Widget Gambar

Udara Kutim Buruk, Dinkes Imbau Warga Tak Panik Namun Waspada Bermasker

Udara Kutim Buruk, Dinkes Imbau Warga Tak Panik Namun Waspada Bermasker
kopi12
Memuat tombol bagikan...

Teks foto: Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kutai Timur dr. Yuwana Sri Kurniawati memperbarui informasi kondisi kualitas udara sekaligus mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak udara yang tidak sehat.

SANGATTA - Udara di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) kembali menunjukkan tanda yang patut diwaspadai. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kutim memperbarui informasi mengenai kualitas udara sekaligus kembali mengimbau masyarakat mengurangi paparan udara luar, terutama mereka yang termasuk kelompok rentan.

Data pemeriksaan yang disampaikan Dinkes Kutim mencatat indeks kualitas udara atau Air Quality Index (AQI) mencapai 165 pada Rabu (16/9/2026) pukul 19.05 WITA. Angka tersebut berada dalam kategori tidak sehat. Bahkan gambaran dalam pemantauan The Weather Channel pada Kamis (17/9/2026), indeks kualitas udara di Sangatta tercatat mencapai 209. Berdasarkan skala AQI yang digunakan The Weather Company, angka 201-300 termasuk kategori “Very Unhealthy” atau sangat tidak sehat.

Kedua angka tersebut memang diperoleh dari waktu dan sumber pemantauan yang berbeda. Perbedaan hasil dapat dipengaruhi waktu pengukuran, sumber data, lokasi titik pemantauan, serta metode penghitungan. Namun, keduanya memberikan gambaran yang sama mengenai perlunya kewaspadaan terhadap kondisi udara di Sangatta dan sekitarnya.

Kepala Dinkes Kabupaten Kutim, dr Yuwana Sri Kurniawati, mengatakan masyarakat perlu mengurangi paparan udara luar, terlebih bagi kelompok yang lebih rentan terhadap dampak pencemaran udara.

“Hasil pemeriksaan menunjukkan indeks kualitas udara kita berada di angka 165 atau kategori tidak sehat. Kondisi ini dapat menimbulkan gangguan kesehatan bagi seluruh penduduk, khususnya kelompok sensitif,” ujar dr. Yuwana dalam keterangannya, Kamis (17/9/2026) pagi.

Kelompok sensitif yang dimaksud antara lain anak-anak, lanjut usia (lansia), ibu hamil, serta masyarakat yang memiliki gangguan pernapasan maupun penyakit kardiovaskular. Pada kondisi kualitas udara yang memburuk, paparan dapat memperbesar risiko munculnya sejumlah keluhan kesehatan. Batuk, sesak napas, iritasi mata hingga gangguan pada saluran pernapasan merupakan beberapa gejala yang perlu diperhatikan masyarakat. Karena itu, kewaspadaan tidak hanya diperlukan ketika seseorang mulai merasakan gangguan, tetapi juga melalui upaya mengurangi paparan sejak kondisi udara dinilai tidak sehat.

Dinkes Kutim mengimbau masyarakat membatasi kegiatan di luar ruangan, khususnya kelompok rentan. Aktivitas luar ruangan yang tidak mendesak dianjurkan ditunda ketika kualitas udara memburuk. Bagi warga yang tetap harus beraktivitas di luar rumah, penggunaan masker dengan perlindungan terhadap partikulat, seperti N95, dianjurkan. Apabila masker tersebut tidak tersedia, masyarakat dapat menggunakan masker bedah atau jenis masker lain yang tersedia sebagai perlindungan tambahan.

Dinkes juga menganjurkan masyarakat lebih banyak melakukan kegiatan di dalam ruangan dengan tetap memperhatikan ventilasi dan sirkulasi udara. Langkah tersebut perlu disertai dengan menjaga kondisi tubuh, antara lain memperbanyak konsumsi air putih serta memenuhi kebutuhan gizi seimbang melalui buah dan sayuran. Kewaspadaan juga perlu diiringi deteksi dini. Masyarakat yang mengalami batuk, sesak napas, iritasi mata, nyeri atau rasa tertekan pada dada dianjurkan segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat.

Di sisi lain, Dinkes Kutim mulai mengambil langkah untuk membantu kebutuhan perlindungan masyarakat dengan mendistribusikan persediaan masker yang tersedia. Namun, stok lokal masih terbatas sehingga pembagian dilakukan secara bertahap sembari menunggu tambahan pasokan dari pemerintah pusat.

“Kami sedang membagikan stok masker yang ada karena jumlahnya terbatas, sambil menunggu kiriman (dropping) bantuan dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Mohon doanya agar masker dari Kemenkes segera tiba sehingga bisa langsung kita bagikan secara meluas kepada masyarakat,” ujarnya.

Pembaruan kondisi kualitas udara tersebut menjadi pengingat bagi masyarakat Kutim untuk tidak mengabaikan perubahan kualitas udara. Dengan indeks yang tercatat berada pada kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat berdasarkan dua sumber pemantauan, pengurangan paparan menjadi salah satu langkah yang dapat dilakukan masyarakat sembari menunggu kondisi udara membaik.

Terutama bagi anak-anak, lansia, ibu hamil, serta warga dengan gangguan pernapasan dan penyakit kardiovaskular, pembatasan aktivitas di luar ruangan menjadi bagian penting dari upaya menjaga kesehatan. Masyarakat juga diminta memperhatikan gejala yang muncul dan segera mencari pertolongan medis apabila mengalami keluhan yang mengarah pada gangguan pernapasan atau kesehatan lainnya.

Di tengah udara yang sedang kurang bersahabat itu, kewaspadaan menjadi ikhtiar yang paling sederhana. Tidak perlu panik, tetapi paparan tetap perlu dibatasi, kondisi tubuh diperhatikan, dan informasi mengenai kualitas udara dipantau secara berkala hingga keadaan kembali membaik. (kopi12/kopi4/kopi3)

Memuat tombol bagikan...