Suasana kehangatan mewarnai kegiatan bukber PT KPC bersama Pemkab Kutim. Foto: Dewi/Pro Kutim
SANGATTA – Di tengah dinamika industri ekstraktif yang terus berubah, keselarasan antara dunia usaha dan pemangku kebijakan daerah menjadi fondasi krusial bagi stabilitas pembangunan. Semangat kolaborasi ini mengemuka dalam silaturahmi dan buka puasa bersama (bukber) yang digelar manajemen PT Kaltim Prima Coal (KPC) bersama Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim)serta Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), Selasa (3/3/2026).
Acara yang berlangsung di Balai Pertemuan Tanjung Bara PT KPC tersebut dihadiri oleh Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman, Wakil Bupati Mahyunadi, Ketua DPRD Kutim Jimmi, serta jajaran pimpinan TNI dan Polri. Kehadiran juga unsur Brigade Infanteri hingga kepolisian setempat menegaskan bahwa keamanan wilayah operasional objek vital nasional merupakan komitmen kolektif.
Chief Operating Officer (COO) PT KPC Hendro Ichwanto dalam sambutannya menekankan bahwa komunikasi dua arah dengan pemerintah daerah adalah instrumen penting dalam menghadapi fluktuasi global. Menurut dia, arahan dari pemerintah sangat dibutuhkan agar perusahaan tetap mampu memberikan kontribusi positif, baik di tingkat daerah maupun nasional.

"Dinamika global dan industri bergerak sangat cepat. Kami membutuhkan sinergi dan arahan dari pemerintah daerah agar operasional kami tetap berjalan selaras dengan regulasi dan kepentingan masyarakat luas," ujar Hendro.
Senada, Bupati Ardiansyah Sulaiman merespons positif inisiatif tersebut. Bagi pemerintah daerah, hubungan harmonis dengan pelaku industri bukan sekadar urusan ekonomi, melainkan bagian dari menjaga ukhuwah atau persaudaraan lintas sektor. Stabilitas keamanan dan ketertiban yang terjamin akan berdampak langsung pada kesinambungan program pembangunan di Kutim.

"Momentum Ramadan ini menjadi ruang untuk memperkuat fondasi kebersamaan. Sinergi antara pemerintah, aparat penegak hukum, dan dunia usaha adalah kunci untuk memastikan Kutim tetap kondusif bagi investasi dan kesejahteraan warga," tutur Ardiansyah.
Untuk itu, di tengah kompleksitas operasional pertambangan, ruang-ruang dialog informal seperti ini dinilai efektif untuk menyamakan persepsi dalam mendukung pembangunan berkelanjutan di Kabupaten Kutim.(kopi15/kopi13/kopi3)








