Teks foto: Ribuan jemaah dari berbagai unsur, mulai tokoh agama, ASN, TNI-Polri, instansi vertikal hingga siswa sekolah, mengikuti Salat Istisqa di Lapangan Kantor Bupati Kutai Timur, Rabu, 9 September 2026. Foto: Irfan/Pro Kutim
(kopi13)
SANGATTA - Lapangan Kantor Bupati Kutai Timur, Rabu pagi, (9/9/2026), dipenuhi ribuan jemaah. Dalam saf yang membentang di kawasan pusat pemerintahan itu, tokoh agama, aparatur sipil negara (ASN), unsur TNI dan Polri, pegawai instansi vertikal, hingga para siswa sekolah berkumpul dalam satu ikhtiar. Tak lain memohon turunnya hujan di tengah potensi kemarau panjang yang membayangi wilayah Kutai Timur (Kutim).
Suasana pagi itu menghadirkan pemandangan yang tidak biasa. Lapangan yang pada hari-hari tertentu menjadi ruang pelaksanaan kegiatan pemerintahan seperti upacara, berubah menjadi tempat berhimpunnya masyarakat dari beragam latar belakang. Tidak ada sekat jabatan maupun institusi dalam saf-saf yang terbentuk. Semua menghadap ke arah kiblat yang sama, menundukkan diri, dan menautkan harapan dalam Salat Istisqa.
Pelaksanaan salat berjemaah tersebut menjadi ikhtiar spiritual Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutim bersama masyarakat untuk memohon kepada Allah Subhanahu wa ta'ala agar segera menurunkan hujan. Kehadiran ribuan jemaah juga memperlihatkan kebersamaan berbagai unsur daerah dalam menghadapi kemungkinan musim kering yang berkepanjangan.

Di tengah ancaman kemarau, hujan bukan semata perubahan cuaca. Bagi masyarakat, air merupakan penopang kehidupan sehari-hari, lingkungan, dan berbagai aktivitas yang bergantung pada ketersediaannya. Karena itu, Salat Istisqa menjadi ruang perjumpaan antara ikhtiar batin dan harapan bersama agar Kutim terhindar dari dampak musim kering yang lebih luas.
Wakil Bupati Kutai Timur Mahyunadi, mewakili Bupati sebelum sebelum pelaksanaan salat, mengingatkan masyarakat agar tetap waspada terhadap potensi kemarau panjang. Ia menyebut berdasarkan catatan historis, Kutim pernah mengalami kemarau ekstrem pada 1997 serta periode 2014-2015. Gerimis yang sempat turun di beberapa titik dalam beberapa hari terakhir, menurut Mahyunadi, belum dapat dipastikan sebagai pertanda pergantian musim. Potensi kemarau panjang masih perlu diantisipasi.
"Kalau kita melihat siklusnya, berarti antara 14 sampai 15 tahun. Tahun 2007, kemarau panjang kita tidak melakukan istisqa sehingga kemaraunya tambah panjang. Tahun 2015 pemerintah juga tidak menginisiasi secara berjemaah, sehingga kemaraunya semakin panjang," ujar Mahyunadi pada kegiatan yang diprakarsai Kemenag Kutim dan Pemkab Kutim tersebut.

Pemkab Kutim kemudian menginisiasi pelaksanaan Salat Istisqa secara berjemaah. Selain memohon turunnya hujan, kegiatan tersebut juga menjadi momentum untuk melakukan perenungan dan merendahkan diri di hadapan Sang Pencipta. Seluruh jemaah diajak untuk menyadari keterbatasan manusia. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, termasuk kemampuan membangun bendungan serta jaringan air, tetap tidak menghapus kenyataan bahwa manusia memiliki keterbatasan. Beristighfar kepada Allah atas dosa-dosa pribadi, atas kekhilafan sebagai masyarakat, dan bagi pemerintah agar diberikan amanah dalam pemerintahan.
Namun, esensi pagi itu tidak hanya terletak pada sambutan maupun rangkaian seremonial. Ribuan jemaah yang memenuhi Lapangan Kantor Bupati Kutim menjadi penanda adanya harapan kolektif untuk menghadapi musim kering secara bersama-sama. ASN dari lingkungan Kantor Bupati Kutim dan berbagai instansi hadir bersama unsur TNI-Polri. Pegawai instansi vertikal turut mengambil tempat dalam saf. Para siswa sekolah juga menjadi bagian dari jemaah. Tokoh-tokoh agama berada di tengah rangkaian ibadah yang menyatukan beragam unsur tersebut. Kehadiran lintas kelompok dan generasi, serta sosial itu memberi makna tersendiri. Ancaman kemarau dapat menyentuh banyak sisi kehidupan masyarakat. Karena itu, ikhtiar untuk menghadapi dampaknya pun membutuhkan kesadaran bersama, baik melalui langkah-langkah praktis maupun penguatan ikhtiar spiritual.

Setelah Salat Istisqa, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan doa bersama. Doa dipimpin secara bergantian oleh para tokoh agama. Dalam suasana khusyuk, ribuan jemaah menengadahkan harapan agar hujan segera turun dan Kutim diberikan keselamatan serta kesejahteraan. Doa yang dipanjatkan bersama itu menjadi penutup rangkaian ibadah pagi tersebut. Lapangan Kantor Bupati Kutim yang sebelumnya dipenuhi saf jemaah menjadi saksi berhimpunnya masyarakat dan unsur pemerintahan dalam satu permohonan.
Pemkab Kutim berkomitmen untuk terus memanjatkan doa dan menjalankan ikhtiar spiritual.
Bagi ribuan jemaah yang hadir, pagi itu menjadi pengingat bahwa menghadapi kemarau tidak hanya berbicara tentang kesiapsiagaan menghadapi perubahan musim. Ada pula kesadaran untuk saling menguatkan, menyatukan harapan, dan merendahkan diri.
Di tengah hamparan Lapangan Kantor Bupati Kutim, ribuan orang berdiri dalam saf yang sama. Mereka datang dari latar yang berbeda, mengenakan seragam dan identitas yang beragam, tetapi pagi itu membawa satu harapan, yakni agar hujan kembali menyapa kabupaten "Tuah Bumi Untung Benua" (slogan Kabupaten Kutim). (kopi3)







