Widget Gambar

Ubah Mindset Bisnis, TDA Cetak UMKM Tangguh Lewat KMB Lite 

Ubah Mindset Bisnis, TDA Cetak UMKM Tangguh Lewat KMB Lite 
Kopi 5
Memuat tombol bagikan...

Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman menympaikan sambutan di kegiatan KMB Lite. Foto: Bagus/Pro Kutim

SANGATA – Suasana Ruang Tempudau, Kantor Bupati Kutai Timur (Kutim) pada Sabtu (4/7/2026) mendadak riuh penuh semangat. Puluhan pelaku UMKM, wirausahawan muda, hingga mahasiswa berkumpul dalam acara Kelompok Mentoring Bisnis (KMB) Lite yang diinisiasi oleh Komunitas Tangan Di Atas (TDA) Sangata.

Mengusung tema “Entrepreneur Mindset: Ubah Cara Berpikir, Tingkatkan Cara Berbisnis”, acara ini menjadi momentum penting kolaborasi antara praktisi bisnis dan pemerintah daerah untuk mendongkrak kelas UMKM di Kutim secara menyeluruh.

Ketua Komunitas TDA Sangata, Muhammad Ali, membuka sambutannya dengan sebuah analogi jenaka namun mendalam tentang tiga orang yang memancing di danau. Dua orang di antaranya (si A dan si B) bisa berjalan di atas air dengan mudah untuk mengambil kail dan bekal. Si C, yang merupakan orang biasa, mencoba meniru gerakan luar mereka—menyingkap celana dan mengepakkan tangan—namun langsung tercebur begitu melangkah.

"Si C mengira kuncinya hanya keseimbangan. Padahal, si A dan si B tahu persis di mana letak batu-batu pijakan di dalam danau tersebut," ujar Muhammad Ali disambut tawa peserta.

Ali menegaskan bahwa analogi ini sangat dekat dengan realitas dunia usaha. Banyak orang terjun ke bisnis secara tidak sengaja (by accident), entah karena menjadi korban PHK atau impitan ekonomi. Mereka kemudian hanya meniru bisnis yang sedang viral tanpa tahu "ilmu dan letak batu pijakannya". Akibatnya, banyak bisnis yang hanya bertahan seumur jagung.

"Berbisnis itu ada ilmunya, dan itu jarang diajarkan di sekolah formal. Lewat KMB inilah TDA hadir membawa kurikulum khusus bernama 9 Workshop Series sebagai pembimbing inkubasi agar UMKM bisa naik kelas, mulai dari level Foundation, Growth, hingga Corporate," tambah Ali, yang juga sempat membagikan kisah kegagalannya terdahulu saat jatuh bangun berjualan es kelapa hingga servis komputer sebelum akhirnya sukses setelah bergabung dengan TDA.

Senada dengan Ali, Ketua TDA Wilayah Kalimantan, Abdul Hakim, memaparkan betapa besarnya ekosistem TDA saat ini yang telah tersebar di 117 kabupaten/kota di 5 negara. Di Sangata sendiri, tercatat lebih dari 600 member yang terintegrasi melalui aplikasi TDA Passport, termasuk hasil kolaborasi dengan kampus lokal seperti STAIS dan STIE.

Hakim menekankan bahwa pergerakan TDA didasari oleh 4 Core Values yaitu pertama, silaturahmi dengan memperbanyak jejaring sebagai pembuka pintu rezeki. Kedua, integritas dengan membangun bisnis berkah di atas fondasi kejujuran. Ketiga, berbagi ilmu dan peluang tanpa takut tersaingi (sesuai filosofi Tangan Di Atas). Terkahir berorientasi pada kemajuan dengan selalu haus akan ilmu baru.

"KMB bukan sekadar kelas teori biasa, melainkan inkubator nyata selama tiga bulan ke depan di mana satu mentor akan mendampingi lima pelaku usaha (mentee) secara intensif," jelas Hakim yang juga mengumumkan akan adanya estafet kepemimpinan baru di TDA dalam waktu dekat setelah terpilihnya Presiden TDA 9.0 secara nasional Juni lalu.

Acara ini dibuka secara resmi oleh Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman, dalam sambutan utamanya, Bupati Ardiansyah membagikan kisah hidupnya yang inspiratif sekaligus menyentuh, membuktikan bahwa dirinya telah akrab dengan dunia usaha sejak dini.

Sejak duduk di bangku SD pada tahun 1970-an di pedalaman Mahakam hingga pindah ke Tenggarong, Ardiansyah kecil sudah berjualan kue dan es keliling demi membiayai SPP dan kebutuhan sekolahnya sendiri. Pelabuhan Tenggarong menjadi salah satu saksi bisu keuletannya menjajakan dagangan setiap kali kapal merapat. Saat menginjak bangku SMP dan kuliah di Samarinda, beliau dipercaya menjaga toko bangunan milik kakeknya.

"Dulu waktu mahasiswa, saya sempat mengira kakek saya pelit sekali karena setiap produk yang keluar masuk dan uang sererpih pun harus dicatat detail pakai tulis tangan. Namun sekarang saya sadar, itulah validasi data, prosedur, dan tata cara bisnis yang sangat nyambung dengan prinsip ekonomi modern," kenang Ardiansyah.

Bupati juga menceritakan bagaimana sang istri (Ibu Siti Robiah) memiliki insting wirausaha yang kuat. Mulai dari membantu janda di lingkungan sekitar dengan menyuplai barang dagangan dari Pasar Pagi, mendatangkan kerajinan kulit dari Magetan, hingga memelopori kebangkitan Batik Wakaroros (motif khas suku Basap Kutim) yang kini sukses dipasarkan melalui workshop di kediaman mereka.

Menutup arahannya, Bupati Ardiansyah mengingatkan para peserta KMB Lite untuk peka terhadap lingkungan sekitar (environmental awareness) dan menangkap peluang besar yang ada di Kutim. Beliau menyebutkan pada tanggal 6 Juli 2026 ini, Pemkab akan menerima tim verifikasi faktual untuk Geopark Sangkulirang-Mangkalihat sebagai taman bumi dunia yang menyimpan sejarah peradaban sejak 40.000 tahun lalu.

Di tengah kegalauan dunia menghadapi perubahan iklim (climate change) dan krisis pangan, Kutim dinilai memiliki segalanya untuk mengembangkan ekonomi kreatif dan sektor pangan, salah satunya melalui metode integrated farming (pertanian terpadu) di pekarangan rumah.

"Hukum bekerja dalam Islam itu wajib, namun kita tidak dibebani dengan hasil karena hasil itu sudah diatur oleh Allah. Tugas kita adalah berproses dan memberi manfaat. Jangan pelit berbagi resep atau metode bisnis, karena konsep tangan di atas memberi lebih baik daripada menerima justru akan melipatgandakan bisnis kita," pungkas Bupati sebelum secara resmi membuka program mentoring tersebut.(kopi5/kopi13/kopi7) 

Memuat tombol bagikan...