Widget Gambar

Nelkeak Sambut Tamu Puncak Lom Plai di Muara Wahau

Nelkeak Sambut Tamu Puncak Lom Plai di Muara Wahau
kopi 14
Memuat tombol bagikan...

Penyambutan tamu di acara Puncak Lom Plai di Desa Nehas Leah Bing. Foto : Nasruddin/Pro Kutim

MUARA WAHAU - Lapangan Desa Nehas Liah Bing, Kecamatan Muara Wahau, Kabupaten Kutai Timur (Kutim), Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) dipenuhi suasana khidmat pada Rabu, (22/4/2026). Di tempat itulah masyarakat adat Dayak Wehea menggelar penyambutan tamu dalam puncak kegiatan Lom Plai melalui ritual adat Nelkeak, sebuah prosesi sakral yang sarat makna kultural dan spiritual.

Kedatangan Asisten Deputi Event Daerah Kementerian Pariwisata Republik Indonesia Reza Pahlevi bersama Wakil Bupati (Wabup) Kutim, Mahyunadi dan Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Kaltim, Ririn Sari Dewi disambut dengan penuh kehangatan oleh masyarakat adat. Rombongan tamu kehormatan itu memasuki area acara dengan diiringi rangkaian ritual yang dipandu tokoh adat Dayak Wehea, Heang Day.

Di tengah kerumunan warga yang memadati lapangan desa, prosesi Nelkeak berlangsung dengan tertib. Gerak-gerik ritual yang dilaksanakan dengan khusyuk menghadirkan suasana yang hening namun sarat penghormatan. Bagi masyarakat Dayak Wehea, Nelkeak bukan semata tata cara penyambutan tamu, melainkan simbol penerimaan yang penuh martabat sekaligus bentuk penghormatan kepada mereka yang datang dari luar wilayah adat.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Wakapolres Kutim Kompol Ahmad Abdullah, Staf Ahli Bupati Kutim Yuriansyah, sejumlah kepala perangkat daerah, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pariwisata Kutim Akhmad Rifanie, Camat Muara Wahau Marlianto, serta tamu undangan lainnya.

Dalam narasi yang dibacakan pembawa acara, dijelaskan bahwa Nelkeak merupakan ungkapan sukacita masyarakat adat Dayak Wehea dalam menyambut kedatangan para tamu di kampung Nehas Liah Bing. Ritual ini mengandung doa yang dipanjatkan kepada roh para leluhur agar segala hal yang kurang baik yang mungkin terbawa dari luar dapat dinetralisir.

Keyakinan tersebut berakar pada pandangan kosmologis masyarakat adat yang memandang hubungan antara manusia, alam, dan leluhur sebagai satu kesatuan harmoni. Karena itu, Nelkeak juga dimaknai sebagai ikhtiar spiritual agar lingkungan masyarakat tetap terjaga dari pengaruh yang tidak diharapkan.

Selain itu, prosesi ini sekaligus menjadi simbol perlindungan bagi para tamu. Harapannya, mereka yang datang diberikan kesehatan, umur panjang, serta membawa keberkahan bagi masyarakat Nehas Liah Bing.

Wabup Kutim, Mahyunadi dalam kesempatan tersebut menyampaikan apresiasi terhadap masyarakat Dayak Wehea yang terus menjaga warisan budaya leluhur. Tradisi seperti Lom Plai, menurutnya, merupakan identitas daerah yang memiliki nilai kearifan lokal tinggi dan patut dilestarikan. Kehadiran Kementerian Pariwisata melalui Asisten Deputi Event Daerah juga dipandang sebagai dukungan nyata terhadap pengembangan potensi wisata budaya di Kutim.

Tradisi Lom Plai, yang menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Dayak Wehea, dinilai memiliki daya tarik tersendiri bagi pengembangan pariwisata berbasis budaya.


Puncak Lomplai bukan semata perayaan adat, melainkan juga momentum untuk memperkenalkan khazanah budaya Dayak Wehea kepada khalayak yang lebih luas. Tradisi ini menjadi penanda bahwa kearifan lokal tetap hidup dan dijaga oleh masyarakat yang mewarisinya.

Di tengah arus modernitas yang kerap menggerus nilai tradisional, ritual seperti Nelkeak hadir sebagai pengingat bahwa identitas budaya tetap dapat dipelihara dengan penuh kehormatan. Dari desa kecil di Muara Wahau itu, denyut kebudayaan Dayak Wehea terus bergema. Menjadi saksi bahwa adat istiadat bukan peninggalan masa lampau yang usang, melainkan pusaka hidup yang terus dirawat generasi demi generasi. (kopi14/kopi3)

Memuat tombol bagikan...