Widget Gambar

Vay Farm, Gerakan Social Planner Pangan Kutim

Vay Farm, Gerakan Social Planner Pangan Kutim
Kopi 5
Memuat tombol bagikan...

Ikhvani Wulandari dalam sesi wawancara saat menjadi narasumber Talkshow Peternakan STIPER. Foto: Bagus/Pro Kutim

SANGATTA — Di tengah dominasi sektor pertambangan yang menjadi penyumbang terbesar Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Kutai Timur (Kutim), sebuah gerakan mandiri lahir dari tangan dingin seorang akademisi ekonomi pembangunan. Ikhvani Wulandari, pemilik Vay Farm, hadir membawa warna baru dalam dunia peternakan lokal melalui konsep yang tidak biasa: semi-social planner.

Nama Vay Farm sempat mencuri perhatian publik setelah disebut langsung oleh Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman, sebagai contoh nyata aksi sektor peternakan dalam Talkshow Peternakan Kaya Lahan Miskin Peternak? gelaran panitia mahasiswa Prodi Peternakan STIPER di Ruang Meranti, Kantor Bupati Kutim, Selasa (2/6/2026).

Saat ditemui usai acara, Ikhvani menceritakan awal mula ketertarikannya terjun ke dunia peternakan. Meski tidak memiliki latar belakang pendidikan peternakan, ia mengaku miris melihat struktur ekonomi Kutim yang terlalu bergantung pada sektor yang tidak terbarukan.

"Saya dari Prodi Ekonomi Pembangunan. Di situ kita mempelajari mengapa suatu wilayah bisa berkembang dibanding wilayah lain. Saya miris melihat kenyataan di Kutai Timur, di mana sumbangsih sektor pertambangan ke PDRB sangat besar. Itu tidak sehat karena pertambangan tidak terbarukan," ujar Ikhvani.

Keprihatinan Ikhvani semakin mendalam saat melakukan tinjauan langsung ke lapangan. Ia menemukan fakta bahwa pasokan komoditas peternakan seperti kambing dan ayam, hingga sayur-mayur, mayoritas masih didatangkan dari luar Kutim salah satunya dari Muara Badak. Di sisi lain, para petani lokal enggan memproduksi dalam jumlah besar karena pasar yang sudah telanjur dikuasai pihak luar.

Bergerak dari keresahan tersebut, Ikhvani mendirikan Vay Farm yang berlokasi di Kilometer 4. Proyek yang awalnya dirintis secara mandiri dari skala kecil sejak 2022 ini, kemudian mendapatkan perhatian dan dukungan dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) melalui program B2NW.

Berbeda dengan peternakan konvensional yang murni mengejar keuntungan, Vay Farm beroperasi dengan sistem padat karya yang merangkul masyarakat sekitar.

"Sistem kami tidak profit oriented, melainkan semi-social planner. Kami menggandeng masyarakat untuk ikut bergerak bersama. Vay Farm berfokus pada pemeliharaan indukan untuk menghasilkan DOC (Day Old Chick atau bibit ayam)," jelasnya.

Bibit ayam tersebut kemudian didistribusikan ke masyarakat untuk dibesarkan, lengkap dengan pendampingan intensif mengenai tata cara perawatan dan pemeliharaan yang benar.

"Setelah masa panen tiba, kami melakukan buy back (pembelian kembali) dari masyarakat. Keuntungan Vay Farm didapatkan dari selisih pemotongan biaya DOC saat pembelian kembali tersebut. Jadi, masyarakat sangat terbantu," tambah Ikhvani. Ia menegaskan bahwa operasional saat ini bertindak sebagai prototipe mandiri dan tidak menggunakan dana APBD.

Meskipun saat ini kapasitas produksinya belum sepadan dengan skala industri besar, Ikhvani memiliki visi jangka panjang yang ambisius untuk ketahanan pangan Kutim.

Ke depan, ia berencana menduplikasi sistem kemitraan social planner ini ke komoditas lain seperti peternakan kambing dan sapi, hingga merambah ke sektor pertanian (farming).

Ia melihat potensi serapan pasar yang luar biasa dari perusahaan-perusahaan besar yang beroperasi di Kutim, seperti PT Pama Persada Nusantara (PAMA), yang setiap harinya membutuhkan pasokan pangan dalam jumlah besar untuk karyawannya.

"Impian saya sangat besar. Ke depan bukan cuma ayam, tapi juga ada kambing, sapi, dan sektor farming dengan sistem yang sama. Cita-cita besar saya adalah menjadi jembatan di antara mereka (petani/peternak lokal) dengan pasar industri. Tanah kita sama suburnya, kenapa kita tidak manfaatkan itu?" pungkasnya optimis.(kopi5/kopi13/kopi3) 

Memuat tombol bagikan...