Jalannya pelepasan KKN STIPER XXI Kutim. Foto: Bagus/Pro Kutim
SANGATTA – Kecamatan Kaubun kembali menjadi pusat perhatian pembangunan ekonomi perdesaan di Kabupaten Kutai Timur (Kutim). Guna mengakselerasi potensi lokal di wilayah eks-transmigrasi tersebut, sebanyak 53 mahasiswa Sekolah Tinggi Pertanian (STIPER) Kutim resmi dibekali dalam Pembekalan (Santiaji) Kuliah Kerja Nyata (KKN) Angkatan XXII Tahun 2026 yang digelar di Aula STIPER Kutai Timur (Kutim), Selasa (21/7/2026) pagi.
Mengusung tema "Optimalisasi Potensi Desa Kecamatan Kaubun dalam Mendukung dan Mewujudkan Kutai Timur Tangguh, Mandiri, dan Berdaya Saing", program KKN ini dirancang khusus untuk memetakan sekaligus memberikan solusi atas berbagai tantangan ekonomi dan pertanian di tingkat desa.
Kecamatan Kaubun dikenal memiliki bentang potensi agrikultur dan perikanan air tawar yang melimpah. Mulai dari komoditas pisang di Desa Kadungan Jaya yang memiliki rekam jejak menembus pasar ekspor, kawasan sentra tanaman pangan padi, hingga potensi udang sungai di sekitar kawasan Jembatan Nibung.
Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman, yang hadir membuka acara tersebut menegaskan bahwa kehadiran mahasiswa KKN dari berbagai disiplin ilmu agrikultur dan kelautan harus mampu memberi nilai tambah (added value) bagi hasil produksi warga.

"Saudara akan berinteraksi langsung dengan para petani Kaubun yang kini sudah bertransformasi menjadi masyarakat modern. Di sana ada pisang ekspor, ada padi, dan ada potensi udang sungai yang luar biasa. Mahasiswa KKN harus bisa memberikan kontribusi nyata dan solusi, seperti bagaimana menciptakan inovasi produk olahan atau efisiensi tata kelola pertanian," ujar Ardiansyah.
Bupati juga memberikan analogi inspiratif tentang keberhasilan mahasiswa KKN era 1990-an yang mampu mengolah komoditas lokal menjadi produk olahan kopi jahe bernilai jual tinggi, yang kemudian sukses menggerakkan wirausaha masyarakat lokal.
Sementara itu, Ketua STIPER Kutim, Ismail Fahmy Almadi, mengungkapkan bahwa sektor pertanian Kutai Timur saat ini terus menunjukkan tren positif dan peningkatan indikator ketahanan pangan, terutama di saat kontribusi sektor pertambangan mulai mengalami penurunan.
"Indikator ketahanan pangan kita naik saat sektor tambang turun. Melalui KKN ini, mahasiswa wajib memetakan apa yang menjadi potensi sekaligus masalah di desa untuk kemudian dirumuskan pemecahan masalahnya (problem solving). Kami juga menargetkan ada sedikitnya lima pemuda di setiap desa yang bisa dibina menjadi kader tani masa depan," jelas Ismail Fahmy.

Ketua Panitia KKN XXII, Rudiyanto, menyampaikan bahwa seluruh peserta telah siap diterjunkan secara mandiri selama 45 hari, terhitung mulai 28 Juli hingga 10 September 2026.
Sebanyak 53 peserta (27 laki-laki dan 26 perempuan) yang telah menempuh minimal 100 SKS ini dibekali keahlian dari 7 bidang keilmuan, yaitu Agroteknologi, Teknik Pertanian, Kehutanan, Peternakan, Ilmu Kelautan, Konsentrasi Budidaya Perairan, dan Konsentrasi Agribisnis.

Seluruh mahasiswa akan disebar secara merata ke dalam 6 kelompok kerja di 6 desa se-Kecamatan Kaubun, meliputi Desa Bukit Permata, Bumi Rapak, Cipta Graha, Kadungan Jaya, Mata Air, dan Pengadan Baru.
Melalui kolaborasi lintas disiplin ilmu ini, KKN STIPER XXII diharapkan tidak hanya menjadi agenda rutin akademik, tetapi juga menjadi stimulan bagi terciptanya desa-desa mandiri berdaya saing di (Kutim).(kopi5/kopi13)








