Widget Gambar

Geopark Sangkulirang-Mangkalihat, Ikhtiar Kutim Menjaga Warisan Bumi

Geopark Sangkulirang-Mangkalihat, Ikhtiar Kutim Menjaga Warisan Bumi
hms3
Memuat tombol bagikan...

Tim Verifikasi Geopark Nasional mengunjungi Rumah Cagar Budaya Kutim. Foto: Istimewa 

SANGATTA - Kedatangan Tim Verifikasi Geopark Nasional ke Kabupaten Kutai Timur (Kutim) menjadi penanda penting dalam perjalanan panjang kawasan Karst Sangkulirang-Mangkalihat menuju penguatan status sebagai salah satu geopark unggulan Indonesia. Momentum itu tidak hanya dimaknai sebagai tahapan administratif dalam proses penilaian, melainkan juga kesempatan untuk menunjukkan kesungguhan daerah menjaga warisan geologi, keanekaragaman hayati, serta khazanah budaya yang telah tumbuh selama ribuan tahun.

Bagi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutim, keberadaan Geopark Sangkulirang-Mangkalihat menyimpan makna yang jauh melampaui bentang alam. Kawasan ini dipandang sebagai ruang hidup yang menyatukan pelestarian lingkungan dengan pembangunan masyarakat secara berkelanjutan.

Kepala Bidang Penataan Desa Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMDes) Kabupaten Kutim, Padliyansyah, menilai kekuatan sesungguhnya sebuah geopark bukan semata terletak pada keelokan lanskapnya, melainkan pada keterlibatan masyarakat yang hidup di sekitarnya.

"Kedatangan Tim Verifikasi Geopark Nasional ke Kabupaten Kutai Timur merupakan momentum yang sangat penting dalam perjalanan panjang pengakuan kawasan Sangkulirang-Mangkalihat sebagai salah satu geopark unggulan Indonesia. Kehadiran tim verifikasi tidak hanya menjadi bagian dari proses penilaian formal, tetapi juga menjadi kesempatan bagi kita semua untuk menunjukkan komitmen dalam menjaga warisan geologi, keanekaragaman hayati, dan kekayaan budaya yang dimiliki daerah ini," ujarnya, Selasa (7/7/2026).

Sangkulirang-Mangkalihat telah lama dikenal sebagai salah satu kawasan karst terbesar di Indonesia. Hamparan batu gamping (batuan sedimen yang didominasi mineral kalsit) itu menyimpan nilai geologi yang tinggi, dihiasi gua-gua prasejarah dengan lukisan dinding berusia puluhan ribu tahun, sekaligus menjadi habitat beragam flora dan fauna endemik Kalimantan.

Seluruh kekayaan tersebut merupakan anugerah yang harus dijaga sekaligus dimanfaatkan secara arif agar memberikan manfaat nyata bagi kesejahteraan masyarakat.

Padliyansyah menegaskan konsep geopark mengajarkan bahwa pelestarian lingkungan tidak dapat dipisahkan dari peningkatan kesejahteraan masyarakat maupun penguatan jati diri budaya lokal. Dalam kerangka itulah desa menjadi unsur paling strategis. Sebagian besar kawasan penyangga Geopark Sangkulirang-Mangkalihat berada di wilayah pedesaan. Warga desa menjadi pihak yang sehari-hari berinteraksi dengan hutan, sungai, gua, maupun bentang alam karst. Mereka menjaga kelestarian lingkungan, memanfaatkan sumber daya alam secara langsung, merawat adat istiadat, serta mewariskan nilai budaya kepada generasi berikutnya.

Karena itu, menurut dia, keberhasilan pembangunan geopark tidak dapat dipisahkan dari keberhasilan pembangunan desa.

Desa-desa di kawasan tersebut perlu dipersiapkan menjadi desa yang mandiri, produktif, sekaligus berkelanjutan. Pemerintah desa diharapkan memasukkan aspek konservasi lingkungan, pengembangan pariwisata berbasis masyarakat, penguatan ekonomi kreatif, hingga perlindungan budaya lokal ke dalam dokumen perencanaan pembangunan desa. Dana Desa beserta berbagai sumber pembiayaan lainnya dapat diarahkan untuk mendukung berbagai program yang selaras dengan prinsip-prinsip geopark.

