Widget Gambar

Transformasi Pelayanan Jantung di Kutim Disambut Baik

Transformasi Pelayanan Jantung di Kutim Disambut Baik
Kopi 8
Memuat tombol bagikan...

Bupati Ardiansyah Sulaiman dalam momen MoU Jejaring Pengampuan Kardiovaskular. Foto: Miftah/ Bagus Pro Kutim

SANGATTA – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) terus memperkuat kualitas layanan kesehatan masyarakat melalui pengembangan pelayanan penyakit jantung dan pembuluh darah. Komitmen tersebut ditandai dengan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) atau MoU Jejaring Pengampuan Kardiovaskular Wilayah Kalimantan Timur sekaligus pembukaan Proctorship Intervensi Non Bedah (INB) perdana RSUD Kudungga yang berlangsung di Ruang Meranti Kantor Bupati Kutim, Jumat (19/6/2026).

Kegiatan ini menjadi langkah strategis dalam meningkatkan kapasitas layanan kesehatan daerah, khususnya penanganan penyakit kardiovaskular yang masih menjadi salah satu penyebab utama kematian di Indonesia. Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 dan 2018, Kalimantan Timur tercatat sebagai provinsi dengan prevalensi hipertensi tertinggi di Indonesia. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko berbagai penyakit tidak menular seperti stroke, penyakit jantung, dan diabetes.

Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman dalam sambutannya menegaskan bahwa kesehatan merupakan fondasi penting dalam pembangunan daerah. Menurutnya, masyarakat yang sehat merupakan modal utama untuk menciptakan pembangunan yang produktif, berdaya saing, dan berkelanjutan.

Ia menyambut baik pelaksanaan Program Jejaring Pengampuan Kardiovaskular yang diinisiasi Kementerian Kesehatan RI karena dinilai mampu memperkuat kapasitas rumah sakit daerah melalui transfer pengetahuan, pendampingan tenaga kesehatan, serta peningkatan kompetensi sumber daya manusia.

"Melalui jejaring ini, kualitas pelayanan kesehatan diharapkan semakin merata sehingga masyarakat bisa mendapatkan layanan spesialistik yang lebih cepat, lebih dekat, dan lebih berkualitas," ujar Ardiansyah.

Lebih lanjut, Ardiansyah menekankan bahwa kemampuan tenaga medis dan fasilitas kesehatan di Indonesia, termasuk di Kalimantan Timur, sejatinya telah mampu menangani berbagai tindakan medis terkait penyakit jantung. Karena itu, ia berharap masyarakat tidak lagi merasa harus mencari pengobatan ke luar negeri.

"Sesungguhnya kita memiliki kemampuan untuk melakukan berbagai tindakan medis terkait jantung. Tidak perlu selalu berpikir harus ke luar negeri seperti Penang atau Singapura. Dari berbagai informasi yang saya peroleh dari pasien yang pernah berobat ke sana, kualitas layanan medis yang kita miliki sebenarnya tidak jauh berbeda," katanya.

Menurut Ardiansyah, tantangan utama yang masih perlu dibenahi adalah aspek pelayanan kepada masyarakat. Ia mengajak seluruh insan kesehatan untuk mengubah pola pikir pelayanan agar masyarakat merasa nyaman dan mendapatkan pelayanan yang cepat serta humanis.

"Saya meyakini persoalan utama yang harus kita benahi adalah pelayanan. Mari kita ubah mindset pelayanan sehingga masyarakat benar-benar merasa terlayani dengan baik dan bangga terhadap fasilitas kesehatan yang kita miliki sendiri," tegasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Timur, drnJaya Mualimin mengungkapkan bahwa keluhan masyarakat yang memilih berobat ke luar negeri bukan semata-mata karena keterbatasan teknologi atau fasilitas kesehatan dalam negeri. Menurutnya, persoalan yang sering muncul justru terkait birokrasi pelayanan yang panjang dan waktu tunggu tindakan medis yang masih cukup lama.

"Keluhan masyarakat bukan karena fasilitas kita kalah canggih. Yang sering disampaikan adalah proses pelayanan yang berbelit dan antrean tindakan medis yang terlalu lama. Ini yang harus menjadi perhatian bersama," ujarnya.

Untuk itu, Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Timur mengimbau seluruh pimpinan rumah sakit dan dinas kesehatan kabupaten/kota agar terus melakukan perbaikan tata kelola pelayanan, memangkas birokrasi yang tidak perlu, serta mempercepat respons terhadap kasus-kasus kegawatdaruratan.

Menurut Jaya, penandatanganan PKS Jejaring Pengampuan Kardiovaskular menjadi momentum penting untuk memperkuat sinergi antarfasilitas pelayanan kesehatan dalam menghadirkan layanan jantung yang lebih mudah diakses masyarakat.

Melalui kolaborasi tersebut, pasien di daerah diharapkan dapat memperoleh pelayanan kesehatan yang lebih cepat dan komprehensif tanpa harus dirujuk ke luar daerah atau bahkan ke luar negeri.

Kegiatan ini sekaligus menandai langkah maju RSUD Kudungga dalam pengembangan layanan kardiovaskular melalui pelaksanaan Proctorship Intervensi Non Bedah perdana. Program tersebut menjadi bagian dari upaya peningkatan kompetensi tenaga medis serta penguatan layanan spesialistik di Kutim.(kopi8/kopi13/kopi3)

Memuat tombol bagikan...