Kajian bersama Ustaz Hanan Attaki dihadiri Wakil Bupati Kutim Mahyunadi. Foto: Dewi/Pro Kutim
SANGATTA – Ribuan pasang mata tertuju pada panggung utama di Gedung Buana Mekar, Sangatta Utara, Sabtu (25/4/2026) malam. Di sana, di tengah riuh rendah antusiasme yang didominasi wajah-wajah muda, Ustaz Hanan Attaki membagikan kegelisahan yang sama tentang bagaimana menavigasi hidup di rentang usia 20 hingga 30 tahun.
Kehadiran dai yang populer di kalangan milenial dan Gen Z tersebut menjadi magnet bagi masyarakat Kabupaten Kutai Timur (Kutim). Gedung Buana Mekar tak mampu membendung arus jemaah yang datang untuk mencari oase spiritual di tengah hiruk-pikuk tantangan zaman.
Dalam tausiahnya, Hanan Attaki secara spesifik membedah fase krusial manusia dalam dekade kedua menuju ketiga kehidupan. Menurut dia, kebingungan dan tekanan yang sering dirasakan pemuda saat ini bukanlah sebuah tanda kelemahan atau krisis yang harus ditakuti.
"Usia 20 sampai 30 tahun adalah masa mencari makna hidup. Kebingungan yang dirasakan bukan tanda kelemahan, tetapi bagian dari proses berpikir dan bertumbuh," jelas Hanan di hadapan ribuan jamaah yang menyimak dengan khidmat.
Di tengah isu kesehatan mental yang kian mencuat, Hanan menekankan pentingnya self-awareness atau kesadaran diri. Ia mengajak generasi muda untuk beralih dari sekadar "mengikuti arus" menuju intentional living atau hidup secara sadar. Sebuah prinsip di mana seseorang secara sengaja memilih hal-hal yang bermakna dan memberikan kontribusi positif, alih-alih terjebak dalam perlombaan pencapaian material semata.
Menurutnya, kebahagiaan sejati tidak akan ditemukan pada tumpukan materi, melainkan pada sejauh mana seseorang mampu memberikan manfaat bagi lingkungannya.
"Jangan hanya mengejar pencapaian material, tapi carilah makna dan kontribusi dalam hidup," pesannya.
Kegiatan keagamaan ini turut dihadiri oleh Wakil Bupati Kutim Mahyunadi yang hadir mewakili Bupati Ardiansyah Sulaiman. Tampak hadir pula Ketua TP PKK Kutim Siti Robiah Ardiansyah beserta jajaran Forkopimda dan tokoh agama setempat.
Dalam sambutannya, Mahyunadi menegaskan bahwa penguatan nilai spiritual merupakan perisai utama bagi warga, khususnya pemuda, dalam menghadapi dampak negatif modernisasi. Ia menyampaikan pesan Bupati bahwa pemerintah daerah sangat mendukung ruang-ruang literasi keagamaan seperti ini sebagai wadah perekat kebersamaan.
"Bapak Bupati berharap kajian seperti ini terus digelar sebagai wadah memperkuat keimanan. Ini adalah sarana memperbaiki diri dan meningkatkan ketakwaan agar kita semua terhindar dari perbuatan tercela," ujar Mahyunadi.
Antusiasme yang meluap hingga akhir acara menunjukkan bahwa di balik keriuhan dunia digital, kebutuhan akan ketenangan batin dan tuntunan spiritual tetap menjadi prioritas bagi warga Sangatta.
Malam itu ditutup dengan doa bersama, membawa harapan agar energi positif yang didapat mampu menjadi bekal dalam menjalani kehidupan yang lebih terarah dan penuh keberkahan.(kopi15/kopi13)








