Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kutai Timur, Mulyono, memastikan bantuan seragam gratis bagi seluruh siswa baru tetap disalurkan setelah proses administrasi dan pengadaan selesai. Pada hari pertama MPLS, Disdikbud juga memperketat pengawasan agar orientasi berlangsung aman, edukatif, dan bebas dari praktik perpeloncoan. Foto: Dok. Pro Kutim
SANGATTA - Bel berbunyi menandai dimulainya tahun ajaran baru di sekolah-sekolah Kabupaten Kutai Timur (Kutim), Senin, (13/7/2026) kemarin. Di balik riuh peserta didik yang mulai mengenal ruang kelas dan teman sebaya, terselip pertanyaan yang berulang muncul dari para orang tua. Bantuan seragam sekolah gratis yang selama ini menjadi salah satu program andalan Pemkab Kutim belum mereka terima pada hari pertama sekolah. Namun keresahan itu segera dijawab pihak Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutim.
Kepala Disdikbud Kutim, Mulyono, memastikan program bantuan seragam gratis tidak dihentikan. Pemerintah daerah, kata dia, tetap menjalankan komitmen memberikan bantuan kepada seluruh peserta didik baru jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Sekolah Dasar (SD), dan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Ia juga menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat karena bantuan tersebut belum dapat disalurkan bersamaan dengan dimulainya kegiatan belajar mengajar.
"Komitmen pemerintah daerah tidak berubah. Bantuan tetap diberikan kepada seluruh siswa baru sesuai program yang telah ditetapkan," ujarnya melalui pesan Whats app, Selasa (14/7/2026) malam.
Program bantuan itu tidak hanya berupa pakaian sekolah. Setiap peserta didik baru akan menerima empat setel seragam yang terdiri atas seragam nasional, pramuka, olahraga, dan batik. Pemerintah juga menyiapkan perlengkapan penunjang berupa sepatu, tas sekolah, hingga alat tulis. Menurut Mulyono, keterlambatan penyaluran bukan disebabkan perubahan kebijakan ataupun penghapusan program. Ada tahapan administrasi yang harus dituntaskan sebelum proses pengadaan dapat dilaksanakan. Salah satunya ialah memastikan ukuran pakaian setiap peserta didik telah benar-benar final sehingga tidak menimbulkan kekeliruan ketika bantuan dibagikan.
Selain itu, proses penganggaran baru dapat diselesaikan setelah melewati tahapan pergeseran anggaran pada penghujung Juni 2026. Dampaknya, proses lelang pengadaan baru dapat dimulai pada Juli.
"Proses anggaran kita baru selesai melewati masa pergeseran di akhir Juni lalu, sehingga proses lelang pengadaan baru bisa berjalan di Juli ini," jelasnya.
Apabila seluruh tahapan berjalan sesuai jadwal, paket bantuan diperkirakan mulai tiba dan didistribusikan kepada para siswa pada September 2026. Bagi sebagian keluarga, bantuan tersebut bukan hanya pelengkap kebutuhan sekolah, melainkan penopang untuk mengurangi beban pengeluaran pada awal tahun ajaran. Karena itu, kepastian bahwa program tetap berjalan menjadi informasi yang dinantikan banyak orang tua.
Pada saat bersamaan, Disdikbud Kutim juga memberi perhatian terhadap pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Hari pertama MPLS dimanfaatkan untuk memastikan seluruh sekolah menjalankan orientasi peserta didik sesuai ketentuan yang berlaku.
Mulyono menjelaskan ia dan jajarannya turun langsung melakukan inspeksi mendadak di sekolah, contohnya ke kawasan SDN 006 Sangatta Utara. Dari pemantauan itu, ia kembali mengingatkan bahwa kegiatan MPLS sepenuhnya menjadi tanggung jawab dewan guru bersama pengurus Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) yang sah.
"Kami ingatkan dengan tegas, pelaksanaan MPLS tahun ini adalah ranah Dewan Guru beserta pengurus OSIS resmi," tegasnya.
Peringatan tersebut sekaligus menegaskan larangan keterlibatan alumni dalam seluruh rangkaian orientasi peserta didik baru. Kebijakan itu diambil sebagai langkah pencegahan terhadap praktik perpeloncoan maupun perundungan yang pernah mencoreng dunia pendidikan di berbagai daerah. Disdikbud Kutim mengarahkan MPLS tahun ini sebagai ruang adaptasi yang mendidik. Materinya disusun melalui program Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, sehingga peserta didik diperkenalkan dengan budaya sekolah, ruang kelas, ruang guru, perpustakaan, hingga fasilitas umum seperti toilet melalui pendekatan edukatif.
Orientasi tidak lagi dimaknai sebagai ajang menguji ketahanan fisik siswa, melainkan wahana pengenalan lingkungan belajar yang aman, tertib, dan manusiawi. Dengan demikian, hari-hari pertama di sekolah diharapkan menjadi pengalaman yang menyenangkan sekaligus membangun rasa percaya diri peserta didik dalam menapaki jenjang pendidikan yang baru. (kopi3)







