Widget Gambar

Waspada Hantavirus, Dinkes Kutim Ingatkan Risiko Penularan dari Tikus

Waspada Hantavirus, Dinkes Kutim Ingatkan Risiko Penularan dari Tikus
hms3
Memuat tombol bagikan...

Kadinkes Kutim dr Yuwana Sri Kurniawati. Foto: dok Pro Kutim

SANGATTA - Kewaspadaan terhadap penyakit yang bersumber dari lingkungan kembali disuarakan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Kutai Timur (Dinkes Kutim). Di tengah kabar munculnya kasus hantavirus di sejumlah negara yang dilaporkan menyebabkan kematian, otoritas kesehatan daerah mengingatkan masyarakat agar memahami potensi penularan penyakit tersebut sekaligus memperkuat langkah pencegahan di lingkungan tempat tinggal.

Kepala Dinkes Kutim, dr Yuwana Sri Kurniawati, menegaskan bahwa hantavirus sejatinya bukan penyakit baru dalam khazanah ilmu kesehatan. Virus ini telah lama dikenal dalam literatur epidemiologi sebagai patogen (agen penyebab penyakit) yang berasal dari hewan pengerat, khususnya tikus. Namun, munculnya laporan kasus di luar negeri yang berujung fatal membuat kewaspadaan publik perlu kembali ditingkatkan.

“Hantavirus ini sebenarnya sudah lama dikenal. Walaupun secara global dinilai tidak terlalu berbahaya, penyakit ini tetap perlu diwaspadai karena dapat menyebabkan kondisi berat hingga kematian,” ujar dr Yuwana, belum lama ini.

Ia menjelaskan, hantavirus menyebar melalui cairan biologis tikus, baik urine, air liur, maupun kotorannya. Ketika sisa-sisa tersebut mengering, partikel mikroskopisnya dapat bercampur dengan debu di lingkungan sekitar. Debu yang terkontaminasi itu kemudian berpotensi terhirup manusia dan menjadi pintu masuk virus ke dalam tubuh. Fenomena ini, dalam kajian kesehatan lingkungan, dikenal sebagai penularan melalui aerosol (partikel sangat halus yang melayang di udara). Tanpa disadari, aktivitas sehari-hari seperti menyapu ruangan berdebu, membersihkan gudang, atau menata area yang lama tidak digunakan dapat memicu paparan virus jika lokasi tersebut menjadi habitat tikus.

Menurut dr Yuwana, infeksi hantavirus memiliki spektrum dampak yang tidak ringan. Virus tersebut dapat menyerang dua organ vital sekaligus, yakni paru-paru dan ginjal. Jika infeksi berkembang di paru-paru, penderita berisiko mengalami gangguan pernapasan berat hingga gagal napas. Sebaliknya, apabila menyerang ginjal, virus dapat menimbulkan penurunan fungsi ginjal sampai kondisi gagal ginjal.

“Pada kasus yang berat, pasien bisa mengalami sesak napas atau gangguan buang air kecil yang menunjukkan adanya masalah pada ginjal,” jelasnya.

Pada tahap awal, gejala penyakit ini kerap menyerupai infeksi virus pada umumnya. Penderita dapat merasakan demam, tubuh terasa lemah, nyeri otot, serta keluhan mirip influenza. Namun, perjalanan penyakit bisa berkembang lebih serius apabila tidak segera mendapatkan penanganan medis. Karena itu, Dinkes Kutim menempatkan edukasi masyarakat sebagai benteng pertama pencegahan. Upaya tersebut akan diperkuat melalui sosialisasi mengenai pentingnya menjaga sanitasi lingkungan, mengendalikan populasi tikus, serta meningkatkan kesadaran terhadap kebersihan rumah.

“Pencegahan yang paling efektif adalah menjaga sanitasi lingkungan, membersihkan sarang tikus, dan menggunakan masker serta sarung tangan saat membersihkan area yang berdebu,” katanya.

Dalam perspektif kesehatan masyarakat, lingkungan yang kumuh dan sanitasi yang buruk merupakan ruang ideal bagi tikus untuk berkembang biak. Kondisi tersebut menciptakan ekosistem yang memungkinkan berbagai penyakit zoonosis (penyakit yang menular dari hewan ke manusia) berkembang tanpa disadari.

Karena itu, dr Yuwana mengimbau masyarakat agar tidak menganggap remeh kebersihan rumah dan kawasan sekitar. Menutup akses masuk tikus, menjaga kebersihan tempat penyimpanan makanan, serta rutin membersihkan area yang berpotensi menjadi sarang hewan pengerat menjadi langkah preventif yang krusial.

Selain itu, warga juga diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan apabila mengalami demam yang disertai sesak napas atau gangguan buang air kecil, terlebih jika sebelumnya beraktivitas di lingkungan yang banyak terdapat tikus.

Imbauan ini bukan sekadar alarm kewaspadaan, melainkan pengingat bahwa kesehatan lingkungan merupakan benteng pertama perlindungan masyarakat. 

Dalam banyak kasus penyakit menular, upaya sederhana, membersihkan rumah, menjaga sanitasi, dan menekan populasi hama, sering kali menjadi garis pertahanan paling efektif sebelum penyakit berkembang menjadi ancaman yang lebih besar. (*/kopi3)

Memuat tombol bagikan...