Teks: Tomat Kandolo yang menjanjikan peningkatan perekonomian masyarakat desa. (Fuji Pro Kutim)
TELUK PANDAN - Pagi di Desa Kandolo, Kecamatan Teluk Pandan, Kutai Timur (Kutim), berdenyut oleh warna merah yang matang sempurna. Di lahan pertanian milik Yudi, Jalan Pendidikan RT 07, tandan-tandan tomat menggantung rapat, seolah menjadi penanda bahwa kerja panjang petani tidak berhenti pada harap, melainkan tiba pada hasil yang terukur. Panen tomat yang dirangkai dengan pembinaan hortikultura itu bukan perayaan seremonial belaka, melainkan potret kecil tentang bagaimana pertanian desa dapat menjelma sumber penghidupan yang bernilai.
Tomat, dalam lanskap Kandolo, bukan sekadar komoditas musiman. Ia dipilih dengan pertimbangan teknis dan ekonomi yang matang. Siklus tanamnya singkat, serapan pasarnya luas, serta perputaran modal relatif cepat. Dari lahan yang dikelola secara tekun, potensi itu berwujud dalam angka yang konkret.
Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan Kutim Dyah Ratnaningrum memaparkan hitung-hitungan yang memberi gambaran terang tentang peluang tersebut.

“Jika dibagi dengan jumlah rata-rata petani bisa memperoleh penghasilan Rp 5 juta per satu kali periode panen,” ungkap Dyah.
Dalam satu periode panen tomat, hasil yang dapat diraup petani mencapai sekitar Rp 140 juta per hektare, dengan biaya produksi kurang lebih Rp 25 juta. Angka-angka ini bukan statistik dingin, melainkan cermin tentang bagaimana pembinaan yang konsisten mampu mengangkat nilai tambah kerja tani. Bagi petani Kandolo, hasil panen itu menjadi bukti bahwa tanah, bila diperlakukan dengan pengetahuan dan kesabaran, dapat menjadi sandaran ekonomi keluarga.
Kegiatan panen yang digagas Kelompok Tani Sumber Urip tersebut turut menghadirkan Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman langsung di tengah petak lahan. Kehadiran kepala daerah di ruang terbuka pertanian itu menjadi simbol keberpihakan. Pemerintah tidak berjarak dari lumpur dan peluh petani. Di antara barisan tanaman, dialog mengalir tentang teknik budidaya, produktivitas, serta peluang pemasaran hasil panen.
Bupati Ardiansyah mengapresiasi ketekunan Kelompok Tani Sumber Urip dalam mengembangkan hortikultura. Ia menegaskan bahwa sektor pertanian tetap menjadi poros penting penggerak ekonomi desa di Kutim.
"Pertanian hortikultura seperti tomat ini sangat potensial meningkatkan kesejahteraan petani. Pemerintah hadir tidak hanya saat panen, tetapi juga melalui pembinaan, pendampingan, dan membuka akses dari hulu hingga hilir. Mulai dari produksi, pengolahan, hingga pemasaran,” ujar Ardiansyah waktu itu
Ia juga menekankan pentingnya pertanian berkelanjutan, pemanfaatan teknologi tepat guna, inovasi budidaya, serta penguatan kelembagaan kelompok tani agar posisi tawar petani semakin kukuh di pasar.
Ketua Kelompok Tani Sumber Urip, Arif Sugianto, menyampaikan harapan agar perhatian pemerintah terus berlanjut. Terutama dalam peningkatan keterampilan petani, bantuan sarana produksi, dan dukungan akses pemasaran. Dengan pendampingan yang berkelanjutan, dia yakin petani Kandolo bisa lebih mandiri dan sejahtera.

"Meskipun regulasi tidak membolehkan pengadaan alat sistem pertanian, kami berharap ada bantuan alat angkut panen,” ungkapnya.
Saat ini, Kelompok Tani Sumber Urip mengelola lahan seluas 22,2 hektare dengan beragam komoditas, mulai dari melon, semangka, cabai, hingga tomat, yang ditanam bergilir mengikuti musim. Keberhasilan panen tomat di Kandolo diharapkan menjadi teladan bagi desa-desa lain di Teluk Pandan, bahwa hortikultura. Apabila digarap dengan kesungguhan dan ditopang sinergi pemerintah, bukan hanya menjanjikan, tetapi juga memulihkan martabat kerja tani.
Melalui panen sederhana ini, Pemkab Kutim kembali menegaskan komitmennya mendampingi petani sebagai pilar ketahanan pangan daerah sekaligus penggerak utama ekonomi desa. Sebuah kerja sunyi yang tumbuh dari tanah, pengetahuan, dan kesabaran. (kopi4/kopi3)








