Widget Gambar

Terus Dipantau, Air Baku Kabo Aman, Perumdam Kutim Cek Kadar Klorida

Terus Dipantau, Air Baku Kabo Aman, Perumdam Kutim Cek Kadar Klorida
hms3
Memuat tombol bagikan...

SANGATTA - Sungai Sangatta menjadi salah satu urat nadi penyediaan air bersih bagi masyarakat Kutai Timur (Kutim). Karena itu, perubahan sekecil apa pun pada kondisi air baku di sekitar Intake Instalasi Pengolahan Air (IPA) Kabo terus diawasi Perusahaan Umum Daerah Air Minum (Perumdam) Tirta Tuah Benua (TTB) Kutim. Pemantauan dilakukan secara intensif setiap hari, terutama ketika air sungai memasuki fase pasang. Langkah tersebut ditempuh untuk memastikan perubahan parameter kualitas air dapat diketahui sejak dini dan tidak luput dari pengamatan sebelum air mengalir ke pelanggan.

Asisten Manajer Laboratorium Perumdam Kutim Endah Budi Lestari mengatakan pemeriksaan intensif terhadap air baku mulai dilakukan sejak 24 Agustus 2026. Sejumlah parameter diperiksa untuk melihat dinamika kondisi air, meliputi kadar klorida, salinitas, TDS (Total Dissolved Solids), EC (Electrical Conductivity), dan pH (Power of Hydrogen).

“Waktu pemeriksaan dilakukan pada saat kondisi pasang dan setiap hari,” kata Endah.

Klorida merupakan ion yang terbentuk ketika unsur klorin mendapatkan elektron. Senyawa ini dapat berasal dari garam mineral alami, air laut, maupun pencemaran limbah. Dalam kadar tinggi, klorida dapat membuat air terasa asin dan berpotensi menyebabkan korosi pada logam.

Pemantauan menjadi penting lantaran air Sungai Sangatta memiliki keterkaitan dengan kawasan muara. Namun, perubahan kadar klorida pada satu titik tidak serta-merta dapat dimaknai sebagai tanda bahwa air laut telah memengaruhi kualitas air di lokasi pengambilan air baku.
Data hasil monitoring menunjukkan dinamika tersebut. Di Jembatan Kampung Kajang, kadar klorida tercatat 315,6 ppm pada 24 Agustus dan kemudian meningkat menjadi 330,8 ppm pada 25 Agustus. Artinya, terdapat kenaikan 15,2 ppm atau sekitar 4,82 persen.

Kondisi berbeda terlihat pada pemeriksaan 7 September. Kadar klorida di Jembatan Kampung Kajang mencapai 400 mg/L. Namun, pada titik Prodesa Kabo, angkanya hanya 4,8 mg/L. Laporan pemeriksaan menyebut pengaruh air asin dari muara belum menunjukkan indikasi signifikan di lokasi intake.

Perbedaan angka antartitik tersebut menjadi bagian penting dalam membaca kondisi air secara utuh. Pemantauan tidak berhenti pada satu lokasi, melainkan dilakukan di sejumlah titik untuk melihat perubahan kualitas air sepanjang aliran hingga mendekati sumber air baku IPA Kabo.

Hasil pemeriksaan terbaru pada 23 September juga menunjukkan perbedaan kadar klorida di setiap titik. Di Jembatan Kampung Kajang, kadar klorida berada pada angka 148,2 mg/L. Sementara itu, di Prodesa Kabo tercatat 8,3 mg/L dan di Intake Kabo sebesar 4,9 mg/L.
Endah juga meluruskan anggapan bahwa perubahan warna air menjadi hijau dengan sendirinya menunjukkan adanya pengaruh air laut atau tingginya kadar garam.

“Warna hijau lebih sering berkaitan dengan organisme, alga atau bahan organik, bukan karena ion garam,” jelasnya.

Dalam pemeriksaan kualitas air, salinitas digunakan untuk mengetahui tingkat keasinan atau konsentrasi total garam yang terlarut di dalam air. Parameter tersebut membantu menggambarkan kondisi air dan kaitannya dengan kebutuhan makhluk hidup. Adapun TDS digunakan untuk mengetahui jumlah keseluruhan padatan yang terlarut, baik berupa mineral, garam, logam, maupun zat organik. Sementara EC menunjukkan daya hantar listrik suatu larutan. Nilai tersebut berkaitan dengan banyaknya ion atau garam terlarut di dalam air.
Parameter lain yang diperiksa adalah pH, yakni tingkat keasaman suatu larutan. Skala pH berada pada rentang 0 hingga 14. Keseluruhan parameter itu menjadi bagian dari pengamatan laboratorium untuk memperoleh gambaran kondisi air secara lebih menyeluruh.

Bagi masyarakat, pemantauan tersebut terutama berkaitan dengan kehati-hatian dalam memanfaatkan air sungai. Endah mengimbau warga, khususnya yang tinggal di sekitar wilayah muara, agar tidak menggunakan air sungai secara langsung untuk minum dan memasak.
Untuk kebutuhan mandi, mencuci, serta keperluan rumah tangga lainnya, masyarakat diminta tetap memperhatikan kondisi air, terutama apabila terjadi perubahan warna, bau, rasa, atau kondisi lain yang tidak lazim.

“Pemantauan air baku ini akan terus dilakukan. Ini bagian dari upaya Perumdam Kutim menjaga kualitas air dan memastikan kondisi sumber air tetap terpantau,” ujarnya.

Pengawasan pun tidak hanya berlangsung di laboratorium. Direktur Utama Perumdam Kutim Suparjan secara rutin turun langsung melihat kondisi air baku. Pengecekan dilakukan pada pagi hari dan kembali dilanjutkan pada sore hari sebelum aktivitas kerja berakhir. Pada Jumat, 18 September 2026, Suparjan kembali memantau kondisi air di titik air baku IPA Kabo. Ia sekaligus mengecek kondisi aliran air di rumah pelanggan di kawasan Jalan Ahmad Yani, poros Sangatta-Bontang.

Langkah itu memperlihatkan bahwa pemantauan dilakukan dari hulu persoalan hingga ke hilir pelayanan. Kondisi sumber air menjadi perhatian, tetapi keadaan air yang sampai ke rumah pelanggan juga diperiksa.
Bagi Perumdam Kutim, rangkaian pemeriksaan tersebut menjadi bagian dari ikhtiar menjaga mutu layanan air bersih. Air baku tidak hanya dilihat sebagai sumber yang harus tersedia, tetapi juga sebagai bagian penting dari pelayanan publik yang perlu diawasi secara berkelanjutan.

Di antara angka-angka hasil pemeriksaan laboratorium, ada kepentingan yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Memastikan air yang dikelola tetap terpantau kondisinya sebelum menjadi bagian dari kebutuhan rumah tangga masyarakat. (*/kopi3)

Memuat tombol bagikan...