Dalam konteks itu, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa, khususnya Bidang Penataan Desa, memegang peranan penting untuk memastikan arah pembangunan desa tetap berjalan seiring dengan visi pengembangan geopark.

Padliyansyah menjelaskan, penataan desa bukan hanya berkaitan dengan pembentukan, pemekaran, ataupun penegasan batas wilayah administrasi. Lebih dari itu, penataan desa menyangkut kemampuan desa mengelola ruang hidupnya secara berkelanjutan agar memberi manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat.

Melalui pendekatan tersebut, beragam potensi desa dapat dipetakan dan dikembangkan secara optimal. Potensi wisata alam, wisata budaya, kuliner tradisional, kerajinan tangan, hingga berbagai produk unggulan desa diyakini mampu menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi baru yang menghadirkan nilai tambah bagi masyarakat setempat.

Penguatan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) juga dinilai menjadi strategi penting dalam pengembangan kawasan geopark. BUMDes dapat mengambil peran sebagai pengelola jasa wisata, memasarkan produk lokal, menyediakan layanan pendukung kegiatan wisata, hingga mengembangkan berbagai usaha produktif berbasis potensi desa. Meski demikian, tantangan yang dihadapi masih cukup besar. Aksesibilitas kawasan, kualitas sumber daya manusia, ketersediaan infrastruktur dasar, serta kesadaran masyarakat terhadap pentingnya konservasi dinilai masih memerlukan penguatan secara berkelanjutan.

Karena itu, Padliyansyah menekankan pentingnya sinergi seluruh pemangku kepentingan. Pemerintah daerah, pemerintah desa, perguruan tinggi, dunia usaha, komunitas masyarakat, hingga lembaga pengelola geopark diharapkan berjalan dalam satu haluan pembangunan. Ia juga mengingatkan bahwa status geopark bukanlah tujuan akhir.

"Kedatangan Tim Verifikasi Geopark Nasional hendaknya dipandang sebagai pemicu semangat untuk terus berbenah. Status geopark bukanlah tujuan akhir, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar dalam mengelola kawasan secara berkelanjutan. Pengakuan nasional bahkan internasional hanya akan bermakna apabila mampu memberikan dampak nyata bagi peningkatan kualitas hidup masyarakat," katanya, di ruang kerjanya.

Dalam rangkaian kunjungan tersebut, Tim Verifikasi Geopark Nasional juga dijadwalkan meninjau Galeri Budaya yang menyajikan informasi serta dokumentasi mengenai warisan budaya kawasan Karst Sangkulirang-Mangkalihat. Galeri itu memperlihatkan berbagai temuan arkeologis dari gua-gua prasejarah, mulai dari lukisan telapak tangan purba, gambar satwa, artefak budaya, hingga penjelasan mengenai kehidupan manusia yang pernah mendiami kawasan tersebut ribuan tahun silam.

Keberadaan galeri budaya dipandang menjadi wahana edukasi yang efektif bagi masyarakat, generasi muda, peneliti, maupun wisatawan untuk memahami nilai sejarah yang tersimpan di kawasan karst tersebut. Dengan meningkatnya pemahaman publik, diharapkan tumbuh kesadaran kolektif untuk menjaga kawasan Sangkulirang-Mangkalihat sebagai warisan yang bernilai bagi Indonesia maupun dunia.

Pengembangan geopark, karena itu, tidak hanya berfokus pada pelestarian bentang alam, tetapi juga menjaga jejak-jejak peradaban yang masih tersimpan di dalam gua-gua prasejarah. Perpaduan antara konservasi alam dan pelestarian budaya menjadi fondasi utama kawasan ini sebagai wilayah yang memiliki arti penting secara geologis, ekologis, sekaligus kultural.

Menutup pandangannya, Padliyansyah menegaskan filosofi yang menjadi roh pengembangan Geopark Sangkulirang-Mangkalihat. "Geopark yang kuat lahir dari desa yang berdaya, masyarakat yang peduli, dan komitmen bersama untuk menjaga warisan bumi bagi masa depan." (*/kopi3)

Memuat tombol bagikan...