Widget Gambar

Bunda Literasi Kutim Minta Minat Baca Dikenalkan Sejak Dini

Bunda Literasi Kutim Minta Minat Baca Dikenalkan Sejak Dini
hms3
Memuat tombol bagikan...

Teks foto: Bunda Literasi Kutai Timur Siti Robiah Ardiansyah mengajak orang tua mengenalkan buku kepada anak sejak dini melalui Gebyar Literasi Kutai Timur 2026.

SANGATTA - Sebuah kebiasaan besar acap kali bermula dari perkara yang sederhana. Seorang anak membuka buku, membaca beberapa halaman, lalu menemukan satu cerita, pengetahuan, atau pertanyaan baru. Dari kebiasaan kecil semacam itulah minat baca dapat tumbuh dan perlahan menjadi bagian dari keseharian.

Bunda Literasi Kutai Timur (Kutim) Siti Robiah melihat "Gebyar Literasi Kutai Timur 2026" sebagai salah satu ruang untuk menumbuhkan kebiasaan tersebut. Kegiatan yang berlangsung selama 10 hari itu diharapkan tidak hanya mempertemukan masyarakat dengan beragam bahan bacaan, tetapi juga memperluas jangkauan minat baca, terutama di kalangan anak-anak dan generasi muda.

Bagi Siti Robiah, kehadiran berbagai jenis buku memberi kesempatan kepada masyarakat untuk memilih bacaan sesuai kebutuhan dan ketertarikan. Ada buku pengetahuan, cerita bergambar, hingga bacaan yang memuat berbagai informasi bermanfaat.

“Beragam buku ada di sini, mau ilmu pengetahun, cerita bergambar hingga buku-buku yang memiliki informasi yang sangat bermanfaat tersedia, silahkan manfaatkan momen ini,” pinta istri orang nomor satu di Kutim tersebut.

Kegiatan Gebyar Literasi Kutai Timur 2026 diinisiasi oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud), Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip), serta Yayasan YPPSB. Kegiatan tersebut diharapkan menjadi bagian dari upaya memperluas budaya membaca di tengah perubahan cara masyarakat memperoleh informasi.

Perkembangan teknologi membuat bacaan semakin mudah dijangkau. Buku tidak lagi selalu hadir dalam bentuk lembaran kertas. Telepon seluler, tablet, dan komputer juga telah menjadi perangkat yang dapat digunakan untuk membaca dan mengakses pengetahuan. Namun, kemajuan teknologi tidak semestinya menjadi alasan untuk meninggalkan kebiasaan membaca. Justru, menurut Siti Robiah, perkembangan tersebut dapat dimanfaatkan untuk membuka jalan yang lebih lebar menuju berbagai sumber informasi.

Budaya membaca, baik melalui media cetak maupun digital, tetap perlu dibangun dan diperkuat. Teknologi dapat menjadi sarana untuk memperluas akses, sedangkan kebiasaan membaca menjadi bekal bagi masyarakat untuk terus belajar dan mengembangkan diri. Melalui Gebyar Literasi Kutai Timur 2026, masyarakat tidak hanya diajak untuk membaca. Kegiatan tersebut juga menjadi ruang perjumpaan dengan berbagai pengetahuan, gagasan, dan pengalaman yang terkandung dalam bahan bacaan.

Anak-anak dan generasi muda menjadi bagian penting dari upaya itu. Pengenalan terhadap buku sejak dini dinilai dapat membantu memperluas wawasan sekaligus merangsang rasa ingin tahu mereka. Karena itu, Siti Robiah mengajak para orang tua membawa anak-anak mereka mengunjungi kegiatan tersebut. Pendampingan orang tua, menurut dia, dapat membuat aktivitas membaca terasa lebih dekat dengan kehidupan anak.

“Orang tua bisa bawa anaknya kesini, kenalkan mereka dengan buku, karena akan banyak pelajaran yang bisa mereka ajarkan, baik melalui buku cerita maupun buku-buku pengetahuan yang dapat menambah wawasan dan merangsang rasa ingin tahu anak,” ujarnya.

Upaya menumbuhkan minat baca, lanjutnya, bukan tanggung jawab sekolah semata. Keluarga mempunyai peran yang tidak kalah penting karena rumah merupakan salah satu lingkungan pertama tempat anak mengenal kebiasaan. Anak yang terbiasa melihat buku, membaca bersama orang tua, atau mendengarkan cerita sejak usia dini memiliki ruang yang lebih dekat untuk mengenal aktivitas membaca. Kebiasaan itu kemudian dapat dibawa ke sekolah dan lingkungan sosial.

Menurut Siti Robiah, dukungan orang tua menjadi salah satu langkah penting dalam membangun kebiasaan membaca. Dengan demikian, anak tidak hanya mengenal buku ketika berada di bangku sekolah, tetapi dapat menjadikan membaca sebagai bagian dari keseharian.

“Festival ini hadir sebagai jawaban atas tantangan tersebut dengan menyajikan agenda yang edukatif sekaligus menghibur bagi para pengunjung,” katanya saat ditemui awak media.

Membiasakan membaca memang membutuhkan ketekunan. Tidak setiap anak serta-merta tertarik membuka buku. Karena itu, pendekatan yang ramah diperlukan agar membaca tidak terasa sebagai beban, melainkan menjadi kegiatan yang menyenangkan sekaligus memberi ruang bagi anak untuk menemukan hal-hal baru. Di sinilah lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat mempunyai peran yang saling berkelindan. Budaya literasi tidak cukup hanya dibangun di ruang kelas. Ia perlu tumbuh di rumah, berlanjut di sekolah, kemudian memperoleh ruang yang lebih luas di tengah masyarakat.

Gebyar Literasi Kutai Timur 2026 menjadi salah satu ikhtiar untuk mendekatkan bahan bacaan kepada masyarakat. Buku tidak hanya ditempatkan sebagai sumber pengetahuan, tetapi juga sebagai pintu bagi anak untuk mengenal dunia yang lebih luas. Bagi orang tua, momentum tersebut dapat menjadi kesempatan untuk mengenalkan bacaan kepada anak. Bagi generasi muda, beragam buku yang tersedia dapat menjadi jalan untuk memperluas cakrawala. Sementara bagi masyarakat secara umum, kegiatan itu membuka akses terhadap berbagai sumber informasi dan pengetahuan. Pada akhirnya, membangun budaya membaca bukan pekerjaan yang dapat dituntaskan dalam satu kegiatan. Ia memerlukan kebiasaan yang terus dipupuk, dukungan lingkungan, serta keteladanan orang-orang terdekat.

Siti Robiah mengingatkan kembali pentingnya mengenalkan buku kepada anak sejak usia dini. Pesannya sederhana, tetapi menyimpan makna panjang tentang bagaimana pengetahuan dapat diwariskan melalui kebiasaan membaca. Dia menyebut buku adalah jendela dunia, maka dari itu dia memgajak agar para pihak mengenalkan anak-anak pada kebiasaan membaca sejak dini. (*/kopi3)

Memuat tombol bagikan...