Suasana hujan mengguyur Jalan Yos Sudarso, kawasan Teluk Lingga, Sangatta, Kabupaten Kutai Timur, Rabu, 9 September 2026, usai pelaksanaan Salat Istisqa. Foto: Screenshot/Istimewa.
SANGATTA - Langit yang selama beberapa waktu menyimpan mendung tanpa menurunkan hujan, akhirnya pecah di sejumlah kawasan Sangatta, Kabupaten Kutai Timur (Kutim), Rabu, (9/9/2026). Hujan dengan intensitas lebat mengguyur Jalan Yos Sudarso, Jalan Dayung, serta sebagian besar wilayah Kelurahan Teluk Lingga, tidak lama setelah masyarakat dan jajaran Pemkab Kutim melaksanakan Salat Istisqa di Lapangan Kantor Bupati Kutim.
Di tengah kecemasan akan kemarau dan ancaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla), air hujan yang membasahi jalanan dan permukaan tanah itu disambut dengan rasa haru dan syukur. Di Teluk Lingga, hujan turun cukup deras, termasuk di sepanjang koridor Jalan Yos Sudarso yang menjadi salah satu jalur vital di Sangatta Utara.
Pantauan di lapangan juga menunjukkan hujan telah mengguyur kawasan Jalan Dayung. Secara umum, sebagian besar wilayah Kelurahan Teluk Lingga telah menerima hujan. Namun, kondisi cuaca belum sepenuhnya sama di seluruh Sangatta. Di kawasan APT Pranoto, hujan masih turun dalam bentuk rintik-rintik, sedangkan kawasan Bukit Pelangi hingga saat ini belum mendapatkan hujan.

Perbedaan intensitas hujan antarkawasan itu menunjukkan bahwa curah hujan belum merata di seluruh wilayah ibu kota Kabupaten Kutim. Meski demikian, hujan deras yang telah membasahi sejumlah kawasan menjadi penyejuk bagi tanah yang selama masa kemarau berada dalam kondisi kering.
Sebelumnya, Pemkab Kutim bersama masyarakat melaksanakan Salat Istisqa, sebagai ikhtiar spiritual untuk memohon hujan, diprakarsai Kemenag Kutim. Ibadah tersebut diikuti Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), jajaran perangkat daerah, serta ratusan pelajar. Serta tentunya para tokoh agama, alim ulama dan tokoh masyarakat.
Usai mengikuti rangkaian ibadah, Wabup Kutim Mahyunadi mengatakan ikhtiar spiritual tidak sepatutnya berhenti hanya karena hujan belum segera turun secara merata. Menurut dia, Salat Istisqa memiliki tradisi panjang dan pada masa dahulu tidak hanya dilaksanakan dalam satu kali kesempatan.
“Salat istisqa itu pada zaman dulu tidak dilakukan hanya sekali. Dilakukan berkali-kali. Kalau ini belum turun hujan merata dalam waktu dekat, maka kita lakukan lagi salat istisqa,” ujar Mahyunadi.
Pernyataan itu menjadi pengingat bahwa doa, ikhtiar, dan kesabaran berjalan dalam satu hamparan ikhtiar yang tidak selalu berbuah dalam seketika. Bagi pemerintah daerah, permohonan hujan melalui Salat Istisqa bukan hanya peristiwa seremonial keagamaan, melainkan momentum untuk melakukan perenungan dan memperbanyak istigfar.
Mahyunadi juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terpengaruh opini negatif yang berkembang di media sosial mengenai efektivitas doa bersama. Ia menekankan bahwa pelaksanaan Salat Istisqa merupakan momentum penting untuk memperbanyak istigfar dan memohon ampunan kepada Allah Ta'ala.

“Jangan sampai kita baru dua kali sudah dibilang doa tidak terkabul. Insyaallah doa kita terkabul,” tegasnya.
Turunnya hujan di Teluk Lingga, Jalan Yos Sudarso, dan Jalan Dayung kemudian menjadi kabar yang cepat menyebar di tengah masyarakat. Jalanan yang sebelumnya berdebu mulai basah, sementara permukaan tanah kembali menerima air setelah melewati periode cuaca kering.
Namun, Pemkab Kutim meminta masyarakat tidak segera mengendurkan kewaspadaan terhadap ancaman Karhutla. Hujan yang turun di sejumlah titik belum berarti seluruh wilayah Kutim telah terbebas dari risiko kebakaran, terlebih distribusi hujan belum merata hingga ke semua kawasan Sangatta.
Pemerintah daerah mengingatkan masyarakat untuk tetap menjaga lahan dan lingkungan dari potensi munculnya percikan api. Pengalaman kemarau panjang pada 1997 dan 2015 menjadi pengingat bahwa musim kering dapat berlangsung dalam rentang waktu panjang, bahkan bertahan hingga Desember.
Karena itu, hujan yang mulai turun di sebagian Sangatta tetap harus dibaca sebagai penyejuk, bukan alasan untuk lengah. Kewaspadaan terhadap Karhutla tetap diperlukan, terutama pada kawasan yang belum mendapatkan hujan atau hanya menerima curah hujan ringan.
Di sisi lain, terkait wacana pembentukan Peraturan Daerah tentang kearifan lokal mengenai pembakaran lahan terbatas, Mahyunadi kembali menegaskan bahwa kebijakan tersebut belum menjadi kebutuhan mendesak untuk diterapkan di Kutim saat ini. Pemkab Kutim, kata dia, lebih berfokus pada langkah-langkah pencegahan langsung di lapangan.
Siang itu, hujan memang belum turun dengan corak yang sama di seluruh penjuru Sangatta. Di Teluk Lingga dan sejumlah ruas jalan, hujan datang lebih deras. Di kawasan APT Pranoto, ia masih berupa rintik-rintik. Sementara Bukit Pelangi belum menerima hujan. Namun, bagi masyarakat di kawasan yang telah diguyur, air yang jatuh dari langit itu membawa kesejukan setelah hari-hari kering yang diselimuti kekhawatiran. Di atas tanah Sangatta yang mulai basah, doa dan ikhtiar kembali bertemu dalam satu pengharapan. Hujan turun lebih merata di Kabupaten Kutim, kemarau dapat dilalui dengan aman, dan ancaman Karhutla tetap dapat dicegah. (kopi5/kopi13/kopi3)








