberian beasiswa S2.
Program ini bertujuan menyiapkan tenaga pendidik yang memiliki kompetensi khusus dalam penyelenggaraan pendidikan inklusif sehingga ke depan setiap sekolah di Kutai Timur memiliki sedikitnya satu guru yang memahami penanganan dan pembelajaran bagi peserta didik berkebutuhan khusus.
Pelaksanaan program S2 juga menggunakan skema Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL), sehingga memberikan kemudahan bagi guru yang telah memiliki pengalaman mengajar untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang magister.
Data Dinas Pendidikan dan Kebudayaan menunjukkan, pada 2024 sebanyak 109 guru telah mengikuti dan menyelesaikan pendidikan S2 inklusi. Program tersebut terus diperluas pada 2025 dengan mengirimkan sekitar 300 guru.
Adapun pada tahun ini, antusiasme peserta tetap tinggi. Sekitar 160 guru telah mendaftarkan diri untuk mengikuti program S2 pendidikan inklusi di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).
Melalui dua program tersebut, Pemerintah Kabupaten Kutim berharap kualitas tenaga pendidik terus meningkat seiring dengan penguatan layanan pendidikan di seluruh wilayah. Peningkatan kompetensi guru dinilai menjadi fondasi penting dalam mencetak generasi yang unggul, karena di tangan para guru masa depan daerah ditempa, sebagaimana benih yang dirawat dengan ilmu akan tumbuh menjadi pohon yang kokoh dan memberi manfaat bagi banyak orang.(kopi15/kopi13/kopi3)








