Widget Gambar

RSUD Kudungga Operasikan Cath Lab, Penanganan Jantung dan Strok Makin Dekat

RSUD Kudungga Operasikan Cath Lab, Penanganan Jantung dan Strok Makin Dekat
Irfan Aditama
Memuat tombol bagikan...

Perwakilan Philips Indonesia, Azwar Arlis saat mempresentasikan cara kerja instalasi laboratorium kateterisasi (cath lab) di RSUD Kudungga. Foto: Irfan/Pro Kutim

SANGATTA - Upaya pemangkasan waktu rujukan medis darurat di wilayah utara Kalimantan Timur memasuki babak baru. Melalui instalasi laboratorium kateterisasi (cath lab) generasi terbaru, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kudungga Sangatta, Kabupaten Kutai Timur (Kutim), kini mampu mengakomodasi tindakan intervensi minimal invasif kompleks untuk menyelamatkan pasien dalam kondisi kritis.

Teknologi yang diintegrasikan di RSUD Kudungga tersebut merupakan perangkat modalitas canggih besutan Philips Indonesia, yakni tipe Philips Azurion 7 C20. Perangkat medis ini dirancang khusus untuk melakukan tindakan diagnosis sekaligus terapi intervensi pada pembuluh darah yang mengalami penyumbatan atau kerusakan.

Perwakilan Philips Indonesia, Azwar Arlis, menjelaskan bahwa pengembangan teknologi seri Azurion ini memakan waktu riset hingga sepuluh tahun sebelum diluncurkan ke pasar global. Keberadaan peranti ini di Sangatta dinilai sangat strategis untuk memotong rantai rujukan geografis yang selama ini menjadi kendala utama penyelamatan nyawa pasien.

"Jika terjadi serangan jantung atau strok, hitungan detik sangat menentukan keselamatan pasien (golden period). Tanpa adanya fasilitas cath lab di Sangatta, pasien harus menempuh perjalanan darat hingga empat jam menuju rumah sakit terdekat di kota lain. Jarak tersebut terlalu berisiko bagi pasien dalam kondisi darurat," ujar Azwar saat memaparkan keunggulan teknologi tersebut di Auditorium Lantai III RSUD Kudungga Sangatta, Sabtu (23/5/2026).

Azwar menambahkan, berbeda dengan peranti pencitraan medis seperti Magnetic Resonance Imaging (MRI) atau Computed Tomography (CT) Scan yang umumnya hanya berfungsi sebagai alat diagnosis, cath lab bertindak sebagai ruang tindakan pengobatan. Di dalam ruangan ini, dokter spesialis dapat langsung melakukan intervensi medis secara presisi.

Tren ilmu kedokteran modern saat ini terus bergerak meninggalkan pembedahan terbuka (open surgery) dan beralih ke metode minimal invasif. Metode ini dipilih karena memberikan tingkat keberhasilan (Outcome) yang jauh lebih baik bagi pasien, mempercepat masa pemulihan, serta meminimalkan risiko komplikasi pascatindakan.

Selanjutnya dituturkan Azwar, sistem cath lab Philips Azurion 7 C20 yang terpasang menggunakan konfigurasi ceiling (tergantung di langit-langit) dengan ukuran detektor berspesifikasi tinggi (seri 20). Struktur ini memungkinkan dokter melakukan manuver fleksi secara leluasa untuk melihat berbagai proyeksi anatomi tubuh pasien secara tiga dimensi, mulai dari bagian kepala hingga ujung kaki.

Sistem ini ditunjang oleh tabung sinar-X (X-ray tube) dengan kapasitas termal tinggi untuk mengantisipasi risiko overheat (panas berlebih) saat prosedur medis berlangsung lama. Kendala operasional seperti keharusan menghentikan tindakan medis di tengah jalan akibat mesin yang kepanasan diklaim tidak akan terjadi pada perangkat ini.

"Rentang prosedurnya sangat luas. Mulai dari penanganan aneurisma atau sumbatan pembuluh darah di otak (strok), intervensi jantung, onkologi untuk kasus tumor dan kanker, penanganan pembuluh darah perifer (vascular), hingga manajemen nyeri (pain management)," kata Azwar menjabarkan.

Dari sisi penunjang ruang operasi, fasilitas ini dilengkapi layar monitor utama berukuran 58 inci berbasis flex-vision yang dilindungi plexiglass. Monitor beresolusi tinggi ini dapat dikoneksikan secara simultan dengan berbagai perangkat medis eksternal lainnya, seperti mesin Echocardiography (EMO), Optical Coherence Tomography (OCT), hingga Intravascular Ultrasound (IVUS).

Teknologi ini juga menerapkan sistem kontrol interaktif di meja tindakan (multimodality re-module). Fitur tersebut memudahkan dokter maupun asisten operator di ruang kontrol untuk mengatur tata letak aplikasi visual, membuat anotasi, hingga melakukan rekonstruksi gambar anatomi secara langsung hanya dengan metode drag-and-drop.

Dengan kesiapan infrastruktur digital terintegrasi ini, pemanfaatan cath lab ke depan tinggal bergantung pada kesiapan dan ketersediaan tim dokter spesialis di RSUD Kudungga. 

"Fleksibilitas alat ini diproyeksikan mampu mendukung kerja kolaboratif lintas disiplin, mulai dari dokter spesialis jantung, spesialis saraf (neuro), spesialis bedah toraks kardiak dan vaskular (BTKV), hingga spesialis onkologi,"tutupnya.(kopi13/kopi3) 

Memuat tombol bagikan...